BELAJAR AKUNTANSI

AYAT JURNAL PENYESUAIAN

Ayat jurnal penyesuaian (Memorial) adalah jurnal yang dibuat untuk menyesuaikan saldo perkiraan-perkiraan ke saldo yang sebenarnya sampai akhir periode akuntansi, atau untuk memisahkan penghasilan atau biaya dari suatu periode dengan periode yang lain.

 Gambar

Penyesuaian tidak berarti pembetulan dari kesalahan yang terjadi, karena setiap kesalah pada komputer akuntansi dapat langsung dilakukan pada record yang diketahui salah. Penyesuaian merupakan hal yang penting pada sistem periodical system yang dilakukan pada saat penyusunan laporan keuangan. Perpetual system sesungguhnya tetap membutuhkan penyesuaian hanya saja dilakukan dalam waktu yang tidak ditentukan, sehingga banyak yang mengatakan dalam perpetual system tidak dibutuhkan penyesuaian.

Hal-hal yang perlu mendapat penyesuaian  pada akhir periode akuntansi adalah :

  • Persediaan barang dagang (inventory of merchandise)
  • Biaya dibayar di muka (Prepaid expenses)
  • Penghasilan diterima dimuka (accruals receivable)
  • Baya yang masih harus dibayar (Accruals payable)
  • Penyusutan aktiva tetap(depretion of fixes assets)
  • Taksiran piutang tak tertagih

 

Contoh:

Bila kita merima pesanan (Purchase Order) suatu barang dari customer, dengan menerima pembayaran dimuka sesuai aturan tertentu yang ditetapkan misalnya 50%. Cash yang kita terima tersebut adalah bagian dari hutang kita terhadap bayer sejumlah cash yang kita terima. Utang tersebut biasanya dibukukan pada rekening “Pendapatan diterima dimuka”. Pada saat barang yang dipesan sudah kita penuhi bagian piutang akan mencatat sejumlah total invoice padahal piutang seharusnya adalah sebesar 50% dan pedapatan diterima dimuka seharus menjadi 0 (Nol). Pada saat ini diperlukan jurnal memorial untuk menghapus pembayaran dimuka dengan mendebet hutang(pendapat diterima dikumka)  dan mengkredit piutang. Dalam kasus ini kami membuat memorial kredit yang secara automatis membuat ayat jurnal memorial yang mengkredit piutang dan mendebet penadapan diterima dimuka.

Dalam menangani Jurnal Penyesuaian Saya menggunakan 3 form elektronik :

  • Memorial Debet : Form untuk membuat memorial yang secara automatis akan mengupdate buku utang, membuat jurnal memorial yang akan mendebet Hutang Dagang dan mengktedit biaya dibayar dimuka.  (terhubung ke data supplier)
  • Memorial Kredit  :  Form untuk membuat memorial debet yag secara utomatis mengupdate buku piutang, membuat jurnal memorial yang akan mendebet Pendapatan diterima dimuka dan mengktedit Piutang Dagang. (terhubung ke data customer)
  • Serba serbi : Form ini tidak terhubung dengan buku transaksi contoh : penyesuaian persediaan.

 

Prosedure pembuatan ayat penyesuaian

PERSEDIAAN BARANG DAGANG

memakai perkiraan harga pokok (cost of good sold)

Harga pokok penjualan

Rp.x.xxx

 

      Persediaan barang dagang (awal)

 

Rp.x.xxx

Harga pokok penjualan

Rp.x.xxx

 

      Pembelian

 

Rp.x.xxx

Harga pokok penjualan

Rp.x.xxx

 

      Ongkos angkut pembelian

 

Rp.x.xxx

Persediaan barang dagang  (akhir)

Rp.x.xxx

 

      Harga pokok penjualan

 

Rp.x.xxx

Pembelian retur & potongan harga

Rp.x.xxx

 

      Harga pokok penjualan

 

Rp.x.xxx

 

Memakai perkiraan Ikhtisar Laba Rugi

Ikhtisar Laba Rugi

Rp.x.xxx

 

     Persediaan barang dagang awal

 

Rp.x.xxx

Persediaan Barang dagang akhir

Rp.x.xxx

 

     Ikhtisar Laba Rugi

 

Rp.x.xxx

 

PERSEDIAAN AKHIR

JIKA SALDO SEMENTARA <  STOCK OPNAME

Persediaan/barang dalam proses

Rp.x.xxx

 

Koreksi pemakaian bahan

 

Rp.x.xxx

 

JIKA SALDO SEMENTARA > STOCK OPNAME

Koreksi pemakaian bahan

Rp.x.xxx

 

Persediaan/barang dalam proses 

 

Rp.x.xxx

 

BIAYA DIBAYAR DI MUKA

Bila saat pembayaran dibukukan sebagai biaya dibayar di muka

Biaya ….

Rp.x.xxx

 

     …… dibayar di muka

 

Rp.x.xxx

 Bila saat pembayaran dibukukan sebagai biaya

…… dibayar di muka

Rp.x.xxx

 

       Biaya ….

 

Rp.x.xxx

 

PENGHASILAN DITERIMA DIMUKA

Bila saat penerimaan dicatat sebagai utang

…….  Diterima dimuka

Rp.x.xxx

 

         Pendapatan …….

 

Rp.x.xxx

 

bila saat penerimaan dicatat sebagai pendapatan

Pendapatan …………..

Rp.x.xxx

 

      Diterima dimuka

 

Rp.x.xxx

 

Piutang penghasilan

Penghasilan ymh diterima

Rp.x.xxx

 

      Pendapatan

 

Rp.x.xxx

 

BIAYA YANG MASIH HARUS DIBAYAR

Biaya …..

Rp.x.xxx

 

      …… biaya ymh dibayar

 

Rp.x.xxx

 

PENYUSUTAN AKTIVA TETAP

Biaya penyusutan

Rp.x.xxx

 

      Akumulasi penyusutan

 

Rp.x.xxx

 

PIUTANG DIRAGUKAN (TIDAK SEHAT)

PEMBAGIAN LABA

A. PADA WAKTU DITETAPKAN

Debet

- Sisa Laba Rugi

Rp.x.xxx

 

Kredit

- Laba dibagi

 

Rp.x.xxx

B. PADA WAKTU DIBAYAR

Debet

- Laba dibagi

Rp.x.xxx

 

Kredit

- Kas atau bank

 

Rp.x.xxx

 

Sumber : http://zulidamel.wordpress.com/2007/12/03/ayat-jurnal-penyesuaian/

Untuk Sharing Belajar Akuntansi di Universitas Terbuka silakan kirim email ke ikatanalumniut.21@gmail.com atau jetriwiyanto@yahoo.co.id

 

MATERI TUTORIAL ONLINE

AKUNTANSI BIAYA

EKMA 4315

 

MATERI 1

METODE HARGA POKOK PESANAN

Perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan mengolah bahan baku menjadi produk jadi berdasarkan pesanan dari luar atau dari dalam perusahaan. Karakteristik usaha perusahaan tersebut adalah sebagai berikut:

1.Proses pengolahan produk terjadi secara terputus-putus. Jika pesanan yang satu selesai dikerjakan, proses produksi dihentikan dan mulai dengan pesanan berikutnya.

2.Produk dihasilkan sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan oleh pemesan. Dengan demikian antara pemesan yang satu dengan yang lainnya mempunyai variasi yang berbeda-beda.

3.Produksi ditujukan untuk memenuhi pesanan, bukan untuk memenuhi persediaan gudang.

Karakteristik  Metode Harga Pokok Pesanan.

Karakteristik usaha perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan tersebut di atas berpengaruh terhadap pengumpulan biaya produksinya. Metode pengumpulan biaya produksi (metode harga pokok pesanan) yang digunakan dalam perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan adalah sebagai berikut:

1.Digunakan jika perusahaan memproduksi berbagai macam produk sesuai dengan spesifikasi pemesan dan setiap jenis produk perlu dihitung harga pokoknya secara individual.

2.Biaya produksi harus dipisahkan menjadi dua golongan pokok : biaya produksi langsung dan biaya produksi tak langsung.

3.Biaya produksi langsung terdiri dsri biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung, sedangkan biaya produksi tak langsung disebut dengan istilah biaya overhead pabrik(BOP)

4.Biaya produksi langsung diperhitungkan sebagai harga pokok pesanan tertentu  berdasarkan biaya yang sesungguhnya terjadi, sedangkan  biaya overhead pabrik diperhitungkan kedalam harga pokok pesanan berdasarkan tarif yang ditentukan dimuka.

5.Harga pokok per unit produk dihitung pada saat pesanan selesai diproduksi dengan cara membagi jumlah biaya produksi yang dikeluarkan untuk pesanan tersebut dengan jumlah unit produk yang dihasilkan dalam pesanan yang bersangkutan.

Rekening Kontrol Dan Rekening Pembantu.

Akuntansi biaya menggunakan banyak rekening pembantu untuk merinci biaya-biaya produksi. Rekening rekening pembantu  (subsidiary accounts) ini dikontrol ketelitiannya dengan menggunakan rekening  kontrol (controlling accont) di dalam buku besar. Rekening kontrol menampung catatan yang bersumber dari buku jurnal, sedangkan rekening pembantu digunakan untuk menampung catatan yang bersumber dari dokumen pembukuan. Hubungan antara rekening kontrol dan rekening pembantu dapat lah dilukiskan sebagai berikut.

Gambar 1

Rekening Kontrol dan Rekening Pembantu

Untuk mencatat biaya didalam akuntansi biaya digunakan rekening kontrol dan rekening pembantu berikut:

Rekening Kontrol

Rekening Pembantu

Persediaan Bahan Baku

Persediaan Bahan Penolong

Barang Dalam Proses

Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya

Biaya Administrasi Dan Umum

Biaya Pemasaran

 

Kartu Persediaan

Kartu Persediaan

Kartu Harga Pokok

Kartu Biaya

Kartu Biaya

Kartu Biaya

 

Karena transaksi terjadinya biaya yang dicatat dalam buku besar bersumber dari buku jurnal, maka dalam melaksanakan identifikasi transaksi yang terjadi, harus ditunjuk nama rekening yang harus didebit dan dikredit dalam buku besar. Oleh karena itu penggolongan transaksi pada waktu membuat jurnal selalu menyebut nama rekening yang bersangkutan dalam buku besar. Karena akuntansi biaya menggunakan berbagai rekening kontrol seperti tersebut di atas maka setiap melakukan penjurnalan harus ditunjuk rekening kontrol yang bersangkutan dalam buku besar.

Untuk mencatat biaya produksi , di dalam buku besar dibentuk rekening kontrol Barang Dalam Proses. Rekening ini dapat dipecah lebih lanjut menurut elemen harga pokok produk sehingga ada tiga macam rekening Barang Dalam Proses berikut ini:

Barang Dalam Proses-Biaya Bahan Baku

Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Langsung

Barang Dalam Proses- Biaya Overhead Pabrik

Jika produk diolah melalui beberapa departemen produksi, rekening Barang Dalam Proses dapat dirinci lebih lanjut menurut departemen dan unsur harga pokok seperti contoh berikut ini:

Barang Dalam Proses-Biaya Bahan Baku Departemen A

Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Langsung Departemen A

Barang Dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik Departemen A

Barang Dalam Proses-Biaya Bahan Baku Departemen B

Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Langsung Departemen B

Barang Dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik Departemen B

Untuk mencatat biaya produksi, dalam buku besar dibentuk rekening kontrol Biaya Administrasi Umum dan Biaya Pemasaran. Rekening Biaya Pemasaran digunakan untuk menampung biaya-biaya yang terjadi dalam fungsi pemasaran, sedangkan rekening Biaya Administrasi dan Umum digunakan untuk menampung biaya-biaya administrasi dan umum. Misalkan Anda mencatat pemakaian bahan baku untuk pembuatan suatu produk, maka jurnal yang dibuat adalah:

Barang Dalam Proses                              xx

Persediaan Bahan Baku                              xx

Jurnal untuk mencatat biaya depresiasi gedung:

Biaya Overhead Pabrik Sesunguhnya       xx

Akumulasi Depresiasi Gedung                     xx

Jurnal untuk mencatat biaya telex:

Biaya Administrasi dan Umum            xx

Kas                                                              xx

Jurnal untuk mencatat biaya depresiasi kendaraan yang digunakan bagian pemasaran:

Biaya Pemasaran                                   xx

Akumulasi Depresiasi Kendaraan               xx

Kartu Harga Pokok

Kartu harga pokok merupakan catatan yang penting di dalam metode harga pokok pesanan. Kartu harga pokok ini berfungsi sebagai rekening pembantu, yang digunakan untuk mengumpulkan biaya produksi tiap pesanan produk. Biaya produksi untuk mengerjakan pesanan tertentu dicatat secara terinci di dalam kartu harga pokok pesanan bersangkutan. Biaya produksi dipisahkan menjadi produksi langsung terhadap pesanan tertentu dengan biaya produksi tak langsung, dalam hubungannya dengan pesanan tersebut. Biaya produksi langsung dicatat dalam kartu harga pokok pesanan yang bersangkutan secara langsung, sedangkan biaya produksi tidak langsung dicatat dalam kartu harga pokok berdasarkan suatu tarif tertentu.

Untuk menggambarkan penggunaan metode harga pokok pesanan mari pelajari contoh berikut:

PT Eliona berusaha dalam bidang percetakan. Semua pesana diproduksi berdasarkan spesifikasi dari pemesan, dan biaya produksi dikumpulkan menurut pesanan yang diterima. Untuk dapat mencatat biaya produksi, tiap pesanan diberi nomor, dan setiap bukti pembukuan diberi identitas nomor pesanan yang bersangkutan. Dalam bulan Nov 2002 PT Eliona mendapat pesanan untuk mencetak undangan sebanyak 1500 lembar dari PT Rimendi. Harga yang dibebankan kepada pemesan tersebut adalah Rp 3000,- per lembar. Dalam bulan yang sama perusahaan juga menerima pesanan untuk mencetak pamflet iklan sebanyak 20.000 lembar dari PT Oki dengan harga yang dibebankan kepada pemesan sebesar Rp 1000,- per lembar . Pesanan dari PT Rimendi diberi nomor 101 dan pesanan dari PT Oki diberi nomor 102. Berikut ini adalah kegiatan produksi dan kegiatan lain untuk memenuhi pesanan tersebut.

1.Pembelian bahan baku dan bahan penolong pada tanggal 3 Nov  perusahaan membeli bahan baku dan bahan penolong berikut ini :

Bahan baku:

Kertas jenis x         85 rim              a Rp    10.000,-          Rp    850.000,-

Kertas jenis y         10 roll              a Rp  350.000,-          Rp 3.500.000,-

Tinta jenis A            5 kg               a  Rp  100.000,-          Rp   500.000,-

Tinta jenis B          25 kg                a Rp    25.000,-          Rp   625.000,-

———————

Jumlah bahan baku yang dibeli                                        Rp5.475.000,-

———————

Bahan Penolong:

Bahan Penolong P      17 kg         a RP 10.000,-              Rp 170.000,-

Bahan Penolong Q      60 liter      a Rp   5.000,-              Rp 300.000,-

———————

Jumlah bahan penolong yang dibeli                                 Rp 470.000,-

——————–

Jumlah total                                                                      Rp 5.945.000,-

——————–

Perusahaan menggunakan dua rekening kontrol untuk mencatat persediaan bahan yaitu Persediaan Bahan Baku dan Persediaan Bahan Penolong, sehingga jurnal untuk mencatat pembelian bahan adalah :

Jurnal 1:

Persediaan Bahan Baku                      Rp 5.475.000,-

Utang Dagang                                                         Rp 5.475.000,-

Jurnal 2:

Persediaan Bahan Penolong               Rp 470.000,-

Utang Dagang                                                         Rp 470.000,-

Untuk memproses pesanan no. 101 dan 102 bahan baku yang digunakan adalah sebagai berikut:

Bahan baku untuk pesanan no 101:

Kertas jenis x       85 rim        a Rp 10.000,-          Rp  850.000,-

Tinta jenis A          5 kg         a  Rp 100.000,-        Rp 500.000,-

——————-

Jumlah bahan baku untuk pesanan 101                  Rp1.350.000,-

——————

Bahan baku untuk pesanan 102:

Kertas jenis y       10 roll         a RP 350.000,-      Rp 3.500.000,-

Tinta jenis B         25 kg          a Rp  25.000,-       Rp    625.000,-

——————-

Jumlah bahan baku untuk pesanan no 102            Rp 4.125.000,-

——————

Jumlah bahan baku yang dipakai                          Rp 5.475.000,-

Sedangkan bahan penolong yang terpakai untuk memproses dua pesanan tersebut adalah sebagai berikut:

Bahan penolong P       10 kg       a Rp 10,000,-              Rp 100.000,-

Bahan penolong Q       40 ltr       a Rp   5.000,-              Rp 200.000,-

——————

Jumlah bahan penolong yang dipakai dalam produksi   Rp 300.000,-

Jurnal untuk mencatat pemakaian bahan baku adalah sebagai berikut:

Jurnal 3:

Barang Dalam Proses                        Rp 5.475.000,-

Persediaan Bahan Baku                                           Rp 5.475.000,-

Dan jurnal untuk mencatat pemakaian bahan penolong adalah sebagai berikut:

Jurnal 4:

Biaya Overhead Pbrik Sesungguhnya     Rp 300.000,-

Persediaan Bahan Penolong                                    Rp 300.000,-

Dari contoh di atas misalnya biaya tenaga kerja yang dikeluarkan oleh departemen produksi adalah sebagai berikut:

Upah langsung pesanan no 101 225 jam a Rp 4.000,-                           Rp     900.000,-

Upah langsung pesanan no 102 1.250 jam a Rp 4.000,-                        Rp  5.000.000,-

Upah tidak langsung                                                                               Rp  3.000.000,-

——————–

Jumlah upah                                                                                            Rp  8.900.000,-

Gaji karyawan Administrasi dan umum                Rp  4.000.000,-

Gaji karyawan bagian pemasaran                          Rp  7.500.000,-

——————-

Jumlah gaji                                                                                             Rp 11.500.000,-

——————–

Jumlah biaya tenaga kerja                                                                      Rp 20.400.000,-

Pencatatan biaya tenaga kerja dilakukan melalui 3 tahap berikut ini:

a.Pencatatan biaya tenaga kerja yang terutang oleh perusahaan.

Jurnal 5:

Gaji dan Upah                              Rp 20.400.000,-

Utang Gaji dan Upah                                           Rp 20.400.000,-

b.Pencatatan distribusi biaya tenaga kerja.

Jurnal 6:

Barang Dalam Proses                  Rp 5.900.000,-

BOP Sesungguhnya                     Rp 3.000.000,-

Biaya Administrasi dan Umum    Rp 4.000.000,-

Biaya Pemasaran                         Rp 7.500.000,-

Gaji dan Upah                                                    Rp 20.400.000,-

c.Pencatatan pembayaran gaji dan upah.

Jurnal 7:

Utang Gaji dan Upah                  Rp 20.400.000,-

Kas                                                                     Rp 20.400.000,-

Dari contoh diatas misalnya BOP dibebankan kepada produk atas dasar tarif sebesar 150% dari biaya tenaga kerja langsung. Dengan demikian BOP yang dibebankan kepada tiap pesanan dihitung sebagai berikut:

Pesanan no 101  150% x  Rp  900.000,-             Rp 1.350.000,-

Pesanan no 102  150% x  Rp 5.000.000,-           Rp 7.500.000,-

———————

Jumlah BOP yang dibebankan                            Rp 8.850.000,-

Jurnal untuk mencatat pembebanan biaya overhead pabrik kepada pesanan tersebut adalah sebagai berikut:

Jurnal 8:

Barang Dalam Proses                         Rp 8.850.000,-

BOP yang dibebankan                                          Rp 8.850.000,-

Misalkan dari contoh diatas BOP sesungguhnya terjadi ( selain biaya bahan penolong Rp 300.000,- dan biaya tenaga kerja tak langsung sebesar Rp 3.000.000,- ) adalah:

Biaya depresiasi mesin                              Rp 1.500.000,-

Biaya depresiasi gedung pabrik                 Rp 2.000.000,-

Biaya asuransi gedung pabrik dan mesin   Rp   700.000,-

Biaya pemeliharaan mesin                         Rp 1.000.000,-

Biaya pemeliharaan gedung                       Rp    500.000,-

——————-

Jumlah                                                        Rp 5.700.000,-

Pertanyaan untuk diskusi.

1.Bagaimana jurnal untuk mencatat BOP sesungguhnya?

2.Berapa selisih BOP? Menguntungkan apa tidak?

3.Jika pada akhir pereode pesanan no 101 selesai bagaimana jurnalnya?

4.Ternyata sampai akhir periode pesanan no 102 belum selesai jurnalnya bagaimana?

MATERI 2

BIAYA OVERHEAD PABRIK

Di dalam perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan, biaya overhead pabrik adalah biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya-biaya produksi yang termasuk dalam biaya overhead pabrik dapat dikelompokkan menurut sifatnya, menurut perilaku dalam hubungannya dengan perubahan volume produksi dan menurut hubungannya dengan departemen –departemen yang ada dalam pabrik.

Penggolongan Biaya Overhead Pabrik Menurut Sifatnya.

BOP menurut sifatnya dapat digolongkan sebagai berikut:

1.Biaya bahan penolong.

2.Biaya reparasi dan pemeliharaan.

3.Biaya tenaga kerja tak langsung.

4.Beban biaya yang timbul sebagai akibat penilaian terhadap aktiva tetap.

5.Beban biaya yang timbul sebagai akibat berlalunya waktu.

6.BOP lain yang secara langsung memerlukan pengeluaran uang tunai.

Penggolongan BOP menurut perilaku dalam hubungannya dengan perubahan volume produksi.

Ditinjau dari perilaku unsur-unsur BOP dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan, BOP dapat dibagi menjadi tiga golongan: BOP tetap, BOP variabel dan BOP semivariabel. Untuk keperluan penentuan tarif BOP dan untuk pengendalian biaya, BOP yang bersifat semivariabel dipecah menjadi dua unsur: biaya tetap dan biaya variabel.

Penggolongan BOP menurut hubungannya dengan departemen-departemen yang ada dalam pabrik.

Ditinjau dari hubungannya dengan departemen-departemen yang ada dalam pabrik, BOP dapat digolongkan menjadi dua kelompok: BOP langsung departemen (direct departemental overhead expenses) dan BOP tak langsung (indirect departemental overhead expenses)

Alasan Pembebanan BOP Produk Atas Dsar Tarif Yang Ditentukan Di Muka.

Alasan pembebanan BOP kepada produk atas dasar tarif di muka adalah sebagai berikut:

1.Pembebanan BOP atas dasar biaya yang sesungguhnya terjadi seringkali mengakibatkan berubah-ubahnya harga pokok yang dihasilkan dari bulan yang satu kebulan yang lain.Apabila BOP yang sesungguhnya terjadi dibebankan kepada produk maka harga pokok persatuan mungkin akan berfluktuasi karena:

a.adanya perubahan tingkat kegiatan produksi yang bersifat sementara.

b.adanya perubahan tingkat efisiensi produksi.

c.adanya BOP yang terjadinya secara sporadik, menyebar tidak merata selama setahun.

d.BOP tertentu sering terjadi secara teratur pada waktu-waktu tertentu.

2.Di dalam perusahaan yang menghitung harga pokok produknya dengan menggunakan metode harga pokok pesanan, manajemen memerlukan informasi harga pokok produk persatuan pada saat pesanan selesai dikerjakan. Padahal ada elemen BOP yang baru dapat diketahui pada akhir setiap bulan, atau akhir tahun.

Langkah-langkah Penentuan Tarif BOP.

Penentuan tarif BOP dilaksanakan melalui tiga tahap berikut ini:

1)      menyusun anggaran BOP

2)      memilih dasar pembebanan BOP kepada produk

3)      menghitung tarif BOP.

Menyusun Anggaran BOP

Dalam menyusun anggaran BOP harus diperhatikan tingkat kegiatan ( kapasitas ) yang akan dipergunakan sebagai dasar penaksiran BOP. Ada tiga macam kapasitas yang dapat dipakai sebagai dasar pembuatan anggaran BOP: kapasitas praktis, kapasitas normal dan kapasitas sesungguhnya yang diharapkan. Penentuan kapasitas praktis dan kapasitas normal dapat dilakukan dengan menentukan lebih dulu kapasitas teoritis.

Kapasitas teoritis (theoritical capacity) adalah kapasitas pabrik atau suatu departemen untuk menghasilkan produk pada kecepatan penuh tanpa berhenti selama jangka waktu tertentu. Kapasitas praktis adalah kapasitas teoritis dikurangi dengan kerugian-kerugian waktu yang tidak dapat dihindari karena hambatan-hambatan intern perusahaan. Kapasitas normal (normal capacity) adalah kemampuan perusahaan untuk memproduksi dan menjual produknya dalam jangka panjang. Kapasitas sesungguhnya yang diharapkan (expected actual capacity) adalah kapasitas sesungguhnya yang diperkirakan akan dapat dicapai dalam tahun yang akan datang.

Kelemahan penggunaan kapasitas sesungguhnya.

a.Akan berakibat terjadinya perbedaan yang besar pada tarif BOP dari tahun ke tahun.

b.Sebagai akibat perubahan yang besar pada tarif BOP dari periode ke periode maka biaya-biaya akibat adanya fasilitas menganggur dikapitalisasikan dan diperhitungkan dalam harga pokok produk.

Memilih Dasar Pembebanan BOP.

Ada berbagai macam dasar yang dapat dipakai untuk membebankan BOP kepada produk antara lain adalah:

Satuan produk

Biaya bahan baku

Biaya tenaga kerja langsung

Jam tenaga kerja langsung dan

Jam mesin.

Faktor yang harus dipertimbangkan dalam memilih dasar pembebanan yang dipakai:

1.Jenis BOP yang dominan jumlahnya dalam departemen. Produksi.

2.Sifat-sifat BOP yang dominan tersebutdan eratnya hubungan sifat-sifat tersebut dengan  dasar pembebanan yang akan dipakai.

Pembebanan BOP Kepada Produk , Pengumpulan BOP Sesungguhnya Dan Analisis Selisih BOP.

Contoh Soal.

PT Elionasari memiliki kapasitas normal 80.000 jam mesin.Anggaran BOP satu tahun adalah BOP variabel Rp 5.800.000,- dan BOP tetap Rp 5.400.000,- sehingga dapat dihitung tarif BOP variabel adal Rp 5.800.000,- : 80.000 jam mesin = Rp 72,50 per jam mesin. Tarif BOP tetap Rp 5.400.000,- : 80.000 jam mesin = Rp 67,50 per jam mesin.Jadi tarif BOP total adalah Rp 72,50 + Rp 67,50 = Rp 140,00 per jam mesin. PT Elionasari menerima 100 macam pesanan dan menghabiskan waktu pengejaan 75.000 jam mesin.dalam sertahun maka BOP yang dibebankan kepada produk adalah Rp 140,00 x 75.000 jam mesin = Rp 10.500.000,-. Maka jurnalnya adalah:

Barang Dalam Proses-BOP             Rp 10.500.000,-

BOP yang dibebankan                                             Rp 10.500.000,-

Misalnya dalam tahun tersebut BOP yang sesungguhnya terjadi adalah Rp 10.700.000,- yang terdiri dari BOP variabel Rp 5.300.000,- dan BOP tetap Rp 5.400.000,- sehingga selisih BOP adalah Rp 200.000,-( Rp10.700.000,- – Rp 10.500.000,-).

BOP kurang dibebankan Rp 200.000,- dapat dipecah ke dalam dua macam selisih sebagai berikut:

1Selisih Anggaran.(Budget variance)

Selisih anggaran (budget atau spending variance) menunjukkan perbedaan antara biaya yang seharusnya dikeluarkan atau terjadi dengan taksiran biaya yang seharusnya dikeluarkan menurut anggaran. Selisih anggaran dihitung sebagai berikut:

BOP sesungguhnya                                            Rp 10.700.000,-

BOP tetap menurut anggaran                             RP   5.400.000,-

———————–

BOP variabel sesungguhnya                              Rp   5.300.000,-

BOP yang dibebankan (75.000 x Rp72,50 )      Rp   5.437.500,-

————————

Selisih anggaran                    Rp     137.500,- ( L)

2. Selisih Kapasitas ( Idle Capacity Variance)

Selisih kapasitas disebabkan karena tidak dipakainya atau dilampauinya kapasitas yang dianggarkan.Jumlah selisih kapasitas merupakan perbedaan antara BOP tetap yang dianggarkan dengan BOP tetap yang dibebankan kepada produk. Selisih kapasitas dapat dihitung sebagai berikut:

BOP tetap yang dianggarkan                            Rp 5.400.000,-

BOP tetap yang dibebankan kepada

Produk 75000 x Rp 67,50                               Rp 5.062.500,-

_______________

Selisih kapasitas             Rp    337.500,-

Pertanyaan : hitunglah selisih budget dan selisih kapasitas dengan cara lain.

 

 

 

 

Materi 3

Langkah –Langkah Penentuan Tarif

Biaya Overhead Pabrik (BOP) Per Departemen.

Langkah-langkah penentuan tariff BOP per departemen adalah sebagai berikut:

1.  penyusunan anggaran BOP per departemen

2.  alokasi BOP departemen pembantu ke departemen produksi

Ada dua macam metode alokasi BOP departemen pembantu yakni:

a)      metode alokasi langsung;

b)      metode alokasi bertahap, yang terdiri dari:

metode alokasi kontinyu,

metode aljabar,

metode urutan alokasi yang diatur.

3. perhitungan tariff pembebanan tariff BOP per departemen.

Penyusunan anggaran BOP per departemen dibagi menjadi empat tahap yakni:

  1. penaksiran BOP langsung departemen atas dasar kapasitas yang direncanakan untuk tahun anggaran.
  2. penaksiran BOP tak langsung departemen.
  3. distribusi BOP tak langsung departemen ke departemen-departemen yang menikmati manfaatnya.
  4. menjumlah BOP per departemen (baik BOP langsung maupun tak langsung departemen) untuk mendapatkan anggaran BOP per departemen (baik departemen produksi maupun departemen pembantu.

Contoh-contoh biaya tak langsung departemen dan dasar distribusi

 Biaya tak langsung departemen                                     dasar distribusi

Biaya depresiasi gedung                                                  meter persegi luas lantai

Biaya reparasi dan pemeliharaan gedung                        meter persegi luas lantai

Gaji pengawas departemen                                              jumlah karyawan

Biaya angkut bahan baku                                                 biaya bahan baku

Pajak bumi dan bangunan (PBB)                                     perbandingan harga pokok

aktiva tetap dalam tiap

departemen atau perbandingan

                                                                                         meter persegi luas lantai

Metode Alokasi Langsung

Dalam metode alokasi langsung BOP departemen pembantu dialokasikan ke tiap-tiap departemen produksi yang menikmatinya. Metode alokasi langsung digunakan apabila jasa yang dihasilkan oleh departemen pembantu hanya dinikmati oleh departemen produksi saja.

Contoh

PT Eliona Sari mengolah produknya melalui dua departemen produksi, yakni

Deptermen A dan Departemen B,

ditunjang oleh tiga departemen pembantu,: Departemen X, Departemen Y, dan Departemen Z.

Anggaran BOP per departemen untuk tahun 2003 adalah :

Departemen A Rp 2.175.000

Departemen B Rp 2.620.000

Departemen X Rp    771.000

Departemen Y Rp 1.445.000

Departemen Z Rp    369.000

jumlah Rp 7.380.000

Taksiran jasa departemen pembantu yang dipakai oleh departemen produksi dalam tahun 2003 tampak dalam tabel berikut ini:

Taksiran Pemakaian Jasa Departemen Pembantu

Oleh Departemen Produksi

PT. Eliona Sari

Taksiran Jasa Departemen-departemen Pembantu yang dipakai oleh

Departemen Produksi

Departemen Pembantu                       Departemen Produksi A     Departemen Produksi B

Departemen Pembantu X                              60%                                   40%

Departemen Pembantu Y                              45%                                   55%

Departemen Pembantu Z                               75%                                   25%

Dari data diatas maka dapat dilakukan alokasi BOP dari dept pembantu ke dept produksi sebagai berikut:

PT Eliona Sari

Alokasi BOP Departemen Pembantu ke Dapartemen Produksi

Keterangan

Departemen Produksi

Departemen Pembantu

A

B

X

Y

Z

(rupiah)

(rupiah)

(rupiah)

(rupiah)

(rupiah)

Jumlah BOP

2.175.000

2.620.000

771.000

1.445.000 

369.000

Alokasi BOP Dept. Z

  276.750

92.250

(369.000)

Alokasi BOP Dept. Y

650.250

794.750

(1.445.000)

Alokasi BOP Dept. X

462.600

308.400

(771.000)

Jumlah Alokasi

1.389.600

1.195.400

0

0

0

Jumlah BOP Dept. Produksi setelah menerima alokasi BOP dari Dept. Pembantu

3.564.600

3.815.400

Cara menghitung alokasi BOP departemen Z ke departemen A dan B sebagai berikut:

276.750 diperoleh dari 75% X 369.000

92.250 diperoleh dari  25% X 369.000

selanjutnya silahkan anda menghitung sendiri, dan jika masih kurang jelas bisa bertanya melalui forum tanya jawab.

Metode Alokasi Aljabar.

Dalam metode alokasi aljabar, jumlah biaya tiap-tiap departemen pembantu dinyatakan dalam persamaan aljabar.

Contoh

BOP langsung dan tak langsung departemen-departemen pembantu dan produksi selama tahun 2003 anggarannya diperkirakan sebagai berikut:

Departemen Produksi

Departemen A     Rp 9.000.000

Departemen B     Rp15.000.000

Departemen Pembantu

Departemen X      Rp3.000.000

Departemen Y      Rp5.000.000

Jasa yang dihasilkan departemen pembantu dibagikan menurut proporsi sebagai berikut:

Jasa Departemen

Dipakai

Departemen Pembantu

Departemen Produksi

X

Y

A

B

Jasa Dept. X

-

10%

65%

25%

Jasa Dept. Y

20

-

45%

35%

Dari contoh diatas, misalkan:

X = jumlah biaya dept X setelah menerima alokasi biaya dari dept Y.

Y = jumlah biaya dept Y setelah menerima alokasi biaya dari dept X

Sehingga diperoleh persamaan

X = 3.000.000 + 0,20Y

Y = 5.000.000 + 0,10X

Dua persamaan tersebut dapat diselesaikan lebih lanjut sebagai berikut:

X =3.000.000 + 0,20Y

X = 3.000.000 + 0,20 (5.000.000 + 0,10X)

X = 3.000.000 + 1.000.000 + 0,02X

X – 0,02 X  = 3.000.000 + 1.000.000

0,98 X  = 4.000.000

X = 4.000.000 / 0,98 = 4.081.633

Y   =  5.000.000  +  0,10 X

=  5.000.000  +  408.163

Y  =  5.408.163

Sehingga alokasi BOP dept pembantu ke dept produksi dilakukan seperti berikut ini:

Departemen Pembantu                  Departemen Produksi

_____________________________________________________

                                       Departemen X  Departemen Y   Departemen A     Departemen B

BOP langsung dan

Tak langsung

Dept                               Rp3.000.000     Rp5.000.000      Rp9.000.000       Rp15.000.000

Alokasi BOP

Dept X                          (Rp4.081.633)    Rp  408.163       Rp2.653.061       Rp1.020.408

Alokasi BOP

Dept Y                             Rp1.081.632   (Rp5.408.163)     Rp2.433.673      Rp1.892.857

______________________________________________________

Jumlah                             Rp       0            Rp       0             Rp14.086.734    Rp17.913.265

===========    =========      ===========   ==========

Perhitungan:

2.653.061 = 65% x 4.081.633

1.020.408 = 25% x 4.081.633

2.433.673 = 45% x 5.408.163

1.892.857 = 35% x 5.408.163

Selebihnya silahkan Anda menghitung sendiri, selamat bekerja.

MATERI 4

BIAYA BAHAN BAKU DAN BIAYA TENAGA KERJA.

Sistem pembelian lokal bahan baku.

Transaksi pembelian bahan baku melibatkan bagian-bagian produksi, gudang, pembelian, penerimaan barang dan akuntansi. Bukti-bukti pembukuan yang dibuat dalam transaksi pembelian lokal bahan baku adalah: surat permintaan pembelian, surat order pembelian, laporan penerimaan barang dan faktur dari penjualan. Sistem pembelian lokal bahan baku terdiri dari:

1.Prosedur permintaan pembelian bahan baku

2.Prosedur order pembelian .

3.Prosedur penerimaan bahan baku.

4.Prosedur pencatatan penerimaan bahan baku di bagian gudang.

5. Prosedur pencatatan utang yang timbul dari pembelian bahan baku.

Biaya yang diperhitungkan dalam harga pokok bahan baku yang dibeli.

Biaya angkutan diperlakukan sebagai tambahan harga pokok bahan baku yang dibeli.

  1. Perbandingan kuantitas tiap jenis bahan baku yang dibeli.

Contoh :

Perusahaan membeli 3 macam bahan baku denganjumlah harga dalam faktur sebesar Rp500.000,00.Biaya angkutan yang dibayar untuk ketiga macam bahan baku tersebut adalah sebesar Rp300.000,00. Kuantitas masing-masing jenis bahan baku yang tercantum dalam faktur adalh bahan baku A = 400 kg; bahan baku B = 350 kg; bahan baku C = 50 kg; Pembagian biaya angkutan kepada tiap-tiap jenis bahan baku adalah sebagai berikut:

Berat                              Alokasi

_______________________            biaya angkutan

%

____________           __________________

Jenis                                             kg             (1) : 800                     (2) x Rp 300.000,00

Bahan Baku                                                   ____________           _________________

(1)                        (2)                                   (3)

_____________                         ________      ___________           __________________

A                                              400                50,00                     Rp 150.000,00

B                                              350                 43,75                     Rp 131.250,00

C                                                50                    6,25                    Rp    18.750,00

________     ___________            _________________

                                                       800                 100,00                   Rp 300.000,00

b.Perbandingan harga faktur tiap jenis bahan baku yang dibeli.

Contoh:

Perusahaan membeli 4 macam bahan baku dengan harga faktur tiap-tiap jenis bahan sebagai berikut: bahan baku A Rp 100.000, bahan baku B Rp 150.000, bahan baku C Rp 225.000, dan bahan baku D Rp 125.000. Biaya angkutan yang dikeluarkan untuk keempat jenis bahan baku tersebut, adalah sebesar Rp 48.000. Jika biaya angkutan tersebut dibagikan atas dasar perbandingan harga faktur tiap-tiap jenis bahan baku tersebut, harga pokok tiap jenis bahan baku akan dibebani dengan tambahan biaya angkutan sebesar Rp 0,08  ( Rp 48.000 : Rp 600.000). Pembagian biaya angkutan sebesar Rp 48.000 tersebut adalah sebagai berikut:

===============================================================

Pembagian Biaya      Harga Pokok

Angkutan                  Bahan Baku

______________      ______________

Harga Faktur              ( 1 ) x Rp 0,08

______________

Jenis Bahan Baku                  ( 1 )                             ( 2 )                         ( 1 ) + ( 2 )

_______________          ___________             ______________       ______________

A                              Rp 100.000                 Rp    8.000                  Rp 108.000

B                               Rp 150.000                 Rp  12.000                  Rp 162.000

C                               Rp 225.000                 Rp   18.000                 Rp 243.000

D                               Rp 125.000                 Rp   10.000                 Rp 135.000

___________            ______________       _______________

Rp 600.000                 Rp   48.000                 Rp 648.000

===============================================================

c.Biaya angkutan diperhitungkan dalam harga pokok bahan baku yang dibeli  berdasarkan tarif yang ditentukan dimuka.

Jurnal untuk mencatata pembebanan biaya angkutan atas dasar tarif dan biaya angkutan yang sesungguhnya terjadi adalah sebagai berikut:

1.Pembebanan biaya angkutan kepada bahan baku yang dibeli atas dasar tarif yang ditentukan dimuka adalah sebagai berikut:

Persediaan bahan baku                                                   xx

(Tarif biaya angkutan x dasar pembebanan)

Biaya angkutan                                                               xx

2.Pencatatan biaya angkutan yang sesungguhnya dikeluarkan adalah sebagai berikut:

Biaya angkutan                       xx

Kas                                           xx

3.Jurnal apabila terdapat selisih biaya angkutan yang dibebankan atas dasar tarif dengan biaya angkutan yang sesungguhnya:

Persediaan bahan baku                                      xx

Persediaan bahan dalam proses                         xx

Persediaan produk jadi                                      xx

Harga pokok penjualan                                     xx

Biaya angkutan                                                       xx

Elemen Biaya yang diperhitungkan dalam harga pokok bahan baku yang diimpor.

Dalam perdagangan luar negeri , harga barang yang disetujui bersama antara pembeli dan penjual akan mempengaruhi biaya-biaya yang menjadi tanggungan pembelian bahan baku . Bahan baku dapat diimpor dengan syarat harga free alongside ship (FAS), free on board (FOB), cost and freight (C & F), atau cost insurance and freight ( C. I & F ).Pada harga C & F pembeli menanggung biaya asuransi laut , penjual menanggung biaya angkutan lautnya. Pada harga C. I & F, pembeli hanya menanggung biaya-biaya untuk mengeluarkan bahan baku dari pelabuhan pembeli, dan biaya-biaya lain sampai dengan barang tersebut diterima digudang pembeli. Dalam harga C.I & F biaya angkutan laut beserta asuransi lautnya sudah diperhitungkan oleh penjual dalam harga barang.

Harga pokok bahan baku yang diimpor terdiri dari:

Harga  FOB                                               Rp xx

Angkutan laut ( ocean freight )                        xx

_____

Harga C & F                                              Rp xx

Biaya asuransi (marine insurance)                  xx

______

Harga C. I & F                                           Rp xx

Biaya-biaya bank                                            xx

Bea masuk dan biaya pabean lainnya             xx

Pajak penjualan impor                                    xx

Biaya gudang                                                  xx

Biaya ekspedisi muatan kapal laut                  xx

Biaya transport local                                       xx

_______

Harga pokok bahan baku                          Rp xx

Penentuan Harga Pokok Bahan Baku.

MATERI 5

METODE HARGA POKOK PROSES

I.                    metode harga pokok proses diolah melalui lebih dan satu departemen produksi.

Contoh:

PT. elina sari memiliki dua departemen produksi : departemen A dan departemen B, untuk menghasilkan produksinya, data produksi dan biaya produksi kedua departmen tersebut untuk bulan September 2004 adalah sebagai berikut:

Dep A                          Dep B

Dimasukan dalam proses                                                     35.000

Produk selesai yg di transfer ke dep.B                                 300.000

Produk selesai yg di transfer ke gol                                                             24.000

Produk dalam proses akhir bulan                                          5.000                           6.000

Biaya yg dikeluarkan bulan Sept.2004

Biaya bahan baku                                                         70.000                        ———

Biaya tenaga kerja                                                        155.000                      170.000

Biaya overhead pabrik                                                  248.000                      405.000

Tuigkul penyelesaian produk

Dalam proses akhir

Biaya bahan baku                                                         100%

Biaya konversi                                                  20%                              30%

  1. perhitungan harga pokok produk di departemen A. untuk menghitung harga pokok produk selesai dep. A yg di transfer ke dep. B dan harga pokok produk dalam proses di dep. A pada akhir bulan Sept.2004 perlu dilakukan perhitungan biaya persatuan yang dikeluarkan oleh dep.A dlm bulan Ybs.

Untuk menghitung biaya persatuan yg di keluarkan oleh dep.A tersebut, perlu di hitung unit yg equivalensi tiap biaya produksi dep.A dalam bulan Sept.2004 dengan cara sebagai berikut:

    1. biaya bahan baku.
  • unit yang equivalensi : ( 30.000) + ( 5.000×100%) = 35.000

produk yg ditransfer ke Dep.B             = 30.000

produk dalam proses    5000×100%  =  5.000

_________

35.000

  • biaya per unit = 70.000 : 35.000 = 2
    •     unit equivalent :
    1. biaya konversi

produk yang ditransfer ke Dpe.B     =   30.000

produk dalam proses   5.000 x 20% = 1.000

_____

31.000

biaya TEK per unit = 155.000 : 31.000 = 5

biaya overhead pabrik = 248.000 : 31.000 = 8

setelah biaya per unit dihitung, harga pokok produk selesai yang ditransfer oleh Dep.A ke Dep.B dan harga pokok produk dlm proses di Dep.A pada akhir bulan Sep.2004 dapat di hitung SBB :

HP. Produk selesai yang

Ditransfer ke Dep.B : 30.000x 15                                          = 450.000

HP. Modul dalam proses akhir

B.BB = 100% x 5.000 x 2 = 10.000

B.TK =   20% x 5.000 x 5 =  5.000

B.OP =   20% x 5.000 x 8 = 8.000

———–

=  23.000

jual biaya produksi Dep.A bulan Spe.2004                                  473.000

dari perhitungan di atas dapat di buat laporan biaya produksi seperti berikut:

PT. Elina Sari

Laporan biaya produksi Dep.A

                                                Bulan Sep.04

Data produksi

Dimasukan dalam proses                                                          35.000 unit

Produk jadi yang di transfer ke gudang                          30.000 unit

Produk dalam proses akhir                                                        5.000 unit

Jual produk yang di hasilkan                                       35.000 unit

Biaya yg di bebaskan Dep.A

Dalam bulan Sep.04

Total                            Per Unit

Biaya bahan baku                              70.000                              2

Biaya tenaga kerja                             155.000                             5

Biaya overhead pabrik                       248.000                             8

473.000                             15

perhitungan biaya

harga pokok produk jadi yang di transfer

ke Dep.B = 30.000 x 15                                              = 450.000

HP. Produk dalam proses akhir

Biaya bahan baku        = 10.000

Biaya tenaga kerja       =  5.000

Biaya overhead pabrik  =  8.000

=  23.000

jual biaya produk yg baku Dep.A                                     473.000

 

A. jurnal pencatatan biaya produksi departemen A

1. BDP – biaya bahan baku Dep. A    rp.70.000

persediaan bahan baku             rp. 70.000

( ul mencatat biaya bahan baku )

2. BDP – biaya tenaga kerja Dep.A    rp.155.000

gaji dan upah                                        rp. 155.000

( ul mencatat biaya tenaga kerja )

3. BDP – biaya overhead pabrik Dep.A  rp. 248.000

berbagai rekening yg di kredit   rp. 248.000

( ul mencatat BOP )

4.       BDP – biaya bahan baku Dep.B      rp. 23

BDP – biaya bahan baku Dep.A

BDP – biaya tenaga kerja Dep.A

BDP – biaya overhead pabrik Dep. A

( ul mencatat HP produk yg ditransfer ke Dep.B )

5. persediaan produk dlm proses – Dep. A  rp. 23.000

BDP – biaya bahan baku Dep. A                      rp. 10.000

BDP – biaya tenaga kerja Dep.A                      rp.  5.000

BDP – biaya overhead pabrik Dep.A                rp.  8.000

( ul mencatat produk dalam proses yg belum selesai oleh Dep.A )

 

B. perhitungan kerja pokok produk di Dep.B

a. menghitung unit equivalensi

biaya tenaga kerja = 24.000+ ( 50%x 6.000 ) = 27.000

biaya overhead pabrik = 24.000+ ( 50%x 6.000) = 27.000

biaya per unit = BTK = 270.000: 27.000 = 10

BOP = 405.000: 27.000 = 15

b. menghitung HP. Produk yang ditransfer ke gudang dan HP. Produk dalam        proses Dep;B yg belum selesai.

HP produk selesai yg di transfer ke gudang :

Harga pokok dari Dep.A = 24.000x 15                     = 360.000

Biaya yg di tambahkan Dep.B = 24.000x 25  = 600.000

Jual HP produk jadi yg di transfer

Ke gudang = 24.000 x 40                                             = 960.000

Harga pokok produk dlm proses akhir

HP: dari Dep.A   6.000x 15                           rp.90.000

Biaya yg di tambahkan Dep.B

BTK = 50%x 6.000 x 10 = 30.000

BOP = 50% x 6000x 15 = 45.000

Rp.75.000

Total HP produk dlm proses Dep.B                              = 165.000

Jual biaya produksi komulatif Dep.B                             = 1.125.000

II.                pengaruh terjadinya produk hilang pada awal proses terhadap perhitungan harga pokok produk persatuan.

Contoh :

PT. Elina Sari memiliki dua departemen produksi untuk menghasilkan. produknya, Dep. A dan Dep.B, data produksi dan biaya produk kedua departemen tersebut untuk bulan januari 2004 adalah SBB:

________________________________________________________________________

Dep.A                          Dep.B

Produk yg dimasukan dalam proses                                          1000kg

Produk selesai ditransfer

Dep.B                                                                            700kg

Gudang                                                                                                              400kg

Produk dlm penyelesaian akhir dua tingkat

Penyelesaian SBB :

Biaya bahan baku dan penolong

200% , biaya konversi 40%                                          200kg

biaya bahan penolong 60%

biaya konversi 50%                                                                                            100kg

produk hilang awal proses                                                         100kg                            200kg

data biaya produksi selama bulan januari 2004 adalah SBB:

Dep.A                          Dep.B

Biaya bahan baku                                                                     22.500

Biaya bahan penolong                                                               26.100                         16.100

Biaya tenaga kerja                                                                    35.100                         22.500

Biaya overhead pabrik                                                  46.800                         24.750

Jual biaya produksi                                                              130.000                         63.350

Perhitungan harga pokok produk di Dep.A

Menghitung unit dan equivalensi

Jenis biaya                    unit equivalensi              biaya produksi              biaya per kg

B. bahan baku        700+(100%x200) = 900                Rp22.500                                25

B . B penolong      700+(100%x200) = 900                 Rp26.100                                 29

B. TK                     700+( 40%x200) = 780                Rp35.100                                 45

B. OP                     700+(40%x200) = 780                 Rp46.800                                   60

                                                                                    Rp130.500                               159

B. perhitungan HP produk selesai yg di transfer ke Dep.B dan produk dalam proses akhir        Dep.A

Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke

Departemen B : 700 x Rp 159                                                           Rp 111.300

Harga pokok produk dalam proses akhir bulan

( 200 kg )

biaya bahan baku

200kg x 100%x Rp 25 = Rp5.000

biaya bahan penolong

200kg x 100% x Rp29 = Rp5.800

biaya tenaga kerja

200kg x 40% x Rp 45 =  Rp 3600

biaya overhead pabrik

200kg x 40% x Rp 60 =  Rp 4.800

Rp    19.200

Jumlah biaya produksi departemen A                                     Rp  130.500

Selanjutnya laporan biaya produksi Dep.A dan jurnal- jurnal yang diperlukan silahkan Anda buat sendiri dengan mengacu pada contoh yang ada di depan.

PRODUK HILANG PADA AWAL PROSES DI DEPARTEMEN SETELAH DEPARTEMEN PERTAMA

Produk yang hilang pada awal proses yang terjadi di departemen setelah departemen pertama mempunyai dua akibat terhadap ( 1 ) harga pokok per satuan produk yang berasal dari departemen sebelumnya dan ( 2 ) harga pokok per satuan yang ditambahkan dalam departemen dimana produk yang hilang tersebut terjadi. Penyesuaian perhitungan harga pokok  per Kg produk yang berasal dari dept. A dihitung sebagai berikut.

Harga pokok per satuan produk yang berasal

Dari departemen A Rp. 111.300 : 700              Rp. 159,00

Harga pokok per satuan produk yang berasal dari

Departemen A setelah adanya produk

Yang hilang dalam proses di Departemen B

Sebanyak 200 Kg adalah Rp.111.300:

( 700 Kg – 200 Kg)                                                     Rp.222,60

penyesuaian harga pokok per satuan produk

yang berasal dari departemen A                                    Rp.  63,60

perhitungan harga pokok produk per satuan yang ditambahkan di departemen B adalah sebagai berikut :

jumlah produk yang                  jumlah biaya                             biaya per Kg

dihasilkan oleh Dept. B produksi yang                           yang ditambah

( unit ekuivalensi )                     ditambahkan di                         kan Dept. B

Dept. B

________________                ______________                    ____________

jenis biaya                    1                                              2                                              2:1

_________      ________________                ______________                    ____________

biaya bahan      400Kg+60%x100Kg               Rp.16.100                                Rp. 35

Penolong          = 460 Kg

Biaya tenaga     400 Kg+50%x100Kg              Rp.22.500                                Rp. 50

Kerja               = 450 Kg

Biaya over        400 Kg+50%x100Kg              Rp. 24.750                               Rp. 55

Head pabrik     = 450 Kg

Rp. 63.350                               Rp.140

Perhitungan harga pokok produk selesai yang ditransfer ke gudang dan produk yang masih dalam proses pada akhir bulan dalah sebagai berikut

Harga pokok produk selesai yang di transfer

Ke gudang 400 Kg @ Rp. 362,60                                                        Rp. 145.040,00

Harga pokok produk dalam proses akhir bulan ( 100 Kg )

Harga pokok dari Dept. A

100 Kg x Rp. 222,60                           Rp. 22.260,00

biaya bahan penolong

100 Kg x 60% x Rp. 35                       Rp    2.100,00

biaya tenaga kerja

100 Kg x 50% x Rp. 50                       Rp.   2.500,00

biaya overhead pabrik

100 Kg x 50% x Rp 55                        Rp    2.750,00

Rp    29.610,00

Rp  174.650,00

MATERI 6

Metode Harga Pokok Proses Tanpa Memperhitungkan

Persediaan Produk dalam Proses Awal

Metode Harga Pokok Proses Produk Diolah Melalui Lebih Dari Satu Departemen Produksi.

Jika produk diolah melalui dua departemen produksi maka yang pertama kita lakukan menghitung harga pokok produksi di departemen pertama yang nanti akan saya jelaskan cara menghitungnya. Setelah kita dapat kan harga pokok produksi di departemen pertama baru kita menghitung harga pokok di departemen ke dua.

Perhitungan biaya produksi di departemen ke dua adalah perhitungan yang bersifat komulatif. Karena produk jadi di departemen dua merupakan produk yang telah menyerap biaya dari departemen satu dan biaya departemen dua., sehingga harga pokok yang dihasilkan oleh departemen dua terdiri dari :

1.      Biaya produksi yang dibawa dari departemen satu.

2.      Biaya produksi yang ditambahkan dalam departemen dua

Contoh.

PT Eliona Sari memiliki dua departemen produksi : Departemen I dan Departemen II, untuk menghasilkan produknya. Data produksi dan biaya produksi kedua departemen tersebut untuk bulan April  2005 adalah sebagai berikut:

                                                                            Departemen I         Departemen II

Dimasukkan dalam proses                                   35.000 kg

Produk selasai yang ditransfer ke Dep.II             30.000 kg

Produk selesai yang ditransfer ke gudang                                          24.000 kg

Produk dalam proses akhir bulan                           5.000 kg                 6.000 kg

Biaya yang dikeluarkan bulan April 2005:

Biaya bahan baku                                            Rp  70.000                     -

Biaya tenaga kerja                                           Rp 155.000            Rp 270.000

Biaya overhead pabrik                                    Rp 248.000             Rp 405.000

Tingkat penyelesaian produk dalam

proses akhir :

Biaya bahan baku                                                  100%

    Biaya konversi                                                         20%                      50%

Perhitungan Harga Pokok Produk di Departemen I

Untuk menghitung harga pokok langkah yang kita lakukan adalah:

1.      Menghitung unit ekuivalensi biaya produksi yaitu unit ekuivalensi bahan baku, unit ekuivalensi biaya tenaga kerja dan unit ekuivalensi biaya overhead pabrik.

2.      Setelah unit ekuivalensi kita ketahui selanjutnya menghitung biaya produksi per unit.

3.      Jika biaya per unit sudah kita dapatkan maka kita dapat menghitung harga pokok produk jadi yang ditransfer ke Departemen II dan menghitung harga pokok produk dalam proses akhir.

.Menghitung unit ekuivalensi.

a.Unit ekuivalensi bahan baku, terdiri dari produk yang ditransfer ke Dep II adalah 30.000 ditambah produk dalam proses akhir 5000 dengan tingkat penyelesaian bahan baku 100% yaitu 5000 x 100% sehingga bisa dihitung sebagai berikut:

Unit ek bahan baku = 30.000 + ( 5000 x 100% ) = 35.000

b.Unit ekuivalensi biaya tenaga kerja, biaya konversi meliputi biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik sehingga sekali kita menghitung kita dapatkan dua unit ekuivalensi yaitu unit ekuivalensi biaya tenaga kerja dan unit ekuivalensi biaya overhead pabrik. Cara menghitungnya adalah produkjadi 30.000 ditambah produk dalam proses akhir 5000 dengan tingkat penyelesaian 20% yaitu ( 5000 x 20%) = 1000 sehingga dapat dihitung sebagai berikut: 30.000 + ( 5000 x 20% ) = 31.000

Setelah unit ekuivalensi kita hitung selanjutnya kita hitung harga pokok perunit sebagai berikut:

Elemen                                                                      Unit                           Biaya

Biaya Produksi                     Total Biaya                   Ekuivalensi               per kg

      ( 1 )                                    ( 2 )                               ( 3 )                         ( 2 ) : ( 3 )

Bahan Baku                           Rp  70.000                    35.000                      RP 2

Tenaga Kerja                         Rp 155.000                   31.000                      Rp 5

Overhead Pabrik                    Rp 248.000                   31.000                      Rp 8

Total                                       Rp 473.000                                                   Rp 15

                                              ==========                                               ======

Setelah biaya per unit dihitung , kita dapat menghitung harga pokok produk jadi yang ditransfer ke Dep II dan harga pokok produk dalam proses akhir sebagai berikut:

Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke Dep II:

30.000 x Rp 15                                    Rp 450.000

Harga pokok produk dalam proses akhir:

BBB: 5000 x 100% x Rp 2  = Rp 10.000

BTK: 5000 x  20%  x Rp 5  = Rp   5.000

BOP: 5000  x  20%  x Rp 8 =  Rp  8.000

—————–

Rp   23.000

—————–

Jumlah biaya produksi Dep I bulan April 2005                Rp 473.000

Catatan:

BBB= Biaya Bahan Baku

BTK= Biaya Tenaga Kerja

BOP= Biaya Overhead Pabrik

Perhitungan tadi kemudian disajikan dalam laporan biaya produksi seperti berikut:

PT Eliona Sari

Laporan Biaya Produksi Departemen I

Bulan April 2005

Data Produksi

Dimasukkan dalam proses                                                                    35.000 kg

————-

Produk jadi yang ditransfer ke Dep II                                                  30.000 kg

Produk dalam proses akhir                                                                      5.000 kg

————–

Jumlah produk yang dihasilkan                                                             35.000 kg

========

Biaya yang dibebankan Departemen I bulan April 2005

Total                       Per kg

——————           ————

Biaya Bahan Baku                                                         Rp     70.000                Rp  2

Biaya Tenaga Kerja                                                       Rp   155.000                Rp  5

Biaya Overhead                                                              Rp   248.000                Rp 8

——————           ————

Rp   473.000                Rp 15

===========           =======

Perhitungan Biaya

Harga pokok produk jadi yang ditransfer ke Dep II

30.000 kg  @  Rp 15                                                                        Rp 450.000

Harga pokok produk dalam proses akhir:

Biaya Bahan Baku                                 Rp 10.000

Biaya Tenaga Kerja                               Rp   5.000

Biaya Overhead Pabrik                          Rp   8.000

—————-

Rp    23.000

—————-

Jumlah biaya produksi yang dubebankan Dep I bln April                Rp  473.000

                                                                                                          ===========

Jurnal Pencatatan Biaya Produksi Departemen I          

Untuk mencatata biaya yang terjadi dalam Departemen I dalam bulan April 2005 jurnal yang harus dibuat adalah sebagai berikut:

1 Jurnal untuk mencatat biaya bahan baku:

BDP – Biaya Bahan Baku dep I                   Rp 70.000

Persediaan Bahan Baku                                           Rp  70.000

2. Jurnal untuk mencatat biaya tenaga kerja

BDP – Biaya Tenaga Kerja Dep I              Rp 155.000

Gaji dan Upah                                                      Rp 155.000

3.Jurnal untuk mencatat biaya overhead pabrik

BDP – Biaya Overhead Pabrik Dep I            Rp 248.000

Berbagai Rekening yang Dikredit                          Rp 248.000

4.Jurnal untuk mencatat harga pokok produk jadi yang ditransfer dari Dep I ke Dep II

BDP – Biaya Bahan Baku Dep II                   Rp 450.000

BDP-Biaya Bahan Baku Dep I                                  Rp   60.000

BDP-Biaya Tenaga Kerja Dep I                                Rp 150.000

BDP-Biaya Overhead Pabrik Dep I                          Rp 240.000

Catatan

60.000 diperoleh dari 30.000 kg x Rp 2

150.000 diperoleh dari 30.000 kg x Rp 5

240.000 diperoleh dari 30.000 kg x Rp 8

5.Jurnal untuk mencatat harga pokok produk dalam proses akhir bulan April Dep I

Persediaan Produk Dalam Proses Dep I                     Rp 23.000

BDP-Biaya Bahan Baku Dep I                                              Rp 10.000

BDP-Biaya Tenaga Kerja Dep I                                            Rp   5.000

BDP-Biaya Overhead Pabrik Dep I                                       Rp   8.000

Perhitungan Harga Pokok di Departemen II

Di Departemen II ini tidak ada pengeluaran biaya bahan baku, yang ada biaya tenega kerja (BTK) dan biaya overhead pabrik (BOP). Disini harga pokok yang dibawa dari Dep I merupakan biaya bahan baku Dep II.Unit ekuivalensi yang perlu dihitung hanya unit ekuivalensi biaya biaya konversi yang meliputi BTK dan BOP.

Perhitungan unit ekuivalensi.

Unit yang ditransfer ke gudang 24000 ditambah persediaan produk dal;am proses akhir 6000 dengan tingkat penyelesaian 50% ( 6000 x 50% ) sebagai berikut:

24000 + ( 6000 x 50% ) = 24000 + 3000 = 27000.

Selanjutnya perhitungan biaya per unit adalah sebagai berikut:

Elemen Biaya Prod                Total Biaya                 Unit Ekuivalensi       Biaya per Kg

——————————-     ————————-    ——————–       —————-

Tenaga Kerja                         Rp 270.000                     27.000                      Rp 10

Overhead Pabrik                    Rp 405.000                     27.000                      Rp 15

———————–                                       ————-

 Total                                       Rp 675.000                                                   Rp 25

Setelah biaya per unit kita hitung selanjutnya kita hitung harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang dan harga pokok produk dalam proses akhir di Dep II

Harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang:

- Harga pokok dari Dep I : 24000 x Rp 15              = Rp 360.000

- Biaya yg ditambahkan di Dep II : 24000 x Rp 25 = Rp 600.000

—————–

Total harga pokok produk jadi yang ditransfer ke

Gudang : 24000 x Rp 40                                                                   Rp    960.000

Harga pokok produk dalam proses akhir

- Harga pokok dari Dep I: 6000 x Rp 15                 = Rp 90.000

- Biaya yang ditambahkan Dep II:

BTK : 6000 x 50% x Rp 10   = Rp 30.000

BOP :  6000 x 50% x Rp 15  = Rp 45.000

—————-

= Rp 75.000

Total harga pokok produk dalam proses Dep II                                 Rp    165.000

Jumlah biaya produksi komulatif Dep II                                            Rp 1.125.000

Selanjutnya menyusun laporan harga pokok produksi, silahkan Anda susun sendiri dengan mencontoh laporan harga pokok produksi pada Dep I diatas atau dapat melihat BMP EKMA 4315 hal 6.13. Demikian juga jurnal nya Anda dapat mencontoh jurnal-jurnal pada Dep I diatas atau melihat di BMP EKMA 4315 hal 6.14

Pengaruh Terjadinya Produk Hilang Pada Awal Proses.

Bila ada produk hilang pada awal proses maka jika terjadi pada Dep I maka seluruh perhitungan sama seperti yang tadi kita bahas, hanya saja yang perlu diingat disini adalah bagaimana menghitung unit ekuivalensi. Untuk memudahkan mengingatnya saya sarankan jika produk hilang pada awal proses pada Dep I, dalam menghitung unit ekuivalensi abaikan jumlah unit yang hilang. Bila produk hilang terjadi pada awal proses di Dep II maka cara menghitung unit ekuivalensi disini juga sama abaikan jumlah yang hilang tapi yang perlu diingat adalah ada penyesuaian harga pokok produk jadi yang ditransfer dari Dep I ke Dep II.Untuk jelasnya pelajarilah contoh berikut:

Departemen I   Departemen II

—————-   ——————

Produk masuk dalam Proses                                                  1000

Produk jadi ditransfer ke Dep II                                              700

Produk selesai ditransfer ke gudang                                                               400

Produk dalam proses akhir

Biaya bahan baku 100%, biaya konversi 40%                       200

Biaya konversi 50%                                                                                        100

Produk yang hilang pada awal proses                                       100                  200

Data biaya.

Biaya bahan baku                                                                 Rp 22.500             -

Biaya tenaga kerja                                                                Rp 35.100        Rp 22.500

Biaya overhead pabrik                                                          Rp 46.800        Rp 24.750

————-       ————-

Jumlah biaya produksi                                                         Rp 104.400       Rp 47.250

Perhitungan Harga Pokok Dep I

Tadi telah saya katakan bahwa abaikan jumlah yang hilang dalam menghitung unit ekuivalensi, oleh karena itu perhitungan harga pokok per unitnya akan nampak sebagai berikut:

Jenis biaya          unit ekuivalensi                                   biaya produksi         biaya per unit

————–         ——————————————     ——————        —————-

1                                                      2                      2: 1

——————————————     ——————        —————-

BBB                    700 + ( 200 x 100% )= 900                  Rp 22.500                 Rp 25

BTK                    700  + ( 200 x 40% ) = 780                  Rp 35.100                 Rp 45

BOP                    700  + ( 200 x 40% ) = 780                  Rp 46.800                 Rp 60

——————         —————

Rp 104.400              Rp 130

                                                                                         ==========           =========

Selanjutnya Hargapokok produk jadi yang ditransfer ke Dep II dan harga pokok produk dalam proses akhir dapat dihitung seperti berikut:

Harga pokok produk jadi yang ditransfer ke

Dep II : 700 x Rp 130                                                    Rp   91.000

Harga pokok produk dalam proses akhir

BBB : 200 x 100% x Rp 25 = Rp  5.000

BTK : 200 x 40%  x Rp 45  = Rp  3.600

BOP : 200 x 40%  x  Rp 60 = Rp  4.800

————–

Rp   13.400

—————

Jumlah biaya produksi Dep I                                         Rp 104.400

Selanjutnya kita bahas bagaimana pengaruh produk hilang pada awal proses di Dep II, laporan harga pokok produksi dan jurnal jurnal yang diperlukan pada Dep I silahkan kerjakan sendiri sebagai latihan.

Perhitungan Harga Pokok Produk Dep II

Tadi telah saya katakan bahwa  dalam menghitung unit ekuivalensi di Dep II abaikan jumlah produk yang hilang, tapi bagaimana pengaruhnya terhadap produk yang masuk dari dep I ke Dep II, ikutilah perhitungan berikut:

Jumlah yang ditransfer ke Dep II 700 unit dengan biaya per unit Rp 130 =

700 x Rp 130 = Rp 91.000

Tetapi di Dep II belum sempat disentuh barang tinggal 500 unit ( hilang 200 unit) sedangkan biaya yang telah dikeluarkan tetap Rp 91.000 sehingga sekarang harga pokok per unit menjadi : Rp 91.000 dibagi 500 = Rp 182. Jadi dari Dep I harga per unit Rp 130 sampai di Dep II harga menjadi Rp 182 per unit. Harga naik sebesar Rp 52 ( Rp 182 – Rp 130 ) hal ini karena ada produk hilang pada awal proses sebesar 200 unit.

Selanjutnya kita hitung biaya per unit yang ditambahkan di Dep II

Jenis biaya        Unit ekuivalensi                                   Jml biaya produksi  Biaya per unit

————–       ——————————————-    ———————-    —————-

1                                                           2                         2  ; 1

——————————————    ———————-     —————

BTK                   400 + ( 100 x 50% ) = 450                   Rp 22.500                   Rp 50

BOP                    400 + ( 100 x 50% ) = 450                  Rp 24.750                   Rp 55

———————-     ————–

Rp 47.250                  Rp 105

                                                                                       =============      ========

Perhitungan harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang dan produk dalam proses akhir seperti berikut:

Harga pokok produk jadi yang ditransfer ke

Gudang : 400 x ( Rp 182 + Rp 105 ) = 400 x Rp 287   =       Rp 114.800

Harga pokok produk dalam proses akhir:

Harga pokok dari Dep I : 100 x Rp 182 = Rp 18.200

BTK  =  100 x 50%  x Rp 50                 = Rp    2.500

BOP  =  100 x  50%  x  Rp 55               = Rp    2.750

—————-

Rp   23.450

—————-

Rp 138.250

Selanjutnya laporan harga pokok produksi dan jurnal-jurnalnya Anda kerjakan sendiri dengan melihat contoh pada modul.

Pengaruh Produk Hilang Akhir Proses

Jika produk hilang terjadi pada akhir proses maka produk yang hilang dianggap telah menyerap biaya 100% oleh karena itu dalam menghitung unit ekuivalensi produk yang hilang perlakuannya sama demgan produk jadi.Pengaruh yang terjadi pada Dep I adalah pada produk jadi yang ditransfer ke Dep II, harga pokok produk jadi yang ditransfer ke Dep II meliputi harga pokok produk jadi dan produk yang hilang sedangkan jumlahnya adalah jumlah produk jadi saja sehingga harga pokok produk per unit yang ditransfer ke Dep II menjadi lebih tinggi. Demikian juga untuk Dep II dalam menghitung unit ekuivalensi prinsipnya sama dengan di Dep I dan penyesuaian harga pada produk jadi yang di transfer ke gudang. Untuk jelasnya mari kita pelajari contoh berikut:

Departemen I   Departemen II

—————-   ——————

Produk masuk dalam Proses                                                 1000

Produk jadi ditransfer ke Dep II                                              700

Produk selesai ditransfer ke gudang                                                               400

Produk dalam proses akhir

Biaya bahan baku 100%, biaya konversi 40%                       200

Biaya konversi 50%                                                                                        100

Produk yang hilang pada akhir proses                                      100                  200

Data biaya.

Biaya bahan baku ( BBB )                                                   Rp 22.500             -

Biaya tenaga kerja ( BTK )                                                  Rp 35.100        Rp 22.500

Biaya overhead pabrik ( BOP )                                            Rp 46.800        Rp 24.750

————-       ————-

Jumlah biaya produksi                                                         Rp 104.400       Rp 47.250

Perhitungan haega pokok produk di Dep I

Perhitungan harga pokok produk per unit di Dep I adalah sebagai berikut:

Jenis biaya        Unit ekuivalensi                                   Biaya Prod Dep I    Biaya per unit

——————————————     ———————    —————–

1                                                 2                        2: 1

—————————————–      ——————–     —————-

BBB                 700 + (200 x 100% ) + 100 = 1.000     Rp  22.500               Rp   22,5

BTK                 700 + (200 x 40% ) + 100   =    880     Rp  35.100               Rp    39,89

BOP                  700 + (200 x 40%) + 100   =     880    Rp  46.800               Rp    53,18

——————–      —————

Rp 104.400              Rp 115,57

                                                                                       ============     =========

Perhitungan harga pokok produk jadi yang ditransfer ke Dep II dan produk dalam proses akhir adalah seperti berikut:

Harga pokok produk jadi yang ditransfer ke Dep II:

700  x  Rp 115,57                                                       Rp 80.899

Harga pokok produk hilang akhir proses

100  x  Rp 115,57                                                       Rp 11.557

————–

Harga pokok produk jadi yang ditransfer ke

Dep II setelah adanya penyesuaian                              Rp  92.456

( harga per unit: 92.456 dibagi 700 = 132,08)

Harga pokok produk dalam proses akhir:

BBB: 200 x 100% x  Rp 22,5  =   Rp 4.500

BTK: 200 x 40%  x  Rp 39,89 =   Rp 3.191,2

BOP: 200 x 40% x  Rp 53,18  =   Rp  4.254,4

——————

Rp 11.945,6

—————–

Jumlah biaya produksi Dep I                                      Rp104.401,6

Catatan: jumlah seharusnya Rp 104.400 ada selisih Rp 1,6 pengaruh dari pembulatan angka.

Perhitungan Harga Pokok Pada Dep II

Perhitungan biaya per unit di Dep II

Jenis biaya          Unit ekuivalensi                                 Biaya Prod Dep II    Biaya per unit

—————————————-           ———————-    —————–

1                                                   2                     2 : 1

—————————————            ———————-    —————–

BTK                400 + (100 x 50%) + 200 = 650             Rp  22.500                   Rp 34,62

BOP                400  + (100 x 50%) + 200 = 650             Rp 24.750                   Rp  38,08

———————-     —————-

Rp  47.250                  Rp  72,7

                                                                                         =============    =========

Selanjutnya kita hitung harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang dan harga pokok produk dalam proses akhir.

Harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang:

Harga pokok dari Dep I: 400 x Rp 132,08                       =  Rp   52.832

Harga pokok yg ditambahkan Dep II: 400 x Rp 72,7      = Rp   29.080

Harga pokok produk hilang akhir proses

200 x ( Rp 132,08  + Rp 72,7 )                                      = Rp    40.956

——————-

Harga pokok produk jadi yang ditransfer ke

Gudang: 400 x Rp 307,17                                                 = Rp 122.868

(122.868 dibagi 400 = 307,17 )

Harga pokok produk dal;am proses akhir:

Harga pokok dari Dep I: 100 x Rp 132,08 = Rp 13.208

BTK  : 100 x 50% x Rp 34,62                   =  Rp   1.731

BOP : 100 x 50%  x Rp 38,08                   = Rp    1.904

—————-

Rp  16.843

————–

Jumlah biaya komulatif dalam Dep II                                   Rp 139711

Catatan: jumlah seharusnya Rp 139.706  selisih Rp 5 karena adanya pembulatan.

MATERI 7

METODE HARGA POKOK PROSES TANPA MEMPERHITUNGKAN PERSEDIAAN PRODUK DALAM PROSES AWAL

Metode Harga Pokok Proses Produk Diolah Melalui Lebih Dari Satu Departemen Produksi.

Jika produk diolah melalui dua departemen produksi maka yang pertama kita lakukan menghitung harga pokok produksi di departemen pertama yang nanti akan saya jelaskan cara menghitungnya. Setelah kita dapat kan harga pokok produksi di departemen pertama baru kita menghitung harga pokok di departemen ke dua.

Perhitungan biaya produksi di departemen ke dua adalah perhitungan yang bersifat komulatif. Karena produk jadi di departemen dua merupakan produk yang telah menyerap biaya dari departemen satu dan biaya departemen dua., sehingga harga pokok yang dihasilkan oleh departemen dua terdiri dari :

3.      Biaya produksi yang dibawa dari departemen satu.

4.      Biaya produksi yang ditambahkan dalam departemen dua

Contoh.

PT Eliona Sari memiliki dua departemen produksi : Departemen I dan Departemen II, untuk menghasilkan produknya. Data produksi dan biaya produksi kedua departemen tersebut untuk bulan April  2005 adalah sebagai berikut:

                                                                            Departemen I         Departemen II

Dimasukkan dalam proses                                   35.000 kg

Produk selasai yang ditransfer ke Dep.II             30.000 kg

Produk selesai yang ditransfer ke gudang                                           24.000 kg

Produk dalam proses akhir bulan                           5.000 kg                 6.000 kg

Biaya yang dikeluarkan bulan April 2005:

Biaya bahan baku                                            Rp  70.000                     -

Biaya tenaga kerja                                           Rp 155.000            Rp 270.000

Biaya overhead pabrik                                    Rp 248.000             Rp 405.000

Tingkat penyelesaian produk dalam

proses akhir :

Biaya bahan baku                                                  100%

    Biaya konversi                                                         20%                      50%

Perhitungan Harga Pokok Produk di Departemen I

Untuk menghitung harga pokok langkah yang kita lakukan adalah:

4.      Menghitung unit ekuivalensi biaya produksi yaitu unit ekuivalensi bahan baku, unit ekuivalensi biaya tenaga kerja dan unit ekuivalensi biaya overhead pabrik.

5.      Setelah unit ekuivalensi kita ketahui selanjutnya menghitung biaya produksi per unit.

6.      Jika biaya per unit sudah kita dapatkan maka kita dapat menghitung harga pokok produk jadi yang ditransfer ke Departemen II dan menghitung harga pokok produk dalam proses akhir.

.Menghitung unit ekuivalensi.

 

a.Unit ekuivalensi bahan baku, terdiri dari produk yang ditransfer ke Dep II adalah 30.000 ditambah produk dalam proses akhir 5000 dengan tingkat penyelesaian bahan baku 100% yaitu 5000 x 100% sehingga bisa dihitung sebagai berikut:

Unit ek bahan baku = 30.000 + ( 5000 x 100% ) = 35.000

b.Unit ekuivalensi biaya tenaga kerja, biaya konversi meliputi biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik sehingga sekali kita menghitung kita dapatkan dua unit ekuivalensi yaitu unit ekuivalensi biaya tenaga kerja dan unit ekuivalensi biaya overhead pabrik. Cara menghitungnya adalah produkjadi 30.000 ditambah produk dalam proses akhir 5000 dengan tingkat penyelesaian 20% yaitu ( 5000 x 20%) = 1000 sehingga dapat dihitung sebagai berikut: 30.000 + ( 5000 x 20% ) = 31.000

Setelah unit ekuivalensi kita hitung selanjutnya kita hitung harga pokok perunit sebagai berikut:

Elemen                                                                      Unit                           Biaya

Biaya Produksi                     Total Biaya                   Ekuivalensi               per kg

      ( 1 )                                    ( 2 )                               ( 3 )                         ( 2 ) : ( 3 )

Bahan Baku                           Rp  70.000                    35.000                      RP 2

Tenaga Kerja                         Rp 155.000                   31.000                      Rp 5

Overhead Pabrik                    Rp 248.000                   31.000                      Rp 8

Total                                       Rp 473.000                                                   Rp 15

                                              ==========                                               ======

Setelah biaya per unit dihitung , kita dapat menghitung harga pokok produk jadi yang ditransfer ke Dep II dan harga pokok produk dalam proses akhir sebagai berikut:

Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke Dep II:

30.000 x Rp 15                                    Rp 450.000

Harga pokok produk dalam proses akhir:

BBB: 5000 x 100% x Rp 2  = Rp 10.000

BTK: 5000 x  20%  x Rp 5  = Rp   5.000

BOP: 5000  x  20%  x Rp 8 =  Rp  8.000

—————–

Rp   23.000

—————–

Jumlah biaya produksi Dep I bulan April 2005                Rp 473.000

Catatan:

BBB= Biaya Bahan Baku

BTK= Biaya Tenaga Kerja

BOP= Biaya Overhead Pabrik

Perhitungan tadi kemudian disajikan dalam laporan biaya produksi seperti berikut:

PT Eliona Sari

Laporan Biaya Produksi Departemen I

Bulan April 2005

 

Data Produksi

Dimasukkan dalam proses                                                                    35.000 kg

————-

Produk jadi yang ditransfer ke Dep II                                                  30.000 kg

Produk dalam proses akhir                                                                      5.000 kg

————–

Jumlah produk yang dihasilkan                                                             35.000 kg

========

Biaya yang dibebankan Departemen I bulan April 2005

Total                       Per kg

——————           ————

Biaya Bahan Baku                                                         Rp     70.000                Rp  2

Biaya Tenaga Kerja                                                       Rp   155.000                Rp  5

Biaya Overhead                                                              Rp   248.000                Rp 8

——————           ————

Rp   473.000                Rp 15

===========           =======

Perhitungan Biaya

Harga pokok produk jadi yang ditransfer ke Dep II

30.000 kg  @  Rp 15                                                                        Rp 450.000

Harga pokok produk dalam proses akhir:

Biaya Bahan Baku                                 Rp 10.000

Biaya Tenaga Kerja                               Rp   5.000

Biaya Overhead Pabrik                          Rp   8.000

—————-

Rp    23.000

—————-

Jumlah biaya produksi yang dubebankan Dep I bln April                Rp  473.000

                                                                                                          ===========

Jurnal Pencatatan Biaya Produksi Departemen I          

Untuk mencatata biaya yang terjadi dalam Departemen I dalam bulan April 2005 jurnal yang harus dibuat adalah sebagai berikut:

1 Jurnal untuk mencatat biaya bahan baku:

BDP – Biaya Bahan Baku dep I                   Rp 70.000

Persediaan Bahan Baku                                           Rp  70.000

5.      Jurnal untuk mencatat biaya tenaga kerja

BDP – Biaya Tenaga Kerja Dep I              Rp 155.000

Gaji dan Upah                                                      Rp 155.000

3.Jurnal untuk mencatat biaya overhead pabrik

BDP – Biaya Overhead Pabrik Dep I            Rp 248.000

Berbagai Rekening yang Dikredit                          Rp 248.000

4.Jurnal untuk mencatat harga pokok produk jadi yang ditransfer dari Dep I ke Dep II

BDP – Biaya Bahan Baku Dep II                   Rp 450.000

BDP-Biaya Bahan Baku Dep I                                  Rp   60.000

BDP-Biaya Tenaga Kerja Dep I                                Rp 150.000

BDP-Biaya Overhead Pabrik Dep I                          Rp 240.000

Catatan

60.000 diperoleh dari 30.000 kg x Rp 2

150.000 diperoleh dari 30.000 kg x Rp 5

240.000 diperoleh dari 30.000 kg x Rp 8

5.Jurnal untuk mencatat harga pokok produk dalam proses akhir bulan April Dep I

Persediaan Produk Dalam Proses Dep I                     Rp 23.000

BDP-Biaya Bahan Baku Dep I                                              Rp 10.000

BDP-Biaya Tenaga Kerja Dep I                                            Rp   5.000

BDP-Biaya Overhead Pabrik Dep I                                       Rp   8.000

Perhitungan Harga Pokok di Departemen II

Di Departemen II ini tidak ada pengeluaran biaya bahan baku, yang ada biaya tenega kerja (BTK) dan biaya overhead pabrik (BOP). Disini harga pokok yang dibawa dari Dep I merupakan biaya bahan baku Dep II.Unit ekuivalensi yang perlu dihitung hanya unit ekuivalensi biaya biaya konversi yang meliputi BTK dan BOP.

Perhitungan unit ekuivalensi.

Unit yang ditransfer ke gudang 24000 ditambah persediaan produk dal;am proses akhir 6000 dengan tingkat penyelesaian 50% ( 6000 x 50% ) sebagai berikut:

24000 + ( 6000 x 50% ) = 24000 + 3000 = 27000.

Selanjutnya perhitungan biaya per unit adalah sebagai berikut:

Elemen Biaya Prod                Total Biaya                 Unit Ekuivalensi       Biaya per Kg

——————————-     ————————-    ——————–       —————-

Tenaga Kerja                         Rp 270.000                     27.000                      Rp 10

Overhead Pabrik                    Rp 405.000                     27.000                      Rp 15

———————–                                       ————-

 Total                                       Rp 675.000                                                   Rp 25

Setelah biaya per unit kita hitung selanjutnya kita hitung harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang dan harga pokok produk dalam proses akhir di Dep II

Harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang:

- Harga pokok dari Dep I : 24000 x Rp 15              = Rp 360.000

- Biaya yg ditambahkan di Dep II : 24000 x Rp 25 = Rp 600.000

—————–

Total harga pokok produk jadi yang ditransfer ke

Gudang : 24000 x Rp 40                                                                   Rp    960.000

Harga pokok produk dalam proses akhir

- Harga pokok dari Dep I: 6000 x Rp 15                 = Rp 90.000

- Biaya yang ditambahkan Dep II:

BTK : 6000 x 50% x Rp 10   = Rp 30.000

BOP :  6000 x 50% x Rp 15  = Rp 45.000

—————-

= Rp 75.000

Total harga pokok produk dalam proses Dep II                                 Rp    165.000

Jumlah biaya produksi komulatif Dep II                                            Rp 1.125.000

Selanjutnya menyusun laporan harga pokok produksi, silahkan Anda susun sendiri dengan mencontoh laporan harga pokok produksi pada Dep I diatas atau dapat melihat BMP EKMA 4315 hal 6.13. Demikian juga jurnal nya Anda dapat mencontoh jurnal-jurnal pada Dep I diatas atau melihat di BMP EKMA 4315 hal 6.14

Pengaruh Terjadinya Produk Hilang Pada Awal Proses.

Bila ada produk hilang pada awal proses maka jika terjadi pada Dep I maka seluruh perhitungan sama seperti yang tadi kita bahas, hanya saja yang perlu diingat disini adalah bagaimana menghitung unit ekuivalensi. Untuk memudahkan mengingatnya saya sarankan jika produk hilang pada awal proses pada Dep I, dalam menghitung unit ekuivalensi abaikan jumlah unit yang hilang. Bila produk hilang terjadi pada awal proses di Dep II maka cara menghitung unit ekuivalensi disini juga sama abaikan jumlah yang hilang tapi yang perlu diingat adalah ada penyesuaian harga pokok produk jadi yang ditransfer dari Dep I ke Dep II.Untuk jelasnya pelajarilah contoh berikut:

Departemen I   Departemen II

—————-   ——————

Produk masuk dalam Proses                                                 1000

Produk jadi ditransfer ke Dep II                                              700

Produk selesai ditransfer ke gudang                                                               400

Produk dalam proses akhir

Biaya bahan baku 100%, biaya konversi 40%                       200

Biaya konversi 50%                                                                                        100

Produk yang hilang pada awal proses                                       100                  200

Data biaya.

Biaya bahan baku                                                                 Rp 22.500             -

Biaya tenaga kerja                                                                Rp 35.100        Rp 22.500

Biaya overhead pabrik                                                          Rp 46.800        Rp 24.750

————-       ————-

Jumlah biaya produksi                                                         Rp 104.400       Rp 47.250

Perhitungan Harga Pokok Dep I

Tadi telah saya katakan bahwa abaikan jumlah yang hilang dalam menghitung unit ekuivalensi, oleh karena itu perhitungan harga pokok per unitnya akan nampak sebagai berikut:

Jenis biaya          unit ekuivalensi                                   biaya produksi         biaya per unit

————–         ——————————————     ——————        —————-

1                                                      2                      2: 1

——————————————     ——————        —————-

BBB                    700 + ( 200 x 100% )= 900                  Rp 22.500                 Rp 25

BTK                    700  + ( 200 x 40% ) = 780                  Rp 35.100                 Rp 45

BOP                    700  + ( 200 x 40% ) = 780                  Rp 46.800                 Rp 60

——————         —————

Rp 104.400              Rp 130

                                                                                         ==========           =========

Selanjutnya Hargapokok produk jadi yang ditransfer ke Dep II dan harga pokok produk dalam proses akhir dapat dihitung seperti berikut:

Harga pokok produk jadi yang ditransfer ke

Dep II : 700 x Rp 130                                                    Rp   91.000

Harga pokok produk dalam proses akhir

BBB : 200 x 100% x Rp 25 = Rp  5.000

BTK : 200 x 40%  x Rp 45  = Rp  3.600

BOP : 200 x 40%  x  Rp 60 = Rp  4.800

————–

Rp   13.400

—————

Jumlah biaya produksi Dep I                                         Rp 104.400

Selanjutnya kita bahas bagaimana pengaruh produk hilang pada awal proses di Dep II, laporan harga pokok produksi dan jurnal jurnal yang diperlukan pada Dep I silahkan kerjakan sendiri sebagai latihan.

Perhitungan Harga Pokok Produk Dep II

Tadi telah saya katakan bahwa  dalam menghitung unit ekuivalensi di Dep II abaikan jumlah produk yang hilang, tapi bagaimana pengaruhnya terhadap produk yang masuk dari dep I ke Dep II, ikutilah perhitungan berikut:

Jumlah yang ditransfer ke Dep II 700 unit dengan biaya per unit Rp 130 =

700 x Rp 130 = Rp 91.000

Tetapi di Dep II belum sempat disentuh barang tinggal 500 unit ( hilang 200 unit) sedangkan biaya yang telah dikeluarkan tetap Rp 91.000 sehingga sekarang harga pokok per unit menjadi : Rp 91.000 dibagi 500 = Rp 182. Jadi dari Dep I harga per unit Rp 130 sampai di Dep II harga menjadi Rp 182 per unit. Harga naik sebesar Rp 52 ( Rp 182 – Rp 130 ) hal ini karena ada produk hilang pada awal proses sebesar 200 unit.

Selanjutnya kita hitung biaya per unit yang ditambahkan di Dep II

Jenis biaya        Unit ekuivalensi                                   Jml biaya produksi  Biaya per unit

————–       ——————————————-    ———————-    —————-

1                                                           2                         2  ; 1

——————————————    ———————-     —————

BTK                   400 + ( 100 x 50% ) = 450                   Rp 22.500                   Rp 50

BOP                    400 + ( 100 x 50% ) = 450                  Rp 24.750                   Rp 55

———————-     ————–

Rp 47.250                  Rp 105

                                                                                       =============      ========

Perhitungan harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang dan produk dalam proses akhir seperti berikut:

Harga pokok produk jadi yang ditransfer ke

Gudang : 400 x ( Rp 182 + Rp 105 ) = 400 x Rp 287   =       Rp 114.800

Harga pokok produk dalam proses akhir:

Harga pokok dari Dep I : 100 x Rp 182 = Rp 18.200

BTK  =  100 x 50%  x Rp 50                 = Rp    2.500

BOP  =  100 x  50%  x  Rp 55               = Rp    2.750

—————-

Rp   23.450

—————-

Rp 138.250

Selanjutnya laporan harga pokok produksi dan jurnal-jurnalnya Anda kerjakan sendiri dengan melihat contoh pada modul.

Pengaruh Produk Hilang Akhir Proses

Jika produk hilang terjadi pada akhir proses maka produk yang hilang dianggap telah menyerap biaya 100% oleh karena itu dalam menghitung unit ekuivalensi produk yang hilang perlakuannya sama demgan produk jadi.Pengaruh yang terjadi pada Dep I adalah pada produk jadi yang ditransfer ke Dep II, harga pokok produk jadi yang ditransfer ke Dep II meliputi harga pokok produk jadi dan produk yang hilang sedangkan jumlahnya adalah jumlah produk jadi saja sehingga harga pokok produk per unit yang ditransfer ke Dep II menjadi lebih tinggi. Demikian juga untuk Dep II dalam menghitung unit ekuivalensi prinsipnya sama dengan di Dep I dan penyesuaian harga pada produk jadi yang di transfer ke gudang. Untuk jelasnya mari kita pelajari contoh berikut:

Departemen I   Departemen II

—————-   ——————

Produk masuk dalam Proses                                                 1000

Produk jadi ditransfer ke Dep II                                              700

Produk selesai ditransfer ke gudang                                                               400

Produk dalam proses akhir

Biaya bahan baku 100%, biaya konversi 40%                       200

Biaya konversi 50%                                                                                        100

Produk yang hilang pada akhir proses                                      100                  200

Data biaya.

Biaya bahan baku ( BBB )                                                   Rp 22.500             -

Biaya tenaga kerja ( BTK )                                                  Rp 35.100        Rp 22.500

Biaya overhead pabrik ( BOP )                                            Rp 46.800        Rp 24.750

————-       ————-

Jumlah biaya produksi                                                         Rp 104.400       Rp 47.250

Perhitungan haega pokok produk di Dep I

Perhitungan harga pokok produk per unit di Dep I adalah sebagai berikut:

Jenis biaya        Unit ekuivalensi                                   Biaya Prod Dep I    Biaya per unit

——————————————     ———————    —————–

1                                                 2                        2: 1

—————————————–      ——————–     —————-

BBB                 700 + (200 x 100% ) + 100 = 1.000     Rp  22.500               Rp   22,5

BTK                 700 + (200 x 40% ) + 100   =    880     Rp  35.100               Rp    39,89

BOP                  700 + (200 x 40%) + 100   =     880    Rp  46.800               Rp    53,18

——————–      —————

Rp 104.400              Rp 115,57

                                                                                       ============     =========

Perhitungan harga pokok produk jadi yang ditransfer ke Dep II dan produk dalam proses akhir adalah seperti berikut:

Harga pokok produk jadi yang ditransfer ke Dep II:

700  x  Rp 115,57                                                       Rp 80.899

Harga pokok produk hilang akhir proses

100  x  Rp 115,57                                                       Rp 11.557

————–

Harga pokok produk jadi yang ditransfer ke

Dep II setelah adanya penyesuaian                              Rp  92.456

( harga per unit: 92.456 dibagi 700 = 132,08)

Harga pokok produk dalam proses akhir:

BBB: 200 x 100% x  Rp 22,5  =   Rp 4.500

BTK: 200 x 40%  x  Rp 39,89 =   Rp 3.191,2

BOP: 200 x 40% x  Rp 53,18  =   Rp  4.254,4

——————

Rp 11.945,6

—————–

Jumlah biaya produksi Dep I                                      Rp104.401,6

Catatan: jumlah seharusnya Rp 104.400 ada selisih Rp 1,6 pengaruh dari pembulatan angka.

Perhitungan Harga Pokok Pada Dep II

Perhitungan biaya per unit di Dep II

Jenis biaya          Unit ekuivalensi                                 Biaya Prod Dep II    Biaya per unit

—————————————-           ———————-    —————–

1                                                   2                     2 : 1

—————————————            ———————-    —————–

BTK                400 + (100 x 50%) + 200 = 650             Rp  22.500                   Rp 34,62

BOP                400  + (100 x 50%) + 200 = 650             Rp 24.750                   Rp  38,08

———————-     —————-

Rp  47.250                  Rp  72,7

                                                                                         =============    =========

Selanjutnya kita hitung harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang dan harga pokok produk dalam proses akhir.

Harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang:

Harga pokok dari Dep I: 400 x Rp 132,08                       =  Rp   52.832

Harga pokok yg ditambahkan Dep II: 400 x Rp 72,7      = Rp   29.080

Harga pokok produk hilang akhir proses

200 x ( Rp 132,08  + Rp 72,7 )                                      = Rp    40.956

——————-

Harga pokok produk jadi yang ditransfer ke

Gudang: 400 x Rp 307,17                                                 = Rp 122.868

(122.868 dibagi 400 = 307,17 )

Harga pokok produk dal;am proses akhir:

Harga pokok dari Dep I: 100 x Rp 132,08 = Rp 13.208

BTK  : 100 x 50% x Rp 34,62                   =  Rp   1.731

BOP : 100 x 50%  x Rp 38,08                   = Rp    1.904

—————-

Rp  16.843

————–

Jumlah biaya komulatif dalam Dep II                                   Rp 139711

Catatan: jumlah seharusnya Rp 139.706  selisih Rp 5 karena adanya pembulatan.

Inisiasi 8

PENENTUAN BIAYA STANDAR

Biaya produksi dapat dikelompokkan ke dalam biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik. Oleh karena itu penentuan biaya produksi standar meliputi penentuan: (1) biaya bahan baku standar, (2) biaya tenaga kerja langsung Standar, (3) biaya overhead pabrik standar.

1.Biaya Bahan Baku Standar.

Penentuan biaya bahan baku standar meliputi: (a) harga bahan baku standar, (b) kuantitas bahan baku standar. Kedua macam standar ini digunakan untuk menganalisis selisih biaya bahan baku yang timbul yaitu:

a)      Selisih Harga Bahan Baku

Dihitung dengan rumus :

SHB = ( HS – HSt ) KS

SHB = selisih harga bahan baku

HS = harga beli sesungguhnya setiap unit bahan baku

KS = kuantitas sesungguhnya yang dibeli

HSt = harga beli standar setiap unit bahan baku

Jika HS > HSt maka SHB tidak menguntungkan

HS < HSt maka SHB menguntungkan.

b)      Selisih Kuantitas Bahan Baku

Dihitung dengan rumus:

SKB = ( KS – KSt ) HSt

SKB = selisih kuantitas bahan baku

KS = kuantitas sesungguhnya yang dipakai

HSt = harga beli standar setiap unit bahan baku

KSt = kuantitas standar bahan baku.

2. Biaya Tenaga Kerja Langsung Standar

Penentuan biaya tenaga kerja langsung standar meliputi: (a) tarif upah langsung standar, (b) jam kerja langsung standar. Kedua macam standar ini digunakan untuk menganalisis selisih biaya tenaga kerja langsung yang timbul yaitu:

a)      Selisih Tarif Upah Langsung dapat dihitung dengan rumus:

STU = ( TS – TSt ) JS

STU = selisih tarif upah langsung

TS = tarif upah langsung sesungguhnya setiap jam

JS = jam sesungguhnya untuk mengolah produk

TSt = tarif standar setiap jam upah langsung

Jika: TS > TSt maka STU tidak menguntungkan

TS < TSt maka STU menguntungkan

b)      Selisih Efisiensi Upah Langsung (SEUL) dapat dihitung dengan rumus:

SEUL = ( JS – JSt ) TSt

Dimana:

SEUL = selisih efisiensi upah langsung

JS       = jam sesungguhnya untuk mengolah produk

JSt      = jam standar untuk mengolah produk

TSt     = tarif standar setiap jam upah langsung

Jika JS > JSt maka SEUL tidak menguntungkan

JS < JSt maka SEUL menguntungkan

3. Biaya Overhead Pabrik

Biaya overhead pabrik digolongkan menjadi dua yaitu biaya overhead pabrik tetap dan biaya overhead variabel. Penentuan biaya overhead pabrik standar meliputi : (a) penentuan tarif biaya overhead pabrik standar untuk setiap satuan kapasitas, (b) penentuan satuan kapasitas yang diperlukan untuk mengolah satu unit produk.

Perbedaan antara biaya overhead pabrik sesungguhnya dengan biaya overhead pabrik standar dapat dianalisis dalam 3 macam metode analisis sebagai berikut:

a.       Metode dua selisih

b.      Metode tiga selisih

c.       Metode empat selisih

a.Metode dua selisih

1) Selisih Terkendalikan dihitung dengan rumus:

ST =  BOPS – { BTA + ( KSt x TV ) }

Atau

ST = BOPS – { ( KN x TT ) + ( KSt x TV ) }

Atau

ST = BOPS – AFKSt

Keterangan:

ST      = selisih terkendalikan

BOPS = biaya overhead pabrik sesungguhnya

KN     = kapasitas normal

KSt     = kapasitas standar

TT      = tarif tetap per unit

AFKSt = anggaran flessibel biaya overhead pabrik pada kapasitas standar

Jika : BOPS > AFKSt maka ST tidak menguntungkan

BOPS < AFKSt maka ST menguntungkan

2) Selisih volume dapat dihitung dengan rumus:

SV = AFKSt – ( KSt x T )

Atau

SV = ( KN – KSt ) TT

Ket:

SV = selisih volume

T       = tarif total biaya overhead pabrik

Jika : KN > KSt maka SV tidak menguntungkan

KN < KSt maka SV menguntungkan

b. Metode tiga selisih

1) Selisih Anggaran bisa dihitung dengan rumus:

SA = BOPS – AFKS

Atau

SA = BOPS – { ( KN x TT ) + ( KS x TV )

Ket:

SA = selisih anggaran

KN = kapasitas normal

KS = kapasitas sesungguhnya

Jika BOPS > AFKS maka SA tidak menguntungkan

BOPS < AFKS maka SA menguntungkan

2) Selisih Kapasitas dapat dihitung dengan rumus:

SK = AFKS – ( KS x T )

Atau

SK = ( KN – KS ) TT

Ket:

SK = selisih kapasitas

AFKS = anggaran fleksibel BOP pada kapasitas sesungguhnya

Jika : KN > KS maka SK tidak menguntungkan

KN < KS maka SK menguntungkan

3) Selisih Efisiensi BOP

SEBOP = ( KS – KSt ) T

Ket:

SEBOP = selisih efisiensi BOP

KSt  = kapasitas standar

Jika : KS > KSt maka SEBOP tidak menguntungkan

KS < KSt maka SEBOP menguntungkan

c.Metode Empat Selisih

Dalam metode empat selisih BOP digolongkan menjadi empat macam selisih yaitu: (1) selisih anggaran, (2) selisih kapasitas, (3) selisih efisiensi BOP variabel, (4) selisih efisiensi BOP tetap.Selisih anggaran dan selisih kapasitas sudah dibahas dan selanjutnya akan dibahas selisih efisiensi BOP variabel dan selisih efisiensi BOP tetap.

1)      Selisih Efisiensi BOP variabel

SEBOPV = ( KS – KSt ) TV

Keterangan:

SEBOPV = selisih efisiensi BOP variabel.

Jika : KS > KSt maka SEBOPV tidak menguntungkan

KS < KSt maka SEBOPV menguntungkan

2)      Selisih Efisiensi BOP Tetap

SEBOPT = ( KS – KSt ) TT

Keterangan:

SEBOPT = Selisih efisiensi BOP tetap

Jika : KS > KSt maka SEBOPT tidak menguntungkan

KS < KSt maka SEBOPT menguntungkan.

Kasus: Soal tes formatif 1 modul 9.

PT. AJUAVIVA. Kapasitas normal yang dimiliki 10.000 jam kerja langsung (JKL) atau sebanyak 2.500 unit produk.Biaya standar untuk mengolah satu unit produk adalah:Rp 150 yang terdiri dari:

Biaya bahan baku (BB) = 2 kg @ Rp 20 = Rp 40, Biaya tenaga kerja langsung (BTKL) = 4jam @ 12,5 = Rp 50 . Biaya overhead pabrik (BOP) = Rp 60 ( variabel = 4jam @ Rp 10 = Rp 40, tetap = 4jam @ Rp 5 = Rp 20 )

Data lain adalah:

  1. Produk yang diselesaikan selama bln itu 2.400 unit
  2. BB dibeli dengan kredit = 4.900 kg @ Rp19 = Rp 93.100
  3. BTKL bulan itu 9.550 jam @ Rp 12 = Rp 114.600
  4. BOP sesungguhnya Rp 145.000
  5. Penjualan produk selesai= 2.000 unit @ Rp 250 = Rp 500.000
  6. Biaya pemasaran Rp 50.000 dan biaya administrasi Rp 30.000

Buatlah analisis selisih BB, BTKL, dan BOP.

Penyelesaian:

  1. selisih bahan baku

SHB = (HS – HSt) KS   = ( Rp 19 – Rp 20 ) 4900 = Rp 4.900 ( L )

SKB = (KS – KSt ) HSt = ( 4.900 – 4.800 ) Rp 20 = Rp  2.000 ( R )

  1. selisih BTKL

Selisih tarif upah (STU)

STU = (TS-TSt)JS = (Rp12 – Rp12,5) 9550 = Rp4775  ( L )

Selisih efisiensi upah langsung ( SEUL )

SEUL =  ( JS – JSt ) TSt = ( 9550 – 9600 ) Rp12,5 =Rp 625 ( L )

  1. Selisih biaya overhead pabrik ( BOP )

1.Metode dua selisih

- Selisih terkendalikan ( ST )

ST = BOPS – AFKSt

= BOPS – { ( KN x TT ) + ( KSt x TV ) }

= Rp 145.000 – { ( 10.000 x Rp5 ) + ( 9600 x Rp 10 ) }

= Rp 145.000 – ( Rp 50.000 + Rp 96.000 ) = Rp 1.000  ( L )

-         Selisih volume ( SV )

SV = ( KN – KSt ) TT = ( 10.000 – 9600 ) Rp 5 = Rp 2.000 ( R )

2. Metode tiga selisih.

- Selisih anggaran ( SA )

SA = BOPS – AFKS

= BOPS – { ( KN x TT ) + ( KS x TV ) }

= Rp 145.000 – { ( 10.000 x Rp 5 ) + ( 9550 x Rp 10 ) }

= Rp 145.000 – ( Rp 50.000 + Rp 95.500 ) = Rp 500  (  L )

-         Selisih kapasitas ( SK )

SK = ( KN – KS ) TT

= ( 10.000 – 9550 ) Rp 5 = Rp 2.250   ( R )

-         Selisih efisiensi BOP ( SEBOP )

SEBOP = ( KS – KSt ) T = ( 9550 – 9600 ) Rp 15 = Rp 750 ( L )

3. Metode empat selisih

- Sel;isih anggaran = Rp 500 ( L )

- Selisih kapasitas = Rp 2.250 ( R )

- Selisih efisiensi variabel ( SEBOPV )

SEBOPV = ( KS – KSt ) TV = ( 9550 – 9600 ) Rp 10 = Rp 500 ( L )

-         Selisih efisiensi BOP tetap ( SEBOPT )

SEBOPT = ( KS – KSt ) TT = ( 9550 – 9600 ) Rp 5 = Rp 250  ( L )

Sumber : http://www.ut.ac.id – file jTriwiyanto

NASKAH TUGAS MANDIRI – UNIVERSITAS TERBUKA

                       NAMA M.K.            :    AKUNTANSI BIAYA

             KODE M.K.             :    EKMA4315

KODE NASKAH    :    05

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

UNIVERSITAS TERBUKA

2006

 

TUGAS MANDIRI

AKUNTANSI BIAYA

(EKMA4315)

PETUNJUK: UNTUK SOAL NOMOR   1  SAMPAI  DENGAN 60,  PILIHLAH SATU JAWABAN YANG PALING TEPAT!

1.   Ditinjau dari waktu, fokus informasi yang dihasilkan oleh akuntansi keuangan adalah ….

A.  berorintasi pada masa yang akan datang

B.   berorientasi pada masa yang lalu

C.  merupakan bagian dari perusahaan

D.  informasi perusahaan secara keseluruhan

2.   Akuntansi biaya yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pemakai luar perusahaan harus memperhatikan karak-teristik ….

A.  akuntansi keuangan

B.   akuntansi manajemen

C.  pengantar akuntansi

D.  akuntansi pemerintahan

3.   Bila seorang penguasa mengeluarkan uang untuk membayar jasa asuransi gedung perusahaan, maka  pengeluaran-pengeluaran tersebut merupakan ….

A. laba

B.   harga pokok

C.  biaya

D.  rugi

4.   Bagian akuntansi biaya dalam struktur organisasi perusahaan “PT Kertas Nusantara”  merupakan bagian dari departemen ….

A. pemasaran

B.   produksi

C.  keuangan

D.  akuntansi

5.   Biaya gaji dan upah, biaya asuransi, biaya premi adalah contoh penggolongan biaya atas dasar ….

A.  objek pengeluaran

B.   fungsi pokok dalam perusahaan

C.  hubungan biaya dengan suatu yang di biayai

D.  jangka waktu manfaatnya

6.   Atas dasar fungsi pokok dalam perusahaan biaya digolongkan menjadi ….

A.  biaya tetap, biaya variabel, biaya semi variabel

B.   biaya langsung, biaya tak langsung

C.  biaya gaji dan upah, biaya depresiasi mesin, biaya bunga

D.  biaya produksi, biaya pemasaran, biaya administrasi dan umum

7.   Contoh perusahaan yang berproduksi berdasarkan pesanan adalah ….

A.  perusahaan coca-cola

B.   perusahaan ternak ayam

C.  perusahaan dok kapal

D.  industri semen

8.   Sistem biaya yang membebankan biaya prima kepada produk berdasar biaya sesungguhnya dan biaya overhead pabrik berdasar tarif yang ditentukan di muka adalah sistem biaya ….

A.  normal

B.   standar

C.  sesungguhnya

D.  variabel

9.   PT. ABC memproduksi mobil-mobilan untuk mainan anak. Bahan baku yang dipakai untuk setiap unit produksi sebanyak 5 ons dengan harga Rp6.000,- per kg, tenaga kerja langsung 30 menit dengan tarif upah Rp10.000,- per jam. Biaya overhead pabrik dan jumlah produksi mobil-mobilan dalam bulan Juli 2003 Rp6.000.000,- (3000 unit), Agustus Rp10.000.000,- (4000 unit). Dengan sistem biaya sesungguhnya, biaya produksi total untuk bulan Juli adalah ….

A.  Rp15.000.000,-

B.   Rp20.000.000,-

C.  Rp25.000.000,-

D.  Rp30.000.000,-

10.   Dari soal no. 9, bila pada tahun 2003 memiliki anggaran BOP sebesar Rp16.000.000,- dan anggaran jam kerja langsung sebesar 3.200 jam. Hitunglah biaya produksi total bulan Agustus, dengan sistem biaya normal ….

A.  Rp37.000.000,-

B.   Rp40.000.000,-

C.  Rp42.000.000,-

D.  Rp45.000.000,-

11.   Berikut ini yang merupakan siklus kegiatan perusahaan manufaktur adalah ….

A.  pencatatan harga pokok barang dagangan yang dibeli dan berakhir dengan penyajian harga pokok barang dagangan yang di jual

B.   persiapan penyerahan jasa dan berakhir dengan penyerahan jasa kepada pemakainya

C.  pengolahan bahan baku di bagian produksi dan berakhir dengan penyerahan produk jadi ke bagian gudang

D.  pembelian barang dagangan dan tanpa melalui pengolahan lebih lanjut, diakhiri dengan penjualan kembali barang dagangan tersebut

12.   Rekening yang digunakan untuk mencatat biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi disebelah (debit) dan yang di bebankan kepada produk berdasarkan tarif disebelah (kredit) adalah rekening ….

A.  barang dalam proses

B.   biaya overhead pabrik

C.  persediaan produk jadi

D.  gaji dan upah

13.   Kartu harga pokok adalah rekening pembantu untuk rekening ….

A.  persediaan bahan baku

B.   biaya overhead pabrik sesungguhnya

C.  biaya administrasi dan umum

D.  barang dalam proses

14.   Salah satu karakteristik usaha perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan adalah ….

A.  proses pengolahan produk terjadi secara terputus-putus

B.   produk yang dihasilkan adalah produk massa

C.  produk di tujukan untuk persediaan gudang

D.  proses produksi terus menerus

15.   Jika suatu perusahaan mebel menerima pesanan untuk memproduksi satu set meja tamu, dan perusahaan tersebut menggunakan bahan penolong sebesar Rp150.000,- sedangkan bahan baku Rp1.500.000,-. Buatlah jurnal untuk mencatat pemakaian bahan penolong tersebut ….

A.  Biaya bahan penolong      Rp150.000,-

Persediaan bahan penolong     Rp150.000,-

B.   Biaya overhead pabrik

Sesungguhnya            Rp150.000,-

Persediaan bahan penolong     Rp150.000,-

C.  Persediaan bahan penolong Rp150.000,-

Biaya bahan penolong       Rp150.000,-

D.  Persediaan bahan penolong          Rp150.000,-

Kas                                    Rp150.000,-

16.   Berdasarkan daftar gaji dan upah yang dibuat oleh bagian personalia biaya tenaga kerja yang harus di bayar oleh suatu perusahaan terdiri dari elemen berikut ini:

Upah langsung karyawan pabrik         Rp300.000,-

Upah tak langsung karyawan pabrik   Rp750.000,-

Gaji karyawan administrasi & umum   Rp1.600.000,-

Gaji karyawan pemasaran         Rp1.350.000,-

Atas dasar data tersebut buatlah jurnal untuk mencatat biaya tenaga kerja terutang ….

A.  Gaji dan upah            Rp4.000.000,-

Utang gaji dan upah                  Rp4.000.000,-

B.   Barang dalam proses       Rp300.000,-

Biaya Overhead pabrik    Rp750.000,-

Biaya adm dan umum Rp1.600.000,-

Biaya pemasaran       Rp1.350,000,-

Gaji dan upah               Rp4.000.000,-

C.  Utang gaji dan upah   Rp4.000.000,-

Kas                              Rp4.000.000,-

D. Utang gaji dan upah   Rp4.000.000,-

Gaji dan upah                   Rp4.000.000,-

 

Data berikut untuk soal no 17 dan 18.

17.   PT. “XYZ” menggunakan metode harga pokok pesanan. Pada awal bulan Januari masih mempunyai pesanan yang masih dalam proses yaitu:

Pesanan no.10      Pesanan no.11

Bahan baku           Rp2.000.000,-      Rp700.000,-

Upah langsung       Rp1.000.000,-      Rp300.000,-

Biaya overhead pabrik

Yang dibebankan Rp1.500.000,-      Rp450.000,-

Tidak ada persediaan awal barang jadi pada tangal 1 Januari. Selama bulan Januari menerima pesanan no, 12, 13, 14, 15, 16 dan 17 telah di mulai. Penggunaan bahan baku selama bulan Januari total Rp13.000.000,- biaya tenaga kerja langsung Rp10.000.000,-. Biaya overhead pabrik dibebankan 150% dari biaya tenaga kerja langsung. Pada akhir Januari pesanan no. 17 belum selesai (dalam proses) dengan perincian biaya bahan baku Rp1.400.000,- dan biaya tenaga kerja lansung Rp900.000,-. Dari data di atas, maka perhitungan atas harga pokok pabrik dari barang jadi adalah sejumlah ….

A.  Rp35.950.000,-

B.   Rp38.000.000,-

C.  Rp40.300.000,-

D.  Rp43.950.000,-

18.   Berdasarkan data no.17, bila pesanan no, 15 walaupun telah selesai namun belum diambil pemesannya dengan total biaya Rp2.000.000,- Maka perhitungan harga pokok penjualannya adalah ….

A.  Rp35.950.000,-

B.   Rp38.300.000,-

C.  Rp40.000.000,-

D.  Rp41.950.000,-

Data untuk soal no. 19 dan 20.

19.   PT. Bintang Terang menggunakan metode harga pokok pesanan, biaya overhead pabrik dibebankan berdasarkan jam kerja langsung (JKL). Tarif BOP Rp 2,5 /jam, biaya bahan baku yang dipakai oleh pesanan no.10 Rp25.000,- dan pesanan no. 11 Rp15.000,-. Total biaya tenaga kerja langsung untuk pesanan no. 10 Rp50.000,- dan pesanan no. 11 Rp40.000,-, tarif upah langsung Rp5,- per jam. Biaya overhead pabrik sesungguhnya Rp45.000,- . Pesanan no.10 berisi 200 unit dan pesanan no. 11 berisi 400 unit semuanya telah selesai. Besarnya harga pokok pesanan no.10 adalah …. (pembulatan)

A.  Rp75.000,-

B.   Rp100.000,-

C.  Rp117.000,-

D.  Rp125.000,-

20.   Dari data no. 19, besarnya harga pokok per unit pesanan no.11 adalah …. (pembulatan)

A.  Rp137,50,-

B.   Rp162,50,-

C.  Rp193,75,-

D.  Rp212,75,-

21.   Menurut perilaku dalam hubungannya dengan volume produksi, biaya overhead pabrik digolongkan menjadi ….

A.  biaya produksi langsung dan biaya produksi tak langsung

B.   biaya bahan penolong biaya depresiasi dan biaya amortisasi

C.  biaya overhead pabrik langsung departemen dan biaya overhead pabrik tak langsung departemen

D.  biaya overhead pabrik tetap, biaya overhead pabrik variabel dan biaya overhead pabrik semi variabel

22.   Tahap pertama dalam penentuan tarif BOP adalah ….

A.  menyusun anggaran BOP

B.   alokasi BOP dari departemen pembantu ke departemen produksi

C.  memilih dasar pembebanan BOP kepada produk

D.  menghitung tarif BOP

23.   Dasar untuk menyusun anggaran biaya overhead pabrik adalah ….

A.  anggaran perusahaan

B.   kapasitas produksi

C.  tarif biaya overhead

D.  alokasi biaya perusahaan

24.   Kapasitas normal adalah ….

A.  kapasitas pabrik untuk menghasilkan produk pada kecepatan penuh tanpa berhenti selama jangka waktu tertentu

B.   kapasitas teoritis di kurangi dengan kerugian-kerugian waktu yang tidak dapat dihindari karena hambatan-hambatan intern perusahaan

C.  kemampuan perusanaan untuk mem-produksi dan menjual produknya dalam jangka panjang

D.  kapasitas sesungguhnya yang diperkirakan akan dapat dicapai dalam tahun yang akan datang

25.Taksiran BOP : Taksiran Jam Tenaga kerja langsung = Tarif BOP per jam kerja langsung

Rumus di atas digunakan untuk menghitung tarif BOP jika menggunakan dasar pembebanan ….

A.  biaya tanaga kerja langsung

B.   jam tenaga kerja langsung

C.  jam mesin

D.  biaya bahan baku

26.   Bagi perusahaan yang hanya memproduksi satu jenis barang, metode yang cocok digunakan untuk membebankan biaya overhead pabrik adalah metode ….

A.  satuan produk

B.   jam mesin

C.  jam tenaga kerja langsung

D.  biaya bahan baku

Data untuk soal no. 27 sampai dengan no. 29

27.   PT. “Jaya” berproduksi atas dasar pesanan, dan BOP dibebankan pada produk atas dasar jam kerja langsung. Kapasitas normal satu bulan 20.000 jam kerja langsung. Sedang tarif BOP Rp100,- (Rp60,- tarif variabel dan Rp40,- tarif tetap). Bulan September 2003 di kerjakan pesanan no. 031, 032 dan 033. Jam kerja langsung yang diserap untuk pesanan no. 031 sebesar 8.000 jam, pesanan 032 sebesar 5.000 jam dan pesanan no. 033 sebesar 6.000 jam. Biaya overhead pabrik yang se-sungguhnya terjadi pada bulan September 2003 sebesar Rp1.925.000,-. Dari data di atas selisih budget sebesar ….

A.  Rp15.000,- (R)

B.   Rp15.000,- (L)

C.  Rp25.000,- (R)

D.  Rp25.000,- (L)

28.   Sesuai data soal no. 27 selisih kapasitas sebesar ….

A.  Rp40.000,- (R)

B.   Rp40.000,- (L)

C.  Rp100.000,- (R)

D.  Rp100.000,- (L)

29.   Jika selisih BOP diperlakukan sebagai pengurang atau penambah rekening harga pokok penjualan, maka harga pokok penjualan yang dicantumkan dalam laporan laba rugi akan ….

A.  bertambah Rp40.000,-

B.   berkurang Rp40.000,-

C.  bertambah Rp25.000,-

D.  berkurang Rp25.000,-

30.   Apabila jasa yang dihasilkan oleh departemen pembantu hanya di nikmati oleh departemen produksi saja maka metode alokasi yang paling tepat digunakan adalah metode ….

A.  alokasi langsung

B.   alokasi kontinyu

C.  aljabar

D.  urutan alokasi yang di atur


Data soal no. 31 dan 32.

31.   Data biaya dan produksi hasil survey suatu perusahaan sebagai berikut:

Dept           BOP langsung            Luas lantai m2

R & P        Rp7.400.000,-      800

Listrik         Rp9.700.000,-      400

Kafe           Rp1.400.000,-      800

Produksi I  Rp10.050.000,-    600

Produksi II Rp12.950.000,-  1.400

Rp41.500.000,-  4.000

Data lain:

Dept     Jam pemeliharaan        Kwh   Jumlah karyawan

Produksi I           1200               3000               15

Produksi II            800            12.000               35

BOP tak langsung di perkirakan berjumlah Rp3.000.000,- untuk tahun anggaran tersebut, yaitu biaya depresiasi gedung yang didis-tribusikan ke departemen yang menikmatinya atas dasar luas lantai. Depertemen R & P dialokasikan atas dasar jam kerja pemeliharaan, biaya listrik atas dasar Kwh dan Kafe atas dasar jumlah karyawan. Hitunglah BOP departemen produksi I setelah mendapat alokasi langsung dari departemen pembantu ….

A.  Rp17.900.000,-

B.   Rp20.000.000,-

C.  Rp21.800.000,-

D.  Rp22.400.000,-

32.   Dari data di atas maka BOP departemen produksi II setelah mendapat alokasi langsung dari departemen pembantu adalah ….

A.  Rp22.400.000,-

B.   Rp24.400.000,-

C.  Rp25.600.000,-

D.  Rp26.600.000,-

33.   Tarif yang digunakan untuk membagikan biaya overhead pabrik departemen pembantu kepada departemen produksi, baik secara langsung maupun bertahap, adalah tarif ….

A.  distribusi

B.   alokasi

C.  pembebanan

D.  tunggal

Data tersebut untuk soal no. 34 dan no. 35.

34.   Biaya overhead pabrik baik langsung maupun tidak langsung dari departemen-departemen pembantu maupun departemen produksi selama tahun anggaran 2003 adalah sebagai berikut:

Departemen

Anggaran BOP sebelum adanya alokasi Dept pembantu Alokasi Dept pembantu

Dept Y      Dept X

Produksi AProduksi B

Pembantu Y

Pembantu X

 

Rp6.000.000,-Rp8.000.000,-

Rp3.630.000,-

Rp2.000.000,-

Rp19.630.000,-

   40%         20%40%         50%

—           30%

20%           —

100%       100%

 

Dengan menggunakan metode aljabar untuk alokasi BOP, maka jumlah BOP departemen Y (setelah menerima alokasi BOP dari departemen X) adalah ….

A.  Rp2.900.000,-

B.   Rp3.380.000,-

C.  Rp4.250.000,-

D.  Rp4.500.000,-

35.   Dari data soal no. 34, maka jumlah BOP departemen pembantu X (setelah menerima alokasi dari departemen Y) adalah ….

A.  Rp2.900.000,-

B.   Rp3.380.000,-

C.  Rp4.250.000,-

D.  Rp4.500.000,-

36.   Salah satu karakteristik metode urutan alokasi yang diatur adalah ….

A.  BOP departemen pembantu dialokasikan secara langsung

B.   alokasi BOP departemen pembantu diatur urutannya sehingga arus alokasi biaya menuju ke satu arah

C.  BOP yang jasanya paling banyak dipakai departemen lain dialokasikan belakangan

D.  departemen pembantu yang paling banyak menerima jasa dari departemen pembantu lain di alokasikan pertama

37.   PT. “Bintang Terang” mempunyai 4 departemen produksi A, B, C dan D, dan 3 departemen pembantu x, y, z. BOP langsung untuk tahun 2003 adalah sebagai berikut: dept A Rp100.000,- dept B Rp140.000,-, dept C Rp40.000,-, Dept D Rp80.000,-, Dept x Rp30.000,- dept y Rp50.000,- dan dept z Rp60.000,-. BOP departemen pembantu dialokasikan sebagai berikut: Dept z dialokasikan pada x dan y serta departemen produksi atas dasar luas lantai Dept y di alokasikan pada dept x dan departemen produksi atas dasar jumlah karyawan, Departemen x dialokasikan pada departemen-departemen produksi atas dasar cost, equipment. Survey pabrik dan data produksi adalah sebagai berikut:

Dept

Luas lantai m2

Jumlah karyawan

Cost equitment

Data produksi

A

15.000

50

Rp250.000,- 72.750 jam buruh langsung

B

30.000

70

Rp100.000,- Rp 161.000 upah buruh langsung

C

25.000

40

Rp100.000,- 18.425 jam mesin

D

10.000

20

Rp 50.000,- 59.750 jam buruh langsung

X

20.000

20

Y

20.000

Z

Dari data tersebut hitunglah BOP departemen A setelah mendapat alokasi dari departemen pembantu dengan metode alokasi urutan yang diatur (Specified order of closing) …. (pembulatan)

A.  Rp73.700,-

B.   Rp95.600,-

C.  Rp145.500,-

D.  Rp185.200,-

38.   Berdasarkan data soal No. 37, hitunglah tarif BOP departemen C …. (pembulatan)

A.  Rp1,6 per jam mesin

B.   Rp2 per jam mesin

C.  Rp3 per jam mesin

D.  Rp4 per jam mesin

39.   Apabila bahan baku dibeli secara impor dan di kirim lewat laut dengan Cost and Freight maka ….

A.  pembeli menanggung asuransi laut, penjual menanggung biaya angkutan laut

B.   biaya asuransi laut dan angkutan laut di tanggung penjual

C.  biaya asuransi laut menjadi tanggungan penjual

D.  biaya angkut laut menjadi tanggungan pembeli

40.   PT. DONO menganggarkan biaya angkutan untuk tahun anggaran 2003 sebesar Rp55.000.000,-. Dalam tahun anggaran tersebut diperkirakan harga faktur bahan baku yang akan dibeli sebesar Rp550.000.000,-. Data realisasi anggaran tersebut dalam tahun 2003 adalah sebagai berikut:

Jumlah harga faktur bahan baku yang dibeli  Rp500.000.000,-

Biaya angkutan yang sesungguhnya dibayar Rp60.000.000,-

Jurnal untuk mencatat biaya angkutan yang sesungguhnya dibayar dalam tahun 2003 adalah:

A.  Biaya angkutan          Rp55.000.000,-

Kas                               Rp55.000.000,-

B.   Persediaan bahan baku       Rp55.000.000,-

Biaya angkutan               Rp55.000.000,-

C.  Biaya angkutan          Rp60.000.000,-

Kas                               Rp60.000.000,-

D.  Persediaan bahan baku       Rp60.000.000,-

Biaya angkutan               Rp60.000.000,-

41.   Berikut yang merupakan catatan persediaan bahan yang di selenggarakan di bagian Akuntansi Persediaan adalah ….

A.  kartu persediaan

B.   kartu gudang

C.  kartu barang

D.  kartu harga pokok

42.   Unit organisasi dalam perusahaan berikut  ini yang biayanya tidak diperhitungkan dalam harga pokok bahan buku yang di beli adalah ….

A.  bagian pembelian

B.   bagian penerimaan

C.  bagian gudang

D.  bagian pemasaran

43.   Berikut ini adalah metode pencatatan biaya bahan adalah ….

A.  identifikasi kusus

B.   masuk pertama, keluar pertama

C.  mutasi persediaan

D.  biaya standar

Data soal no. 44 sampai dengan 46.

44.   Tangal 5 Februari beli bahan B sebanyak 400 unit @ Rp30,-,tanggal 10 Februari beli bahan B sebanyak 600 unit @ Rp50,-, tanggal 15 Februari bahan dipakai 900  unit. Jika menggunakan metode FIFO, maka biaya bahan yang dipakai adalah ….

A.  Rp37.000,-

B.   Rp37.800,-

C.  Rp39.000,-

D.  Rp45.000,-

45.   Dari data nomor 44, jika digunakan metode LIFO, maka biaya bahan yang dipakai adalah ….

A.  Rp37.000,-

B.   Rp39.000,-

C.  Rp45.000,-

D.  Rp67.500,-

46.   Dari data nomor 44, jika digunakan metode rata-rata bergerak, maka biaya bahan baku yang dipakai adalah ….

A.  Rp37.800,-

B.   Rp39.000,-

C.  Rp45.000,-

D.  Rp67.500,-

47.   Produk yang tidak memenuhi standar mutu yang telah di tetapkan, yang secara ekonomis dapat diperbaiki menjadi produk yang baik disebut ….

A.  sisa bahan

B.   produk cacat

C.  produk rusak

D.  produk sampingan

48.   Jika kerugian akibat adanya produk rusak di bebankan kepada produksi secara keseluruhan, rekening yang di debit untuk mencatat besarnya kerugian akibat terjadinya produk rusak adalah ….

A.  barang dalam proses-biaya bahan baku

B.   persediaan produk catat

C.  biaya overhead pabrik sesungguhnya

D.  persediaan produk jadi

49.   PT. Danar berproduksi atas dasar pesanan, kapasitas normal perusahaan adalah 75.000 jam kerja langsung satu bulan.

Data produksi sebagai berikut:

a.       Bahan baku yang dipakai Rp10.000.000,-

b.      Upah langsung di bayar dengan tarif Rp 50 per jam.

c.       Tarip BOP di bebankan atas dasar jam kerja langsung dengan tarip tetap Rp20,- per jam dan tarif variabel Rp30,- per jam.

Bila dalam bulan Mei 2003 terdapat selisih kapasitas sebesar Rp100.000,- (laba) dan selisih budget Rp25.000,- (rugi).

Dari data tersebut hitunglah BOP yang sesungguhnya ….

A.  Rp3.875.000,-

B.   Rp3.925.000,-

C.  Rp4.000.000,-

D.  Rp4.100.000,-

50.   Dari data no.49, jika dalam bulan Mei 2003 di kerjakan satu pesanan,  yaitu pesanan no. 54 sebanyak 50.000 unit. Karena sulitnya pengerjaan pesanan no. 54 sebagian rusak dalam proses produksi sehingga harus dimasukkan proses sebanyak 60.000 unit. Produk pesanan no. 54 yang rusak dapat di jual Rp200,-  per unit.

Maka hitunglah harga pokok pesanan yang diserahkan kepada pemesan ….

A.  Rp10.000.000,-

B.   Rp14.000.000,-

C.  Rp16.000.000,-

D.  Rp18.000.000,-

51.   Catatan yang digunakan untuk mencatat jam kehadiran karyawan dalam perusahaan disebut ….

A.  kartu hadir

B.   kartu jam kerja

C.  daftar gaji

D.  rekapitulasi daftar gaji

52.   Menurut fungsi pokok dalam organisasi perusahaan manufaktur, biaya tenaga kerja di bagi menjadi beberapa golongan berikut ini ….

A.  biaya tenaga kerja departemen akuntansi, departemen personalia, dan biaya tenaga kerja departemen pemasaran

B.   biaya tenaga kerja produksi, administrasi dan umum, dan biaya tenaga kerja pemasaran

C.  biaya tenaga kerja langsung dan biaya tenaga kerja tak langsung

D.  upah operator, mandor dan upah penyelia

53.   Menurut penyelidikan dibutuhkan waktu 10 menit untuk membuat 1 unit produk, maka jumlah keluaran standar per jam adalah 6 unit. Jika upah pokok sebesar Rp1.200 per jam maka tarif upah per satuan adalah Rp200,-. Karyawan tidak dapat menghasilkan jumlah standar per jam, tetap mendapat upah Rp1.200,-. Hitunglah upah karyawan yang dapat menghasilkan 8 unit per jam ….

A.  Rp1.200,-

B.   Rp1.400,-

C.  Rp1.600,-

D.  Rp1.800,-

54.   Dalam perusahaan, jika karyawan bekerja lebih dari 40 jam seminggu, maka berhak menerima uang lembur dan premi lembur. Premi lembur dihitung sebesar 50% dari tarif upah. Jika tarif upah Rp5.000,- per jam dan seorang karyawan bekerja 42 jam seminggu maka akan menerima upah ….

A.  Rp200.000,-

B.   Rp205.000,-

C.  Rp210.000,-

D.  Rp215.000,-

 

Data untuk soal no. 55 sampai dengan no. 57

55.   PT. RIYAN memproses produk melalui 2 Departemen yaitu departemen A dan Departemen B. Dalam bulan Januari 2004 laporan produksi dan biaya menunjukkan data sebagai berikut:

Keterangan

Dept A

Dept B

Produk masuk prosesProduk diterima dari Dept A

Produk selesai

Produk dalam proses akhir

penyel 80% bhn 60% konversi

penyel 60% bhn 80% konversi

Produk hilang awal proses

Biaya bahan

Biaya tanaga kerja

Biaya overhead pabrik

85.000 unit

60.000 unit

10.000 unit

15.000 unit

Rp680.000,-

Rp1.320.000,-

Rp1.320.000,-

 

60. 000 unit

40.000 unit

10.000 unit

10.000 unit

Rp1.380.000,-

Rp 880.600,-

Rp660.000,-

 

Dari data tersebut maka hitunglah unit ekuivalensi produksi untuk biaya tenaga kerja pada departemen A ….

A.  48.000

B.   54.000

C.  66.000

D.  70.000

56.   Dari soal no 55, biaya produksi per unit untuk departemen A adalah ….

A.  Rp40,-

B.   Rp50,-

C.  Rp60,-

D.  Rp70,-

57.   Dari soal no 55, ekuivalensi produksi biaya bahan departemen B adalah ….

A.  46.000

B.   48.000

C.  66.000

D.  68.000

58.   PT. ANJAR memproduksi satu jenis barang melalui 2 departemen yaitu Dept I dan Dept II. Data biaya dan produksi untuk bahan baku Januari 2004 adalah sebagai berikut:

Data produksi Dept I Dept II
produk masuk dalam prosesproduk diterima dari dept I

produk selesai

produk dalam proses 31-1-2004:

penyelesaian 100% bhn, ½ konversi

penyelesaian 100% bhn, 1/3 konversi

Produk hilang akhir proses

Data biaya:

bahan

upah

overhead pabrik

 

55.000 unit50.000 unit

3.000 unit

2.000 unit

Rp2.200.000,-

Rp2.120.000,-

Rp1.060.000,-

50.000 unit

45.000 unit

2.000 unit

3.000 unit

Rp800.000,-

Rp980.000,-

Rp490.000,-

Dari data tersebut hitunglah unit ekuivalensi biaya bahan untuk Dept I ….

A.  49.000

B.   50.000

C.  53.000

D.  55.000

59.   Dari data soal no. 58, biaya produksi per unit Dept I adalah ….

A.  Rp100,-

B.   Rp150,-

C.  Rp200,-

D.  Rp250,-

60.   Dari data soal no 58, unit ekuivalensi biaya tenaga kerja untuk Dept II adalah ….

A.  47.000

B.   49.000

C.  53.000

D.  55.000

Sumber : www.ut.ac.idfile jTriwiyanto

EKMA 4315 AKUNTANSI BIAYA

Mulyadi
R.A. Supriyono

3 sks / modul 1-9: ill.; 21 cm / Edisi 1
ISBN : 9796895706
DDC : 657.48
Copyright (BMP) © Jakarta: Universitas Terbuka, 2008

Mata kuliah ini membahas proses pencatatan, penggolongan, peringkasan dan penyajian informasi biaya untuk menentukan harga pokok produksi, baik menggunakan metode harga pokok pesanan, metode biaya standar maupun menggunakan metode harga pokok proses pada perusahaan manufaktur, konsep activity based costing. Prasyarat: EKMA4115 (Pengantar Akuntansi).

TINJAUAN MATA KULIAH

Mata kuliah Akuntansi Biaya (EKMA4315) ini membahas proses pencatatan, penggolongan, peringkasan dan penyajian informasi biaya, untuk menentukan harga pokok produksi baik dengan metode harga pokok pesanan maupun harga pokok proses dengan sistem biaya penuh (full costing), sistem biaya standar maupun sistem biaya variabel (variable costing). Informasi biaya di sini meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik. Untuk metode harga pokok proses dibahas dengan berbagai variasi, seperti adanya persediaan awal proses, produk hilang awal proses dan produk hilang akhir proses serta hal-hal yang terjadi selama proses produksi, seperti produk rusak, produk cacat dan produk sampingan dengan berbagai perlakuan akuntansinya. Dengan usaha yang serius dari Anda untuk mempelajari BMP ini akan membantu dalam memahami sehingga dapat menghitung dan membuat laporan harga pokok produksi secara benar.

BMP ini meliputi 9 modul berikut ini.
Modul 1 mengenai Akuntansi Biaya dan Pengertian Biaya. Tujuan pokok bahasan ini adalah agar Anda mampu menjelaskan pengertian akuntansi biaya, objek yang menjadi sasaran akuntansi biaya dan berbagai pengertian dasar mengenai biaya.
Modul 2 mengenai Metode Harga Pokok Pesanan. Tujuan pokok bahasan ini adalah agar Anda mampu menjelaskan dan menghitung metode pengumpulan biaya dalam perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan.
Modul 3 mengenai Biaya Overhead Pabrik. Tujuan pokok bahasan ini adalah agar Anda mampu menghitung tarif biaya overhead pabrik dalam perusahaan yang mengolah produknya melalui satu departemen produksi.
Modul 4 mengenai Departementalisasi Biaya Overhead Pabrik. Tujuan pokok bahasan ini adalah agar Anda mampu menghitung tarif biaya overhead pabrik dalam perusahaan yang mengolah produknya melalui lebih dari satu departemen produksi.
Modul 5 mengenai Biaya Bahan Baku dan Biaya Tenaga Kerja. Tujuan pokok bahasan ini adalah agar Anda mampu menjelaskan akuntansi biaya bahan baku dan tenaga kerja.
Modul 6 mengenai Metode Harga Pokok Proses Pengantar. Tujuan pokok bahasan ini adalah agar Anda mampu menjelaskan metode pengumpulan biaya produksi dan menghitung biaya produksi serta menyusun laporan biaya produksi dalam perusahaan yang memproduksi produknya secara massal.
Modul 7 mengenai Metode Harga Pokok Proses Lanjutan. Tujuan pokok bahasan ini agar Anda mampu menjelaskan metode pengumpulan biaya produksi dan menghitung biaya produksi serta menyusun laporan biaya produksi dalam perusahaan yang berproduksi secara massal dengan memperhitungkan adanya produk dalam proses pada awal periode dan memperhitungkan tambahan bahan baku dalam departemen setelah departemen produksi pertama.
Modul 8 mengenai Penentuan Harga Pokok Produk Bersama dan Produk Sampingan. Tujuan pokok bahasan ini adalah agar Anda mampu menjelaskan dan menghitung biaya bersama, produk bersama dan produk sampingan serta perlakuan akuntansinya.
Modul 9 mengenai Sistem Biaya Standar dan Penentuan Harga Pokok Variabel. Tujuan pokok bahasan ini adalah agar Anda mampu menghitung biaya standar, menjelaskan biaya standar sebagai alat pengendalian biaya dan penilaian prestasi manajer juga dapat membedakan metode penentuan harga pokok penuh dan harga pokok variabel, menyajikan informasi yang disusun berdasarkan metode harga pokok variabel, serta mengetahui keunggulan dan kelemahan harga pokok variabel.

Setelah mengikuti mata kuliah ini, Anda diharapkan dapat menjelaskan pengertian akuntansi biaya serta kedudukan akuntansi biaya dalam akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen, menghitung dan membuat laporan harga pokok produksi dengan metode harga pokok pesanan maupun metode harga pokok proses, sistem biaya standar, sistem biaya penuh maupun sistem biaya variabel.

Untuk lebih memudahkan dalam memahami Buku Materi Pokok mata kuliah ini, berikut ini disampaikan desain instruksional yang menggambarkan tujuan dari instruksional tiap topik bahasan dan kompetensi-kompetensi pendukung yang harus Anda kuasai untuk mencapai kompetensi utama mata kuliah ini.

RANGKUMAN

MODUL 1 : AKUNTANSI BIAYA DAN PENGERTIAN BIAYA

Kegiatan Belajar 1: Akuntansi Keuangan Dan Akuntansi Manajemen
Secara garis besar akuntansi dapat dibagi menjadi dua tipe pokok, yaitu akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen. Akuntansi keuangan menghasilkan informasi terutama untuk memenuhi kebutuhan pihak luar, sedangkan akuntansi manajemen menghasilkan informasi terutama untuk memenuhi kebutuhan para manajer dari berbagai jenjang organisasi.

Oleh karena perbedaan karakteristik pemakai informasinya, akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen mempunyai perbedaan karakteristik. Informasi yang dihasilkan oleh akuntansi keuangan mencakup perusahaan secara keseluruhan, berorientasi pada masa yang lalu, mempunyai rentang waktu yang kurang fleksibel, dibatasi oleh prinsip akuntansi yang lazim, ringkas, teliti, sama sekali tidak menyangkut aspek perilaku manusia dalam organisasi, serta bersumber pada ilmu ekonomi. Informasi yang dihasilkan oleh akuntansi manajemen mencakup bagian dari perusahaan, berorientasi pada masa yang akan datang, mempunyai rentang waktu yang fleksibel tidak dibatasi oleh prinsip akuntansi yang lazim, terinci, memiliki unsur taksiran yang besar, berhubungan langsung dengan perilaku manusia dalam organisasi, dan bersumber pada ilmu ekonomi dan psikologi sosial.

Pemahaman karakteristik kedua tipe akuntansi tersebut akan membantu Anda memahami karakteristik akuntansi biaya.

 

Kegiatan Belajar 2: Akuntansi Biaya Merupakan Bagian Dari Akuntansi Keuangan Dan Akuntansi Manajemen
Akuntansi biaya adalah proses pencatatan, penggolongan, peringkasan dan penyajian biaya pembuatan dan penjualan produk atau jasa, dengan cara-cara tertentu, serta penafsiran terhadapnya.

Akuntansi biaya menghasilkan informasi biaya untuk memenuhi berbagai macam tujuan. Untuk tujuan penentuan harga pokok produk, akuntansi biaya menyajikan biaya yang telah terjadi di masa yang lalu. Untuk tujuan pengendalian biaya, akuntansi biaya menyajikan informasi biaya yang diperkirakan akan terjadi dengan biaya yang sesungguhnya terjadi, kemudian menyajikan analisis terhadap penyimpangannya. Untuk tujuan pengambilan keputusan khusus, akuntansi biaya menyajikan biaya yang relevan dengan keputusan yang akan diambil, dan biaya yang relevan dengan pengambilan keputusan khusus ini selalu berhubungan dengan biaya masa yang akan datang.

Akuntansi biaya dapat berperan sebagai bagian dari akuntansi keuangan. Dalam hal ini, akuntansi biaya harus memenuhi karakteristik akuntansi keuangan seperti yang telah dibahas dalam Kegiatan Belajar 1. Akuntansi biaya dapat pula berperan sebagai bagian dari akuntansi manajemen. Dalam hal ini, akuntansi biaya harus memenuhi karakteristik akuntansi manajemen, seperti telah dibahas dalam Kegiatan Belajar 1.

 

Kegiatan Belajar 3: Biaya
Biaya merupakan objek yang diproses oleh akuntansi biaya. Dalam arti luas biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu.

Tidak semua pengorbanan sumber ekonomi disebut dengan istilah biaya. Istilah lain yang digunakan untuk menggambarkan pengorbanan sumber ekonomi, baik yang sudah terjadi maupun yang secara potensial akan terjadi adalah harga pokok dan rugi.

 

Kegiatan Belajar 4: Struktur Organisasi Dan Proses Produksi Suatu Perusahaan Manufaktur
Akuntansi biaya dapat diterapkan baik dalam perusahaan manufaktur maupun perusahaan jasa. Dalam Modul 1 sampai dengan Modul 9, akuntansi biaya yang akan dibahas adalah akuntansi biaya yang diterapkan dalam perusahaan manufaktur.

Perusahaan manufaktur adalah perusahaan yang kegiatan pokoknya mengolah bahan baku menjadi produk jadi dan memasarkan hasil produksinya tersebut. Ada tiga fungsi pokok dalam organisasi perusahaan manufaktur: fungsi produksi, fungsi pemasaran dan fungsi administrasi dan umum.

Bagian-bagian yang dibentuk untuk melaksanakan fungsi produksi di bagi menjadi dua kelompok: bagian-bagian yang mengolah secara langsung bahan baku menjadi produk jadi dan bagian-bagian yang membantu menyediakan jasa untuk memperlancar proses pengolahan bahan baku departemen-departemen produksi dan kelompok kedua disebut departemen-departemen pembantu (jasa).

 

Kegiatan Belajar 5: Cara Penggolongan Biaya
Biaya dapat dikelompokkan menjadi berbagai macam kelompok biaya sesuai dengan kebutuhan pemakai. Pengelompokan biaya yang paling sederhana dan paling mendasar, yang selalu dilakukan oleh setiap perusahaan adalah pengelompokan biaya menurut objek pengeluaran. Biaya dapat dikelompokkan menurut fungsi-fungsi pokok dalam perusahaan, menurut hubungan biaya dengan sesuatu yang dibiayai, menurut perilakunya dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan dan menurut jangka waktu manfaatnya.

 

Kegiatan Belajar 6: Metode Pengumpulan Harga Pokok Produk
Secara garis besar proses pengolahan produk dalam perusahaan manufaktur dapat dibagi menjadi dua kelompok besar: proses produksi berdasar pesanan dan proses produksi massa. Perusahaan yang proses produksinya berdasar pesanan mengumpulkan biaya produksinya dengan metode harga pokok pesanan. Perusahaan yang proses produksinya berupa produksi massa mengumpulkan biaya produksinya dengan metode harga pokok proses.

Laporan laba-rugi perusahaan manufaktur dan laporan laba-rugi perusahaan dagang berbeda elemen yang tercantum di dalamnya.

 

Kegiatan Belajar 7: Sistem Akuntansi Biaya
Secara garis besar sistem akuntansi biaya dibagi menjadi tiga, yaitu (1) sistem biaya sesungguhnya, (2) sistem biaya normal, dan (3) sistem biaya standar. Sistem biaya sesungguhnya adalah sistem pembebanan biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik pada produk berdasar biaya sesungguhnya. Sistem biaya normal adalah sistem pembebanan biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung pada produk berdasar biaya sesungguhnya, sedangkan biaya overhead pabrik berdasar tarif yang ditentukan di muka. Sistem biaya standar adalah sistem pembebanan biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik pada produk berdasar biaya seharusnya.

 

Kegiatan Belajar 8: Metode Pembiayaan (Costing)
Perusahaan dapat menggunakan dua metode costing yaitu: (1) metode costing penuh, dan (2) metode costing variabel. Metode costing penuh memasukkan semua biaya produksi ke dalam biaya produk, sedangkan metode costing variabel hanya memasukkan biaya produksi variabel ke dalam biaya produk. Metode costing penuh menggunakan pendekatan fungsional untuk menyusun laporan laba-rugi, sedangkan metode costing variabel menggunakan pendekatan variabilitas. Metode costing penuh digunakan oleh pihak eksternal, sedangkan metode costing variabel banyak digunakan oleh pihak internal perusahaan.

 

MODUL 2 : METODE HARGA POKOK PESANAN

Kegiatan Belajar 1: Siklus Akuntansi Biaya Dalam Perusahaan Manufaktur
Siklus akuntansi biaya dalam suatu perusahaan mengikuti siklus kegiatan usaha perusahaan yang bersangkutan. Siklus kegiatan perusahaan dagang dimulai dengan pembelian barang dagangan dan tanpa melalui pengolahan lebih lanjut, diakhiri dengan penjualan kembali barang dagangan tersebut. Dalam perusahaan tersebut, siklus akuntansi biaya juga dimulai dengan pencatatan harga pokok barang dagangan yang dibeli dan berakhir dengan penyajian harga pokok barang yang dijual. Siklus perusahaan jasa dimulai dengan persiapan penyerahan jasa dan berakhir dengan penyerahan jasa kepada pemakainya. Dalam perusahaan tersebut, siklus akuntansi biaya dimulai dengan pencatatan biaya persiapan penyerahan jasa dan berakhir dengan disajikannya harga pokok jasa yang diserahkan. Siklus perusahaan manufaktur dimulai dengan pengolahan bahan baku di bagian produksi dan berakhir dengan penyerahan produk jadi ke bagian gudang. Dalam perusahaan tersebut, siklus akuntansi biaya dimulai dengan pencatatan harga pokok bahan baku yang dimasukkan dalam proses produksi, dilanjutkan dengan pencatatan biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik yang dikonsumsikan untuk produksi serta berakhir dengan disajikannya harga pokok produk jadi yang diserahkan oleh bagian produksi ke bagian gudang.

 

Kegiatan Belajar 2: Karakteristik Metode Harga Pokok Pesanan
Perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan memproses produksinya sesuai dengan spesifikasi pemesan, dan proses produksinya terputus-putus untuk memenuhi pesanan. Karakteristik kegiatan perusahaan ini menentukan karakteristik metode harga pokok pesanan yang digunakan untuk mengumpulkan biaya produksi dalam perusahaan tersebut.

Akuntansi biaya banyak sekali menggunakan rekening pembantu yang diawasi dengan membentuk rekening kontrol biaya dalam buku besar. Rekening kontrol yang digunakan untuk menampung biaya produksi adalah rekening-rekening: Barang dalam Proses, Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya dan Biaya Overhead Pabrik yang Dibebankan. Rekening kontrol untuk menampung biaya nonproduksi adalah rekening-rekening: Biaya Administrasi dan Umum dan Biaya Pemasaran. Untuk merinci biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi pesanan tertentu digunakan kartu harga pokok produk, yang berfungsi sebagai rekening pembantu rekening Barang dalam Proses yang terdapat dalam buku besar.

 

Kegiatan Belajar 3: Metode Harga Pokok Pesanan
Dalam metode harga pokok proses, biaya produksi dibagi menjadi dua kelompok: biaya produksi langsung dan biaya produksi tak langsung.

Biaya produksi langsung dibebankan kepada pesanan berdasarkan biaya yang sesungguhnya terjadi, sedangkan biaya produksi tak langsung dibebankan kepada produk berdasarkan tarif yang ditentukan di muka. Untuk mencatat biaya produksi, baik yang langsung maupun tak langsung, di dalam buku besar disediakan rekening Barang Dalam Proses. Untuk merinci biaya produksi yang dicatat dalam rekening Barang Dalam Proses tersebut, dibentuk rekening pembantu berupa Kartu Harga Pokok.

 

MODUL 3 : BIAYA OVERHEAD PABRIK

Kegiatan Belajar 1: Penggolongan Biaya Overhead Pabrik
Perusahaan yang melaksanakan aktivitas suatu produk akan dibebani biaya overhead pabrik di samping biaya-biaya lain yang lebih penting. Hal ini biaya produksi yang termasuk dalam biaya overhead pabrik menurut sifatnya dapat dikelompokkan menjadi beberapa golongan, yaitu biaya bahan penolong, biaya reparasi dan pemeliharaan, biaya tenaga kerja tak langsung, beban biaya yang timbul sebagai akibat penilaian terhadap aktiva tetap, beban biaya yang timbul sebagai akibat berlalunya waktu, dan biaya overhead pabrik lain yang secara langsung memerlukan pengeluaran uang tunai.

Apabila ditinjau dari perilaku unsur-unsur biaya overhead pabrik dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan maka biaya overhead pabrik dapat dibagi menjadi tiga golongan, yaitu biaya overhead pabrik tetap, Biaya overhead pabrik variabel, dan biaya overhead pabrik semivariabel.

Adapun unsur biaya overhead pabrik yang bersifat semivariabel dalam keperluan penentuan tarif dan pengendalian biaya, hal ini dapat dipecah menjadi dua yaitu: biaya tetap dan biaya variabel.

Perusahaan di samping memiliki departemen produksi, juga mempunyai departemen-departemen pembantu. Dari hubungan antar departemen yang ada dalam pabrik maka biaya overhead pabrik dikelompokkan menjadi dua, yaitu biaya overhead pabrik langsung departemen dan biaya overhead pabrik tak langsung departemen.

 

Kegiatan Belajar 2: Langkah-Langkah Penentuan Tarif Biaya Overhead Pabrik
Dalam perusahaan yang produksinya berdasar pesanan, biaya overhead pabrik dibebankan kepada produk atas dasar tarif yang ditentukan di muka. Alasan penggunaan tarif yang ditentukan di muka untuk memperhitungkan biaya overhead pabrik ke dalam harga pokok produk adalah kebutuhan manajemen akan informasi harga pokok produk yang tidak dipengaruhi oleh adanya: perubahan tingkat kegiatan produksi yang bersifat sementara, perubahan tingkat efisiensi produksi, terjadinya biaya overhead yang bersifat sporadik, dan adanya biaya overhead yang terjadinya hanya pada saat-saat tertentu saja. Di samping itu, dalam perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan, manajemen memerlukan informasi harga pokok produk per satuan pada saat pesanan selesai dikerjakan, sedangkan beberapa elemen biaya overhead pabrik ada yang baru dapat diketahui jumlahnya dengan pasti pada akhir periode. Dengan demikian, penggunaan tarif biaya overhead pabrik yang ditentukan di muka untuk membebankan jenis biaya tersebut kepada produk, merupakan sesuatu keharusan.

Ada tiga tahap yang harus dilakukan untuk menghitung tarif biaya overhead pabrik, yaitu menyusun anggaran biaya overhead pabrik, memilih dasar pembebanan, dan menghitung tarif biaya overhead pabrik. Dasar yang dapat dipakai sebagai dasar pembebanan biaya overhead pabrik kepada produk adalah satuan produk, biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, jam tenaga kerja langsung dan jam mesin.

 

Kegiatan Belajar 3: Pengumpulan Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Dan Analisis Selisih Biaya Overhead Pabrik
Setelah tarif biaya overhead pabrik ditentukan, produk yang diproduksi dalam tahun anggaran dibebani biaya overhead pabrik dengan tarif tersebut. Dalam tahun anggaran tersebut dikumpulkan biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi. Pada akhir tahun, biaya overhead yang dibebankan kepada produk berdasarkan tarif dibandingkan dengan biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi. Selisih yang terjadi antara biaya overhead pabrik yang dibebankan berdasarkan tarif dengan biaya overhead yang sesungguhnya terjadi dianalisis menjadi dua macam selisih: selisih anggaran dan selisih kapasitas. Selisih tersebut pada akhir tahun diperlakukan sebagai penyesuaian terhadap rekening-rekening persediaan dan harga pokok penjualan atau diperlakukan sebagai penyesuaian perhitungan laba-rugi.

 

MODUL 4 : DEPARTEMENTALISASI BIAYA OVERHEAD PABRIK

Kegiatan Belajar 1: Langkah-Langkah Penentuan Tarif Biaya Overhead Pabrik Per Departemen
Untuk pengendalian biaya dan penentuan harga pokok produk secara teliti, perlu diadakan departementalisasi biaya overhead pabrik dan ditentukan tarif biaya overhead pabrik per departemen produksi. Penentuan tarif biaya overhead pabrik per departemen ini sangat diperlukan dalam perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan, yang produknya diolah melalui lebih dari satu departemen produksi. Pada dasarnya penentuan tarif biaya overhead pabrik per departemen tidak berbeda langkahnya dengan penentuan tarif tunggal untuk seluruh pabrik. Masalah yang perlu mendapat perhatian dalam penentuan tarif biaya overhead pabrik per departemen adalah alokasi biaya overhead pabrik departemen pembantu ke departemen pembantu lainnya dan ke departemen produksi. Secara garis besar alokasi biaya overhead pabrik departemen pembantu ke departemen produksi dapat dikelompokkan menjadi dua macam: metode alokasi langsung dan metode alokasi bertahap. Metode alokasi langsung dibahas dalam Kegiatan Belajar 1 ini, sedangkan metode alokasi bertahap dibahas dalam Kegiatan Belajar 2 dan Kegiatan Belajar 3.

 

Kegiatan Belajar 2: Metode Alokasi Bertahap Yang Memperhitungkan Jasa Timbal Balik Antardepartemen Pembantu
Dalam Kegiatan Belajar 2 ini Anda telah mempelajari bagaimana mengalokasikan biaya overhead pabrik dengan memperhitungkan jasa timbal balik yang dikonsumsi oleh departemen pembantu. Metode yang digunakan untuk memperhitungkan transfer jasa timbal balik antardepartemen pembantu tersebut adalah metode alokasi kontinu dan metode aljabar. Dua metode tersebut akan menjamin perhitungan tarif alokasi biaya departemen pembantu yang lebih teliti. bila dibandingkan Dengan metode alokasi langsung yang telah Anda pelajari dalam Kegiatan Belajar 1.

 

Kegiatan Belajar 3: Metode Alokasi Bertahap Yang Tidak Memperhitungkan Transfer Jasa Timbal Balik Antardepartemen Pembantu
Dalam Kegiatan Belajar 3 Anda telah mempelajari secara lengkap mengenai bagaimana mengalokasikan biaya overhead pabrik departemen pembantu ke departemen pembantu lain dan departemen produksi tanpa memperhitungkan jasa timbal balik antardepartemen pembantu, perhitungan tarif biaya overhead per departemen produksi, perhitungan pembebanan lebih atau kurang biaya overhead pabrik. Dengan demikian Anda telah mempelajari secara lengkap saluran aspek akuntansi biaya overhead pabrik dan sudah siap untuk mempelajari akuntansi elemen harga pokok produk yang lain, yang akan saya sajikan dalam Modul 5 (Akuntansi Biaya Bahan dan Akuntansi biaya Tenaga kerja).

 

MODUL 5
BIAYA BAHAN BAKU DAN BIAYA TENAGA KERJA

Kegiatan Belajar 1: Elemen Biaya yang Membentuk Harga Pokok Bahan Baku yang Dibeli
Menurut prinsip akuntansi yang lazim, semua biaya yang terjadi untuk memperoleh bahan baku dan untuk menempatkannya dalam keadaan siap untuk diolah, merupakan elemen harga pokok bahan baku yang dibeli. Harga pokok bahan baku terdiri dari harga beli yang tercantum dalam faktur dari penjual ditambah biaya angkutan, biaya-biaya pembelian lain serta biaya yang dikeluarkan untuk menyiapkan bahan baku tersebut dalam keadaan siap untuk diolah.

Biaya angkutan dapat diperlakukan dengan dua cara; diperhitungkan sebagai tambahan harga pokok bahan baku yang dibeli atau diperlakukan sebagai elemen biaya overhead pabrik. Biaya angkutan diperhitungkan sebagai tambahan harga pokok bahan baku yang dibeli dengan dasar perbandingan kuantitas, perbandingan harga faktur atau dengan tarif yang ditentukan di muka.

Dalam memperhitungkan biaya-biaya unit organisasi yang terkait dalam perolehan bahan baku, perusahaan membuat tarif pembebanan biaya pembelian untuk dibebankan kepada bahan baku yang dibeli.

 

Kegiatan Belajar 2: Penentuan Harga Pokok Bahan Baku Yang Dipakai Dalam Produksi
Bahan baku yang disimpan di gudang berasal dari berbagai pembelian, yang kemungkinan besar mempunyai harga per satuan yang berbeda dari pembelian yang satu ke pembelian yang lain. Hal ini menimbulkan masalah pemilihan harga pokok per satuan bahan baku yang dipakai dalam produksi, metode penentuan harga pokok bahan yang dipakai dalam produksi adalah: metode identifikasi khusus, metode rata-rata bergerak, MTKP, metode biaya standar, metode rata-rata harga pokok bahan baku pada akhir bulan.

Pencatatan persediaan bahan baku dapat dilakukan dengan metode mutasi persediaan atau metode persediaan fisik.

 

Kegiatan Belajar 3: Masalah-Masalah Khusus Yang Berhubungan Dengan Bahan Baku
Sisa bahan merupakan bahan baku yang rusak dalam proses produksi sehingga tidak dapat menjadi bagian produk jadi. Jika sisa bahan tidak mempunyai nilai jual, akibat yang ditimbulkan adalah harga pokok per satuan produk jadi menjadi lebih tinggi. Jika sisa bahan masih mempunyai nilai jual, masalah yang timbul adalah bagaimana memperlakukan hasil penjualan sisa bahan tersebut. Hasil penjualan sisa bahan dapat diperlakukan sebagai pengurang biaya bahan baku pesanan yang menghasilkan sisa bahan tersebut, sebagai pengurang biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi atau sebagai pendapatan di luar usaha.

Produk rusak adalah produk yang tidak memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan, yang secara ekonomis tidak dapat diperbaiki menjadi produk yang baik. Masalah akuntansi yang timbul dari adanya produk rusak adalah bagaimana memperlakukan kerugian yang timbul dari adanya produk rusak tersebut. Kerugian adanya produk rusak dapat dibebankan kepada pesanan yang menghasilkannya atau diperhitungkan sebagai elemen biaya overhead pabrik.

Produk cacat adalah produk yang tidak memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan, namun dengan mengeluarkan biaya pengerjaan kembali untuk memperbaikinya, produk tersebut secara ekonomis dapat disempurnakan lagi menjadi produk jadi yang baik. Masalah akuntansi yang timbul dari adanya produk cacat adalah bagaimana memperlakukan biaya pengerjaan kembali produk cacat tersebut. Biaya pengerjaan kembali produk cacat dapat dibebankan kepada pesanan yang menghasilkan produk cacat tersebut atau diperlukan sebagai elemen biaya overhead pabrik.

 

Kegiatan Belajar 4: Pengertian Biaya Tenaga Kerja Dan Cara Penggolongannya
Dalam perusahaan biaya tenaga kerja digolongkan dengan berbagai macam cara: menurut fungsinya pokok dalam perusahaan, menurut kegiatan bagian-bagian dalam perusahaan, menurut jenis pekerjaan, dan menurut hubungannya dengan produk atau jasa yang dihasilkan.

Akuntansi biaya tenaga kerja melalui empat tahap: pencatatan distribusi biaya tenaga kerja, pencatatan utang upah, pencatatan pembayaran upah kepada karyawan yang berhak, dan penyetoran pajak penghasilan karyawan ke Kas Negara.

 

MODUL 6 : METODE HARGA POKOK PROSES PENGANTAR

Kegiatan Belajar : Metode harga pokok proses tanpa memperhitungkan persediaan produk dalam proses awal
Metode harga pokok proses diterapkan untuk mengolah informasi biaya produksi dalam perusahaan yang produksinya dilakukan secara massa. Metode harga pokok proses berbeda dengan metode harga pokok pesanan dalam hal pengumpulan biaya produksi, perhitungan harga pokok per satuan, klasifikasi biaya produksi, pengelompokan biaya yang dimasukkan dalam elemen biaya overhead pabrik.

Masalah pokok yang terdapat dalam metode harga pokok proses adalah bagaimana menentukan harga pokok produk selesai yang ditransfer ke Departemen produksi berikutnya atau ke gudang dan bagaimana menentukan harga pokok produk yang pada akhir periode masih dalam proses di suatu departemen untuk menentukan harga pokok tersebut, diperlukan perhitungan biaya produksi per satuan produk yang dihasilkan oleh suatu departemen untuk menghitung biaya per satuan produk yang dihasilkan oleh suatu departemen, perlu ditentukan unit ekuivalensi. Unit ekuivalensi ini dipengaruhi oleh jumlah produk selesai yang ditransfer ke departemen pada akhir periode, dan ada tidaknya produk yang hilang dalam proses

 

MODUL 7 : METODE HARGA POKOK PROSES LANJUTAN

Kegiatan Belajar : Persediaan Produk Dalam Proses Awal
Harga pokok produk dalam proses awal menimbulkan masalah penentuan harga pokok produk selesai yang ditransfer dari suatu departemen ke departemen produksi berikutnya atau ke gudang. Untuk mengatasi masalah tersebut ada dua metode penentuan harga pokok: metode harga pokok rata-rata tertimbang dan metode masuk pertama, ke luar pertama.

Dalam metode harga pokok rata-rata tertimbang, tiap elemen harga pokok yang melekat pada produk dalam proses dijumlahkan dengan elemen biaya produksi yang dikeluarkan dalam periode sekarang untuk menghitung harga pokok rata-rata tertimbang. Kemudian, harga pokok rata-rata tertimbang ini dikaitkan dengan kuantitas produk selesai yang ditransfer ke departemen berikutnya atau ke gudang untuk menentukan harga pokok produk tersebut.

Dalam metode masuk pertama ke luar pertama, harga pokok produk dalam proses awal merupakan harga pokok pertama yang membentuk harga pokok produk yang ditransfer ke departemen berikutnya atau ke gudang.

Tambahan bahan baku di departemen setelah departemen produksi yang pertama mempunyai dua kemungkinan: menambah jumlah produk yang dihasilkan oleh departemen yang bersangkutan atau tidak menambah jumlah produk yang dihasilkan dalam departemen yang bersangkutan. Jika bahan baku tersebut tidak menambah jumlah produk yang dihasilkan dalam departemen yang bersangkutan, tambahan biaya bahan baku tersebut hanya menambah biaya bahan baku per satuan dalam departemen tersebut. Jika bahan baku tersebut menambah jumlah produk yang dihasilkan oleh departemen yang bersangkutan, tambahan bahan baku tersebut akan berakibat terhadap penyesuaian harga pokok per satuan produk yang berasal dari departemen sebelumnya dan tambahan biaya bahan baku per satuan dalam departemen setelah departemen produksi pertama.

 

MODUL 8 : PENENTUAN HARGA POKOK PRODUK BERSAMA DAN PRODUK SAMPINGAN

Kegiatan Belajar : Biaya Bersama
Untuk kepentingan penentuan penghasilan dan perhitungan harga pokok persediaan, biaya bersama perlu dialokasikan kepada produk bersama. Empat, metode alokasi biaya bersama kepada produk bersama adalah: metode nilai jual relatif, metode satuan fisik, metode rata-rata biaya per satuan, dan metode rata-rata tertimbang. Oleh KARENA produk sampingan merupakan produk yang mempunyai nilai jual relatif jauh lebih rendah dibandingkan dengan produk utamanya maka ada dua kelompok metode perlakuan terhadap produk sampingan. Kelompok metode yang pertama tidak berusaha untuk mengalokasikan biaya bersama kepada produk sampingan karena rendahnya nilai jual produk sampingan tersebut, sedangkan kelompok metode kedua berusaha mengalokasikan biaya bersama kepada produk sampingan.

 

MODUL 9 : SISTEM BIAYA STANDAR DAN PENENTUAN HARGA POKOK VARIABEL

Kegiatan Belajar 1: Definisi Dan Deskripsi Sistem Biaya Standar
Sistem biaya standar merupakan proses untuk menentukan biaya di muka yang mencerminkan biaya yang seharusnya untuk mengolah produk atau jasa, mengumpulkan biaya sesungguhnya, menghitung dan menganalisis selisih, serta perlakuan selisih biaya yang timbul.

Beberapa manfaat yang diperoleh dengan pemakaian sistem biaya standar, antara lain untuk:

  1. perencanaan kegiatan;
  2. koordinasi kegiatan antarbagian;
  3. pengambilan keputusan;
  4. pengendalian biaya;
  5. memungkinkan penerapan prinsip pengecualian;
  6. penentuan insentif para personal, serta
  7. mengurangi biaya administrasi.

Kegiatan Belajar 2: Prosedur Akuntansi Biaya Standar, Analisis Selisih Komposisi dan Selisih Hasil
Ada dua prosedur akuntansi biaya standar yakni pertama, metode rancangan tunggal (single plan) dan kedua, metode rancangan berat sebelah atau metode rancangan parsial (partial plan).

Apabila menggunakan metode single plan maka ketentuannya adalah sebagai berikut:

  1. jika ada produk dalam proses awal maka produk tersebut dimasukkan kembali ke rekening barang dalam proses sebesar standarnya;
  2. biaya pada periode tersebut dimasukkan ke rekening barang dalam proses sebesar standarnya sehingga selisih biaya harus dihitung dan dianalisis terlebih dahulu;
  3. adanya produk selesai dipindahkan dari rekening barang dalam proses ke rekening persediaan produk selesai sebesar standarnya;
  4. adanya produk dalam proses akhir periode dipindahkan dari rekening barang dalam proses ke rekening persediaan produk dalam proses sebesar standarnya.

Apabila digunakan metode partial plan maka ketentuannya adalah sebagai berikut:

  1. jika ada produk dalam proses awal maka produk tersebut dimasukkan kembali ke rekening barang dalam proses sebesar standarnya;
  2. biaya pada periode tersebut dimasukkan ke rekening barang dalam proses sebesar biaya sesungguhnya;
  3. adanya produk selesai dipindahkan dari rekening barang dalam proses ke rekening persediaan produk selesai sebesar standarnya;
  4. adanya produk dalam proses akhir periode dipindahkan dari rekening barang dalam proses ke rekening persediaan produk dalam proses sebesar standarnya; serta
  5. selisih biaya harus dihitung dan dianalisis pada akhir periode dari perbedaan sebelah debet dengan sebelah kredit rekening barang dalam proses.

 

Kegiatan Belajar 3: Perbedaan Harga Pokok Penuh Dan Harga Pokok Variabel
Penentuan harga pokok variabel bermanfaat untuk pengendalian manajemen dalam jangka pendek, khususnya untuk perencanaan, pembuatan keputusan, dan pengendalian. Metode harga pokok penuh memasukkan semua elemen biaya produksi, baik tetap maupun variabel, ke dalam harga pokok produk. Metode harga pokok variabel hanya memasukkan elemen biaya produksi variabel ke dalam harga pokok produk. Terdapat perbedaan antara metode harga pokok penuh dan harga pokok variabel. Perbedaan tersebut dapat ditinjau dari segi elemen harga pokok, besarnya harga pokok persediaan, susunan laporan laba-rugi, besarnya laba-rugi.

 

Kegiatan Belajar 4: Penerapan Metode Penentuan Harga Pokok dan Kelemahan Harga Pokok Variabel
Kegiatan Belajar 4 ini lebih menegaskan bahwa perbedaan laba antara metode harga pokok penuh dan metode harga pokok variabel dipengaruhi oleh perbedaan volume produksi dengan volume penjualan atau perbedaan persediaan akhir dengan persediaan awal. Perbedaan tersebut besarnya ditentukan oleh biaya produksi tetap satuan. Harga pokok persediaan pada metode harga pokok penuh selalu lebih tinggi dibandingkan dengan pada metode harga pokok variabel. Metode harga pokok variabel mengandung beberapa kelemahan, yaitu untuk pelaporan pihak luar, pemisahan biaya tetap dan variabel, dan penyimpangan asas pemanfaatan fasilitas.

 

DAFTAR PUSTAKA

  • Cashin James. Polimeni. (1981). Cost Accounting. McGraw-Hill Book Company.
  • Garrison stay. H. (1982). Managerial Accounting, Concept for Planning, Control, Decision Making. Business Publications, Inc.
  • Mulyadi. (1980). Akuntansi Biaya, Penentuan Harga Pokok Produk. Edisi 3. BPFE.
  • Mulyadi. (1983). Akuntansi Biaya Untuk Manajemen. Edisi 4. BPFE.
  • R.A. Supriyono. (1999). Akuntansi Biaya Buku I: Pengumpulan Biaya dan Penentuan Harga Pokok. Edisi 2. Cetakan Ke XII Yogyakarta: BPFE.
  • R.A. Supriyono. (1999). Soal dan Jawaban Akuntansi Biaya Bagian I. Yogyakarta: BPFE.
  • R.A. Supriyono. (1999). Akuntansi Biaya Buku II: Perencanaan, Pengendalian, serta Pembuatan Keputusan. Edisi 2. Yogyakarta: BPFE.
  • R.A. Supriyono. (1999). Soal dan Jawaban Akuntansi Biaya Bagian II. Yogyakarta: BPFE.
  • Matz dan Usry. (1976). Cost Accounting: Planning and Control. Edisi 6, Chapter 22. USA: South Western Publishing Co.

Sumber : www.ut.ac.idfile jTriwiyanto

PANDUAN

MATA KULIAH LABORATORIUM AUDITING

(EKSI4414)

Untuk   Mahasiswa UT

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS TERBUKA

2006

 

KATA PENGANTAR

Mata Kuliah Laboratorium Auditing (EKSI4414) merupakan mata kuliah keahlian berkarya yang bersifat praktik. Oleh karena itu, dalam proses pembelajarannya memerlukan praktikum. Istilah praktikum dalam mata kuliah ini berbeda dengan praktikum di perguruan tinggi tatap muka karena pelaksanaan praktikum dapat dilakukan mahasiswa secara individu atau kelompok dengan menggunakan layanan bantuan belajar yang telah disediakan UT. Kegiatan berpraktikum merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam pencapaian keberhasilan mahasiswa pada mata kuliah ini. Untuk mendukung hal itu diperlukan adanya buku panduan bagi mahasiswa.

Melalui buku panduan ini mahasiswa dapat memperoleh informasi tentang Mata Kuliah Laboratorium Auditing (EKSI4414) yang berkaitan dengan proses registrasi, program yang ditawarkan, Bahan Ajar, orientasi studi, sistem pembelajaran, dan sistem evaluasi hasil belajar.

Harapan kami semoga buku panduan ini bermanfaat dalam memeperlancar proses belajar mahasiswa yang mengambil matakuliah Laboratorium Auditing (EKSI4414).

Jakarta, Februari 2006

Dekan Fakultas Ekonomi,

Drs. Yun Iswanto, M.Si

NIP.131675901

 

DAFTAR ISI

Hal.
I. Kata Pengantar

i

II. Daftar Isi

ii

III. LATAR BELAKANG

1

IV. TUJUAN

1

V. RUANG LINGKUP

1

VI. PROSEDUR KEGIATAN

2

Registrasi

2

Bahan Ajar

3

Orientasi Studi

3

Sistem Pembelajaran

3

Sistem Evaluasi Hasil Belajar

8

VII. PENUTUP

10

 

I.       LATAR BELAKANG

Program Studi S1 Akuntansi UT resmi dibuka dan menerima mahasiswa pertama kali pada registrasi 2006.1. Tujuan penyelenggaraan program ini adalah menghasilkan Sarjana Ekonomi di bidang studi akuntansi yang mempunyai kompetensi akademik secara memadai di bidang ekonomi dan akuntansi, berakhlak baik, dan mampu beradaptasi terhadap berbagai perubahan secara responsif, antisipatif dan terbuka. Secara kurikuler program ini diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang mampu menganalisis informasi keuangan dan masalah-masalahnya dalam entitas bisnis dengan baik.

Salah satu cara untuk mencapai tujuan di atas dilakukan dengan menyusun kurikulum yang bermuatan mata kuliah berpraktikum. Salah satu mata kuliah berpraktikum adalah mata kuliah Laboratorium Auditing (EKSI4414)). Agar dapat membantu mahasiswa mencapai kompetensi yang diharapkan maka proses pembelajaran mata kuliah ini didesain dengan menggunakan beberapa modus, seperti belajar mandiri, praktikum, dan tutorial on-line (TUTON). Untuk membantu mahasiswa melakukan kegiatan belajar mata kuliah Laboratorium Auditing (EKSI4414) disusunlah buku panduan ini  berisi tentang hal-hal yang berkaitan dengan proses belajar mata kuliah Laboratorium Auditing (EKSI4414).

II.    TUJUAN

Panduan ini disusun untuk membantu mahasiswa dalam mengikuti proses belajar mata kuliah Laboratorium Auditing (EKSI4414) secara optimal.

III. RUANG LINGKUP

Materi yang tercakup dalam panduan ini meliputi:

1.      Registrasi

2.      Bahan ajar

3.      Orientasi studi

4.      Sistem pembelajaran, dan

5.      Sistem evaluasi hasil belajar

IV.  PROSEDUR KEGIATAN

1.      Registrasi

Registrasi adalah proses pendaftaran dan pencatatan data pribadi dan mata kuliah dari mahasiswa yang akan mengikuti proses belajar di UT. Registrasi untuk mahasiswa Program Studi S1 Akuntansi dapat dilakukan secara langsung di UPBJJ-UT atau berkas registrasi dikirim melalui jasa Pos ke UPBJJ-UT terdekat yang menyelenggarakan Program Studi S1 Akuntansi. Untuk tahap pertama, Program Studi S1 Akuntansi akan diselenggarakan di tiga UPBJJ-UT yaitu Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya.

Ada dua jenis registrasi, yaitu registrasi pertama dan registrasi mata kuliah. Registrasi pertama merupakan pencatatan data pribadi mahasiswa dan pendaftaran mata kuliah yang akan ditempuh pada semester pertama.

Registrasi mata kuliah dilakukan oleh mahasiswa yang telah terdaftar pada setiap masa registrasi (per semester) sebagai prasyarat untuk dapat mengikuti proses belajar dan Ujian Akhir Semester (UAS), contohnya registrasi mata kuliah Laboratorium Auditing (EKSI4414). Langkah-langkah registrasi mata kuliah Laboratorium Auditing (EKSI4414) adalah sebagai berikut:

a.       Mengambil blangko Tanda Bukti Setor UT (TBS-UT) di BRI.

b.      Mengisi TBS-UT dengan memperhatikan petunjuk yang ada.

c.       Membayar biaya pendidikan sesuai dengan ketentuan, melalui Kantor Cabang BRI menggunakan TBS-UT, SPP Reguler nomor rekening:0998-01-000053-30-1.

d.      Menyerahkan TBS-UT lembar ke-2 yang telah divalidasi oleh BRI kepada UPBJJ-UT.

e.       Meminta bukti registrasi kepada petugas UPBJJ-UT.

f.        Memeriksa kebenaran bukti registrasi yang telah diterima.

g.       Mengambil Kartu Tanda Peserta Ujian (KTPU) paling lambat 4 (empat) hari sebelum pelaksanaan ujian.

h.       Bagi mahasiswa yang akan memanfaatkan layanan bantuan belajar Praktikum Tatap Muka dapat menghubungi UPBJJ-UT terdekat.

i.         Bagi mahasiswa yang akan memanfaatkan layanan bantuan belajar TUTON, dapat meregistrasi langsung melalui web site UT.

Tabel 1.

Jadwal registrasi.

Semester

Waktu

Genap Minggu II Juli s/d minggu I Agustus
Ganjil Minggu II Februari s/d minggu I Maret

Registrasi mata kuliah Laboratorium Auditing (EKSI4414) disarankan diregistrasi pada setelah menempuh mata kuliah Auditing II (EKSI4310) karena mahasiswa diharapkan telah menguasai konsep dasar sebelum melakukan praktikum.

2.      Bahan Ajar

Bahan ajar utama mata kuliah Laboratorium Pengantar Akuntansi (EKSI4414) terdiri dari paket bahan ajar cetak dan non cetak. Bahan ajar cetak berupa Buku Materi Pokok (BMP) yang biasa disebut modul. Selain modul mahasiswa wajib memiliki naskah soal praktikum dan Buku Kerja Laboratorium yang disediakan secara terpisah dari modul.

Bahan ajar non cetak adalah materi yang disajikan dalam bentuk Computer Assisted Instruction (CAI). Paket bahan ajar dapat diperoleh di UPBJJ-UT terdekat atau di koperasi KARUNIKA UT Pusat.

3.      Orientasi matakuliah.

Orientasi mata kuliah diselenggarakan oleh UPBJJ-UT. Orientasi mata kuliah bertujuan untuk:

a.       memperkenalkan proses belajar mata kuliah Laboratorium Pengantar Akuntansi (EKSI4101) kepada mahasiswa.

b.      memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk berinteraksi dengan mahasiswa lain serta pengelola (UPBJJ-UT).

Informasi lebih jauh mengenai pelaksanaan Orientasi mata kuliah dapat diperoleh melalui UPBJJ-UT.

4.      Sistem pembelajaran Mata Kuliah Laboratorium Auditing (EKSI4414)

Pada prinsipnya proses belajar mahasiswa terdiri dari kegiatan belajar mandiri dan belajar terbimbing dengan memanfaatkan beragam layanan bantuan belajar yang disediakan oleh UT serta sumber belajar yang tersedia di lingkungan mahasiswa.

a.       Belajar Mandiri

Belajar mandiri merupakan proses belajar yang dilaksanakan atas prakarsa individu mahasiswa. Keberhasilan mahasiswa sangat dipengaruhi oleh disiplin, kreativitas dan ketekunan belajar individu. Setiap mahasiswa memiliki kebebasan untuk memilih belajar sendiri atau belajar secara berkelompok sambil memanfaatkan beragam layanan dan sumber belajar yang tersedia. Kegiatan belajar mandiri meliputi kegiatan mempelajari paket bahan ajar, mengerjakan latihan dan tugas, mengerjakan soal yang ada di naskah soal praktikum pada Buku Kerja Laboratorium yang selanjutnya disebut Praktikum Mandiri (PM), dan membaca buku referensi yang relevan. Meskipun diperkenankan melakukan PM, namun dianjurkan mahasiswa mengikuti praktikum tatap muka (PTM).

Agar tercapai tujuan pembelajaran yang diinginkan, mahasiswa perlu membaca arahan belajar mata kuliah dan arahan mengerjakan praktikum sebagai berikut.

1)   Arahan Belajar Matakuliah Laboratorium Auditing (EKSI4414).

Arahan belajar ini berisi strategi belajar mandiri agar proses beljar mandiri dapat efektif (lihat Tabel 2).

Tabel 2.

Arahan Belajar mata kuliah Laboratorium Auditing (EKSI4414).

No Modul

Judul Modul

Strategi Belajar Mandiri

1

Perencanaan dan Perancangan Pendekatan Audit 1.    bacalah materi modul berulang-ulang sehingga dapat:

  • Menjelaskan perencanaan, tujuan, dan bukti audit
  • Menjelaskan konsep materialitas dan risiko dalam audit
  • Menjelaskan struktur pengendalian intern dalam organisasi yang diaudit

2.    buatlah catatan penting mengenai perencanaan dan perancangan pendekatan audit

Lakukan kegiatan mempelajari modul ini dalam waktu maksimal 15  jam/semester.

2

Program Kerja Audit dan Kertas Kerja Pemeriksaaan 1.    bacalah materi modul berulang-ulang sehingga dapat:

  • · Menyusun rancangan pengujian transaksi atas akun tertentu
  • · Membuat kertas kerja pemeriksaan

2.    buatlah catatan penting mengenai program kerja dan kertas kerja pemeriksaan

Lakukan kegiatan mempelajari modul ini dalam waktu maksimal 15 jam/semester.

3

Cash Opname dan Stock Opname Pemeriksaan Kas, Bank, dan Persediaan 1.    bacalah materi modul berulang-ulang sehingga dapat:

  • · Melakukan cash opname dan serta
  • · Melakukan pemeriksaan kas
  • · Melakukan rekonsiliasi bank
  • · Melakukan stock opname
  • · Melakukan pemeriksaan persediaan,

2.    buatlah catatan penting mengenai cash opname, stock opname, pemeriksaan kas, bank, dan persediaan

3.    berlatihlah/lakukan praktik:

  • cash opname dan stock opname
  • pemeriksaan kas dan persediaan
  • rekonsiliasi bank

Lakukan kegiatan mempelajari modul ini dalam waktu maksimal 15 jam/semester.

4

Pemeriksaan Piutang dan Utang 1.  bacalah materi modul berulang-ulang sehingga dapat:

  • Melakukan pemeriksaan piutang
  • Melakukan pemeriksaan utang

2.  buatlah catatan penting mengenai pemeriksaan piutang dan utang

3.  berlatihlah/lakukan praktik:

  • pemeriksaan piutang
  • pemeriksaan utang

Lakukan kegiatan mempelajari modul ini dalam waktu maksimal 15 jam/semester.

5

Pemeriksaan Biaya Dibayar Dimuka, Aktiva, Utang, dan Biaya lainnya 1.      bacalah materi modul berulang-ulang sehingga dapat:

  • Melakukan pemeriksaan biaya dibayar di muka
  • Melakukan pemeriksaan aktiva

2.    buatlah catatan penting mengenai pemeriksaan biaya dibayar di muka dan pemeriksaan aktiva

3.   berlatihlah/lakukan praktik:

  • pemeriksaan biaya dibayar di muka dan pemeriksaan aktiva

Lakukan kegiatan mempelajari modul ini dalam waktu  maksimal 15 jam/semester.

6

Penyelesaian Audit 1.    bacalah materi modul berulang-ulang sehingga dapat:

  • Membuat rekapitulasi koreksi
  • Membuat kertas kerja pemeriksaan utama
  • Menyiapkan opini atas pemeriksaan yang telah dilakukan

2.    buatlah catatan penting mengenai penyelesaian audit

3.    berlatihlah/lakukan praktik:

  • membuat rekapitulasi ayat jurnal koreksi
  • membuat kertas kerja pemerisaan utama dan menyiapkan opini.

Lakukan kegiatan mempelajari modul ini dalam waktu maksimal 15 jam/semester.

Catatan perhitungan jam belajar:

1 modul = 15 jam/smt

6 modul = 90 jam/smt, atau:

2 sks x 3 modul x 15 jam =  90 jam/smt atau 6 jam per/minggu atau 1 jam/hari

2)   Arahan Praktikum

Praktikum adalah tugas yang diberikan kepada mahasiswa yang mengambil mata kuliah laboratorium untuk diselesaikan secara mandiri dan atau berkelompok. Tugas ini berfungsi untuk mengukur penguasaan mahasiswa terhadap materi Buku Materi Pokok (BMP) Laboratorium Auditing (EKSI4414). Praktikum dirancang agar mahasiswa dapat belajar dan mengukur kemampuannya lebih awal sebelum Ujian Akhir Semester (UAS).

Dalam mengerjakan praktikum diharapkan mahasiswa dapat belajar secara mandiri dan atau berkelompok melalui Praktikum Tatap Muka atau PTM (penjelasan mengenai PTM terdapat pada poin belajar terbimbing) dengan secara aktif melatih diri mengerjakan naskah soal praktikum pada Buku Kerja Laboratorium. Buku Kerja Laboratorium yang telah diisi oleh mahasiswa diserahkan sesuai modus, batas waktu, dan tempat yang telah ditentukan (lihat tabel 3).

Tabel 3.

Penyerahan Buku Kerja Laboratorium

No.

Modus

Batas Waktu

Tempat Penyerahan

1.

Praktikum Mandiri selambat-lambatnya pada saat Ujian Akhir Semester Diserahkan ke Koordinator Praktikum Laboratorium UPBJJ-UT

2.

Praktikum Tatap Muka selambat-lambatnya pada saat Ujian Akhir Semester Diserahkan ke Koordinator Praktikum Laboratorium UPBJJ-UT

b.      Belajar Terbimbing

Belajar terbimbing merupakan proses belajar yang dilaksanakan atas prakarsa individu mahasiswa dengan memanfaatkan layanan bantuan belajar. Pemberian bantuan belajar dirancang sebagai bantuan yang bersifat akademik dan non akademik yang dilakukan baik secara tatap muka maupun jarak jauh. Bantuan belajar yang bersifat akademik dilakukan melalui tutorial, sedangkan bentuan non akademik dilakukan melalui pelayanan konseling. Jenis-jenis bantuan belajar yang dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa, antara lain:

1)      Praktikum Tatap Muka (PTM)

Bantuan belajar melalui PTM dikoordinasikan oleh UPBJJ-UT. Pada dasarnya kegiatan PTM dirancang tidak sebagai perkuliahan tatap muka biasa, tetapi lebih diarahkan untuk melakukan studi kasus (case study), pemecahan masalah (problem soving), dan diskusi kelompok (group discussion). Agar mahasiswa optimal dalam melakukan PTM diharapkan:

-          Berpartisipasi aktif dalam PTM (8 kali pertemuan)

-          Mengerjakan soal yang ada di naskah soal praktikum pada saat pertemuan dan mengumpulkan Buku Kerja Laboratorium.

Waktu pelaksanaan PTM berdasarkan kesepakatan antara penyelenggara dalam hal ini UPBJJ UT dengan tutor.

2)      Tutorial On-Line (TUTON)

Bantuan belajar melalui TUTON dipandu oleh tutor atau tim tutor yang berasal dari UT Pusat. Agar mahasiswa optimal dalam melakukan TUTON diharapkan:

-          Berpartisipasi aktif dalam diskusi TUTON (8 kali inisiasi)

-          Mengerjakan 3 tugas TUTON.

3)      Konseling Jarak Jauh

Pelaksanaan konseling jarak jauh dapat dilakukan melalui internet, telepon, dan surat diberikan oleh tutor yang berada di UT Pusat maupun UPBJJ UT. Konseling tatap muka dilakukan oleh UPBJJ UT sesuai kebutuhan mahasiswa.

4)      Layanan Umum dan Administrasi Akademik

Layanan ini meliputi layanan sejak sebelum mahasiswa melakukan registrasi hingga menyelesaikan programnya. Layanan tersebut meliputi pemberian informasi (katalog, dll), hingga pelayanan penyelesaian kasus nilai. Layanan ini dapat diberikan secara tatap muka di UPBJJ-UT dan atau melalui e-mail info@p2m.ut.ac.id. dan kaprogakuntansi@mail.ut.ac.id.

 

Pola Umum Pembelajaran Matakuliah Laboratorium Auditing

Secara umum pola pembelajaran mata kuliah Laboratorium Auditing (EKSI4414) dapat dilihat pada Tabel 4. Waktu belajar efektif mahasiswa adalah 8 minggu, terhitung mulai dari batas akhir registrasi sampai dengan Ujian Akhir Semester (UAS).

Tabel 4.

Pola Umum Pembelajaran.

KEGIATAN M

1M

2M

3M

4M

5M

6M

7M

8UAS

OM         BM & PM         TUTON         PTM         KONSELING         LAYANAN

 

Keterangan:

OM                  : Orientasi Mata Kuliah

BM                  : Belajar Mandiri dan Praktikum Mandiri

TUTON           : Tutorial On-Line

PTM                : Praktikum Tatap Muka

KONSELING : Konsultasi Akademik

LAYANAN     : Layanan umum dan administrasi akademik.

c.       Pemanfaatan Sumber Belajar

Mahasiswa UT dapat memanfaatkan berbagai sumber belajar yang tersedia di sekitarnya, untuk meningkatkan efektivitas proses belajar mandiri dan belajar terbimbing. Sumber belajar utama yang dapat dimanfaatkan adalah perpustakaan yang ada di kota tempat tinggal mahasiswa, baik perpustakaan perguruan tinggi setempat, maupun perpustakaan umum/daerah atau perpustakaan instansi tertentu. Disamping itu, sumber belajar lainnya seperti perusahaan/industri dan instansi pendidikan juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar, tempat praktek, observasi, penelitian, ataupun sumber kasus untuk dianalisis, manakala tugas tersebut menjadi persyaratan mata kuliah.

5.      Sistem Evaluasi Hasil Belajar

1)      Jenis Evaluasi

Evaluasi hasil belajar dilakukan untuk mengukur kopetensi mahasiswa dalam Mata Kuliah Laboratorium Auditing (EKSI4414). Alat evaluasi hasil belajar yang digunakan Program Studi Akuntansi adalah Ujian Akhir Semester (UAS). UAS merupakan evaluasi sumatif mata kuliah di akhir semester yang diberikan dalam bentuk uraian.

2)      Kontribusi Penilaian

Nilai akhir mahasiswa jika tidak memanfaatkan layanan belajar TUTON, ditentukan oleh kontribusi dari  dua jenis evaluasi yang wajib ditempuh mahasiswa sebagai berikut.

1. Praktikum Mandiri (PM) atau melalui PTM = 30%
2. UAS = 70%

Nilai akhir mahasiswa jika memanfaatkan layanan belajar TUTON, ditentukan oleh kontibusi tiga jenis evaluasi sebagai berikut.

1. Praktikum Mandiri (PM) atau melalui PTM = 30%
2. UAS = 55%
3. TUTON = 15%

3)      Waktu Ujian

Ujian dilaksanakan pada hari Sabtu (minggu ke dua hari ujian) selama empat jam. Adapun rinciannya tampak pada Tabel 5 berikut.

Tabel 5.

Waktu Ujian

WIB

WITA

WIT

07:00-10.00

08.00-11.00

09.00-12.00

4)      Tempat Ujian Akhir Semester

Mahasiswa dapat memilih tempat ujian akhir semester yang dikehendaki pada saat registrasi mata kuliah. Mahasiswa yang karena alasan tertentu tidak dapat ujian pada tempat ujian yang telah dipilih pada saat registrasi, dapat melakukan “numpang ujian”. Untuk numpang ujian mahasiswa harus melapor ke UPBJJ UT tujuan paling lambat 4 (empat) hari sebelum pelaksanaan ujian dengan membawa surat pengantar dari UPBJJ UT asal (UPBJJ UT tempat registrasi).

5)      Hasil Ujian Akhir Semester

Hasil ujian akhir semester dimumkan 8 minggu setelah ujian dalam bentuk Daftar Nilai Ujian (DNU). DNU akan dikirim ke alamat masing-masing mahasiswa, pengumuman hasil ujian juga dapat dilihat di UPBJJ dan situs (website) UT dengan alamat http://www.ut.ac.id.

V.   PENUTUP

Panduan ini harus dipakai mahasiswa sebagai acuan dalam proses belajar Mata Kuliah Laboratorium Auditing (EKSI4414). Agar tujuan dapat tercapai diperlukan kesadaran dan komitmen bersama dari semua pihak terkait baik mahasiswa, fakultas, UPBJJ-UT maupun para pelaksana di lapangan. Dalam mengimplementasikan panduan ini, pihak-pihak terkait dimohon untuk mencatat hal-hal yang menyangkut kendala, hambatan, dan kekurangan dari pedoman ini, untuk dijadikan bahan masukan guna penyempurnaan pedoman ini di masa datang. Masukan harap diberikan kepada ketua Program Studi Akuntansi.

Sumber : www.ut.ac.id – file jTriwiyanto

TUTORIAL ONLINE – Ke II

PENGANTAR AKUNTANSI (EKMA 4115)

UNIVERSITAS TERBUKA

Materi Online 2 : III.)Akuntasi Perusahaan Dagang Akuntansi IV.) Persekutuan

 

III. AKUNTASI PERUSAHAAN DAGANG

Perusahaan dagang adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang jual beli barang. Perusahaan membeli barang untuk dijual kembali dalam bentuk semula tanpa mengalami pengolahan. Perusahaan dapat berupa toko, penyalur tunggal, agen penjualan, distributor, dan sejenisnya. Karakteristik utama perusahaan dagang adalah bahwa pada peristiwa penjualan terjadi penyerahan barang yang didalamnya memuat jumlah rupiah disebut harga pokok penjualan.

Pendapatan utama perusahaan dagang adalah berasal dari penjualan barang sehingga rekening penjualan digunakan sebagai ganti rekening Pendapatan. Juga Piutang Dagang dan Utang Dagang. Disamping itu ada akun-akun khusus yang bersangkutan dengan perusahaan dagang disamping Penjualan, antara lain yang terpenting adalah Harga Pokok Penjualan, Pembelian, Retur dan Keringanan Penjualan, Retur dan Keringanan Pembelian, Potongan Penjualan dan Potongan pembelian. Potongan pembelian ataupun potongan penjualan hendaknya tidak dikacaukan dengan pengertian potongan harga (price/trade discount).

Ada akun khusus menyebabkan Laporan laba rugi perusahaan dagang juga bebeda dengan laporan perusahaan dagang. Biaya dalam perusahaan dagang dibagi menjadi 2 (dua) kelompok yaitu biaya yang melekat pada barang dagangan yang terjual yang disebut biaya operasi. Harga pokok penjualan sendiri sebenarnya merupakan biaya operasi lainnya. Penjualan dikurangi dengan harga pokok penjualan merupakan laba yang berasal dari penjualan yang dikenal dengan istilah laba kotor penjualan.

 

Menjurnal penjualan dan pembelian barang dagang

Penjualan barang dagang secara tunai atau kredit dicatat dengan mengkredit Penjualan. Pada saat terjadi penjualan sebenarnya terjadi 2 (dua) peristiwa yaitu pertama terjadinya pendapatan yang disebut penjualan yang mempunyai akibat menambah modal dan yang kedua keluarnya barang dagangan sebagai harga pokok penjualan yang mempunyai akibat mengurangi modal karena sifatnya sebagai biaya.

Metode atau cara pencatatan untuk barang dagang akibat dari pembelian atau penjualan, ada 2 cara yaitu :

1.      Metode Phisyik (Berkala/Periodik) yaitu metode apabila pada saat penjualan keluarnya barang dagangan sebagai harga pokok tidak dihitung dan dicatat secara kontinu dan baru akan dicatat pada akhir episode sebagai penyesuaian.

Pada saat terjadi pembelian tidak menambah persediaan, tetapi dianggap sebagai pengeluaran beban untuk mendapatkan barang tersebut. Dalam metode fisik dicatat sebagai berikut :

 

Pembelian               Rp. xxxx

Kas / Utang Dagang     Rp. xxxx

(Kas = untuk pembelian tunai dan Utang Dagang = untuk pembelian secara kredit)

 

Pada saat terjadi penjualan, penjualan tersebut tidak mengurangi persediaan tetapi dianggap sebagai penerimaan pendapatan dari hasil penjualan yang dicatat sebagai berikut :

 

Kas / Piutang Dagang         Rp. xxxx

Penjualan                                  Rp. xxxx

 

(Kas = untuk penjualan tunai, dan Piutang Dagang = untuk penjualan secara kredit)

 

2.      Metode Perpetual yaitu metode yang mencatat persediaan secara terus menerus setiap kali terjadi perubahan baik pembelian atau penjualan dan kemungkinan adanya pengembalian barang atau retur pembelian atau penjualan barang.

Pencatatan saat terjadinya pembelian barang dagang pada metode ini adalah :

Persediaan              Rp. xxxx

Kas / Utang Dagang     Rp. xxxx

(Kas = untuk pembelian tunai dan Utang Dagang = untuk pembelian secara kredit)

 

Pencatatan saat terjadi penjualan adalah :

Kas / Piutang Usaha                       Rp. xxxx

Penjualan                                  Rp. xxxx

Harga Pokok Penjualan      Rp. xxxx

Persediaan                                Rp. xxxx

(Kas = untuk penjualan tunai dan Piutang Dagang = untuk penjualan kredit)

Persyaratan Jual Beli

1.      Syarat Penyerahan

Syarat-syarat penjualan harus menyebutkan kapan pemilikan (hak) atas barang dagang tersebut beralih dari penjual kepada pembeli, dan menentukan pihak mana, penjual atau pembeli yang harus menanggung biaya transportasi (ongkos angkut).

Syarat penjualan dalam pengiriman barang dagang dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu :

a)      FOB tempat pengiriman (FOB Shipping Point) adalah hak milik atas barang dagang bisa beralih kepada pembeli pada saat penjual menyerahkan barang tersebut ke perusahaan pengangkut. Pembeli menanggung biaya transportasi pengiriman barang dagang.

b)      FOB tempat tujuan (FOBDestination) adalah hak milik atas barang dagang bisa beralih ke pembeli menerima barang dagang tersebut, ini berarti penjual menyerahkan barang dagang tersebut ke tempat tujuan pembeli tanpa dibebani ongkos angkut kepada pembeli dan penjual membayar ongkos angkut sampai ke tempat tujuan terakhir.

 

2.      Syarat Pembayaran

Syarat pembayaran adalah perjanjian yang menetapkan cara pembayaran atas barang yang diperjual belikan yang mungkin berupa trade discount ataupun cash discount.

a)      Trade discount atau rabat adalah potongan yang diberikan karena membeli barang dalam partai besar, biasanya dinyatakan dengan persen. Harga yang diperhitungkan pada pembeli ialah harga menurut daftar (list price) dikurangi rabat (trade discount) yang disebut harga kontrak (contract price).

b)      Cash Discount adalah potongan tunai yang diperoleh pembeli apabila membayar dalam batas waktu yang ditentukan yang diberikan oleh penjual. Maksud diberikan potongan tunai kepada pembeli adalah agar pembeli terdorong untuk membayar lebih cepat dari waktu yang ditentukan. Macam-macam syarat pembayaran adalah sebagai berikut :

1.      2/10, n/30

artinya pembelian akan memperoleh potongan 2 % apabila bisa membayar dalam waktu 10 hari setelah tanggal faktur dan netto harus dibayar paling lambat 30 hari setelah tanggal faktur.

2.      E.O.M (end of math)

Artinya pembayaran paling lambat tanggal akhir bulan dari hari pembelian barang.

3.      n/10. EOM

artinya pembayaran paling lambat 10 hari sesudah akhir bulan pembelian barang.

4.      2/10 1/5 n/60

artinya pembelian akan memperoleh potongan 2 % apabila bisa membayar dalam waktu 10 hari setelah tanggal faktur dan hanya akan memperoleh potongan 1 % membayar setelah 10 hari dari tanggal faktur tetapi tidak lebih dari 15 hari dan netto harus dibayar paling lambat 60 hari setelah tanggal faktur.

Untuk lebih jelas kita simak contoh soal berikut :

1.      PT Marina menjual barang dagangnya kepada PT Shanty dengan harga menurut daftar (list price) Rp. 5.500.000,00 dengan trade discount  8%, 6%, 4%. Hitunglah berapa harga jualnya ?

Penyelesaian :

List Price                                        Rp. 5.500.000,00

Rabat         8% x Rp. 5.500.000     Rp.    440.000,00

Rp. 5.060.000,00

6% x Rp. 5.060.000     Rp.    303.600,00

Rp. 4.756.400,00

4% x Rp. 4.756.400     Rp.    190.256,00

Harga Jual / Contract Price Rp. 4.566.144,00

 

2.      Pada tanggal 2 November 2002 PT Karunika menjual barang seharga Rp. 3.000.000 dengan syarat pembayaran 2/10 n/30, berapakah cash discount yang diberikan ?

Penyelesaian :

Dengan syarat tersebut berarti PT Karunika memberi potongan atau discount sebesar Rp. 60.000 (2% x Rp. 3.000.000) kepada pembeli apabila dilunasi paling lambat tanggal 12 November 2002. Dan apabila lewat dari tanggal tersebut pembeli tidak memperoleh potongan tunai dan harus membayar penuh sebesar Rp.  3.000.000 dan paling lambat tanggal 2 Desember 2002.

 

Transaksi – transaksi pokok dalam perusahaan dagang dianalisa dalam jurnal umum sebagai berikut :

 

 

Transaksi Jurnal Umum
Pembelian Pembelian barang secara tunai atau kredit (D) Pembelian

(K) Kas / Utang Dagang

  Retur pembelian dan pengurangan harga (D) Utang Dagang

(K) Retur pembelian & pengurangan harga

  Potongan pembelian (membayar utang dagang dengan memperoleh potongan) (D) Utang Dagang

(K) Potongan Pembelian

(K) Kas

Penjualan Penjualan barang dagang secara tunai (D) Kas / Piutang Dagang

(K) Penjualan

  Retur penjualan dan pengurangan harga (D) Retur pembelian & pengurangan harga

(K) Piutang Dagang

  Potongan penjualan (menerima piutang dagang dengan memberi potongan) (D) Kas

(D) Potongan Penjualan

(K) Piutang Dagang

Biaya Angkut Biaya angkut pembelian (membayar beban angkut barang yang dibeli) (D) Beban angkut pembelian

(K) Kas

  Biaya angkut penjualan (adalah semua pengeluaran biaya untuk mengirim barang sampai ke gedung pembeli) (D) Beban angkut penjualan

(K) Kas

 

 

Ilustrasi Akuntansi untuk Transaksi Barang Dagang

Dalam ilustrasi berikut akan terlihat bagaimana transaksi yang sama akan dicatat baik oleh penjual atau pembeli. Penjual adalah PT Tirta Marta dan Pembelinya PT. Indonusa

 

Transaksi

PT. Tirta Marta (Penjual)

PT. Indonusa (Pembeli)

1 Mei

PT Tirta Marta menjual barang dagang secara kredit kepada PT Indonusa sebesar Rp.750.000, dengan syarat FOB Shipping Point, n/45. Harga pokok penjualan sebesar Rp. 450.000

 

Piutang Usaha-PT Indo   750.000

Penjualan                    750.000

 

Harga Pokok Penjualan   450.000

Persediaan Brg Dagang   450.000

 

Persediaan Brg Dagang   750.000

Utang Usaha-PT Tirta Marta   750.000

2 Mei

PT Indo membayar beban transportasi sebesar Rp.15.000 atas pembelian tgl 1 Mei dari PT Tirta Marta.

 

Tidak Dijurnal

 

Persediaan Barang dagang   15.000

Kas                                         15.000

5 Mei

PT Tirta Marta menjual brg dagang secara kredit kepada PT Indonusa sebesar Rp.500.000, syarat FOB destination, n/30. Harga Pokok Penjualan tsb sebesar Rp.350.000

 

Piutang Usaha-PT Indo     500.000

Penjualan                      500.000

 

Harga Pokok Penjualan     350.000

Persedian Brg Dagang    350.000

 

Persediaan Brg Dagang      500.000

Utang Usaha-PT Tirta Marta   500.000

7 Mei

PT Tirta Marta membayar biaya transportasi sebesar Rp.25.000 untuk brg dagang yang dijual kepada PT Indo pada tgl 5 Mei

 

Beban Pengiriman         25.000

Kas                           25.000

 

Tidak Dijurnal

JURNAL KHUSUS

Pada umumnya di dalam perusahaan terjadi transaksi rutin dan frekuensinya terjadi sangat tinggi. Transaksi rutin ini biasanya meliputi: penjualan kredit, pembelian kredit, penerimaan kas, pengeluaran kas dan sebagainya. Dengan buku jurnal dua kolom ternyata pencatatan transaksi rutin menjadi tidak tepat dan praktis lagi terutama dalam hal posting dari jurnal ke buku besar. Karena itu transaksi rutin yang yang sering terjadi sebaiknya dicatat dalam buku jurnal tersendiri yang disebut dengan buku jurnal khusus. Dengan adanya jurnal khusus maka biasanya ada beberapa akun yang memerlukan perincian misalnya Piutang Dagang dan Utang Dagang.

Akun-akun untuk perincian ini membentuk satu buku besar tersendiri yang disebut buku besar pembantu, sedangkan buku besar yang akan digunakan dalam menyusun daftar saldo disebut dengan buku besar umum.

Ada beberapa jenis jurnal sebagai berikut :

1.      Jurnal pembelian, adalah jurnal untuk mencatat transaksi pembelian barang dagang atau aktiva lain yang dilakukan secara kredit

2.      Jurnal pengeluaran kas, adalah jurnal untuk mencatat semua transaksi tentang pengeluaran kas (uang tunai), transaksi pengeluaran uang tersebut antara lain pembelian barang dagang atau aktiva lain secara tunai, pembayaran beban-beban, pembayaran / pelunasan hutang dagang dan pengambilan uang tunai untuk keperluan pribadi.

3.      Jurnal Penjualan, adalah jurnal untuk mencatat transaksi-transaksi penjualan barang dagang yang dilakukan secara kredit.

4.      Jurnal Penerimaan kas, adalah jurnal yang dipakai untuk mencatat semua transaksi tentang penerimaan uang.

5.      Jurnal Memorial / Umum, adalah jurnal yang dipakai untuk mencatat semua transaksi yang tidak dapat dicatat pada keempat jurnal khusus diatas. Transaksi-transaksi tersebut adalah : retur pembelian dan penjualan, pengambilan barang untuk keperluan prive, penarikan wesel dan lain-lain.

 

 

IV. AKUNTANSI UNTUK PERSEKUTUAN

1.      PEMBENTUKAN PERSEKUTUAN DAN PEMBAGIAN LABA ATAU RUGI PERSEKUTUAN

Pasal 1618 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata mendefinisikan Persekutuan adalah sebagai perjanjian dengan mana dua orang atau lebih mengikatkan diri untuk memasukkan sesuatu ke dalam persekutuan dengan maksud untuk membagi keuntungan atau manfaat yang dioeroleh karenanya.

Ada beberapa karakteristik khusus dalam persekutuan yang membedakan persekutuan dengan perusahaan perorangan ataupun perseroan, yaitu antara lain :

§         Perjanjian tertulis suatu persekutuan, perjanjian ini merupakan kontrak yang dibuat antar sekutu, sehingga semua transaksi yang berkaitan dengan perjanjian tersebut, semuanya diatur dalam hukum kontrak.

§         Masa hidup yang terbatas, maksudnya masa hidup dari persekutuan dibatasi oleh masa kebersamaan dari pada sekutu tersebut, apabila seorang sekutu keluar maka persekutuan tersebut juga akan berakhir.

§         Kewajiban bersama dalam persekutuan, maksudnya setiap sekutu dapat mengikat persekutuan tersebut dengan kontrak yang mereka buat dengan pihak lain, selama kontrak tersebut masih dalam ruang lingkup usaha persekutuan tadi.

§         Kewajiban tak terbatas, maksudnya setiap sekutu mempunyai kewajiban pribadi yang tidak terbatas terhadap Utang yang dimiliki persekutuan. Jadi aktiva yang dimiliki suatu persekutuan tidak cukup untuk menutupi Utang-Utangnya, maka kekurangannya akan diambil dari aktiva pribadi milik masing-masing sekutu.

§         Pemilikan aktiva secara bersama

§         Tidak ada pajak penghasilan persekutuan, maksudnya suatu persekutuan tidak membayar pajak penghasilan atas laba usahanya.

§         Akun modal dalam persekutuan jumlahnya lebih dari satu karena untuk setiap sekutu dalam persekutuan memiliki satu akun modal tersendiri. Demikian pula, masing-masing sekutu juga memiliki akun pengambilan pribadi.

Bila persekutuan dibentuk dari perusahaan yang sebelumnya sudah berjalan, biasanya nilai buku aktiva dari perusahaan sebelumnya menjadi tidak relevan lagi. Oleh karena itu pada umumnya nilai buku tersebut harus disesuaikan lebih dahulu. Persekutuan cukup mencatat nilai aktiva yang baru (yang disetujui bersama), tidak perlu memeperhatikan harga perolehan aktiva ketika dulu dibeli oleh perusahaan sebelum menjadi persekutuan. Harga perolehan aktiva bagi persekututan yaitu harga pada saat aktiva tersebut menjadi hak persekutuan.

 

Pembentukan Persekutuan dengan Investasi awal sekutu

Investasi awal sekutu dalam suatu persekutuan dapat berupa aktiva dan sekaligus utang. Investasi ini akan dicatat dan jumlah kewajiban dari masing-masing sekutu akan dikurangkan dari aktiva yang diinvestasikan, untuk memperoleh nilai yang akan dikredit pada akun modal dari masing-masing sekutu tersebut.  Misalnya Kuncoro dan Sutejo membentuk suatu persekutuan dengan menginvestasikan aktiva dan lainnya yang telah dinilai oleh badan independen sbb :

 

Setoran Kuncoro :

Uang tunai (kas) sebesar Rp.5 juta dan peralatan komputer dengan harga perolehan Rp.750 ribu dan nilai pasar Rp. 1 juta

Setoran Sutejo :

Uang tunai (kas) sebesar Rp.2 juta, perangkat lunak komputer dengan harga perolehan Rp.10 juta dan nilai pasar Rp.7,5 juta serta hutang dagang sebesar Rp. 500 ribu.

Setoran Wahyudi :

Bangunan toko seharga Rp. 10.000.000 dan piutang dagang Rp. 2,5 juta

Maka pencatatan untuk setoran investasi masing-masing sekutu tersebut adalah :

 

Kuncoro

Sutejo

Wahyudi

Kas                                5.000.000

Peralatan Komputer       1.000.000

Modal Kuncoro                               6.000.000

Kas                                         2.000.000

Perangkat Lunak Komputer   7.500.000

Hutang Dagang                     500.000

ModalSutejo                        9.000.000

 

Bangunan Toko          10.000.000

Piutang Dagang            2.500.000

Modal Wahyudi      12.500.000

 

Laporan Neraca Persekutuan baru tersebut adalah :

 

Kuncoro, Sutejo dan Wahyudi

Neraca

1 Jan 2002

Aktiva

Kewajiban

Kas

7.000.000

Utang Dagang

500.000

Piutang Dagang

2.500.000

 

Peralatan komputer

1.000.000

Modal Kuncoro

6.000.000

Perangkat Lunak

7.500.000

Modal Sutejo

9.000.000

Bangunan Toko

10.000.000

Modal Wahyudi

12.500.000

Total Aktiva

28.000.000

Total Utang & Modal

28.000.000

 

PEMBAGIAN LABA RUGI PERSEKUTUAN

a.       Pembagian Laba Rugi berdasarkan Jumlah yang ditetapkan

Contoh soal :

Persekutuan yang didirikan oleh Andy dan Iwan membuat suatu perjanjian dalam pembagian laba rugi persekutuan dinyatakan bahwa Andy memperoleh laba atau rugi sebesar 3/4 dan Iwan memperoleh laba atau rugi sebesar ¼ dari laba atau rugi persekutuan.

Berapakah jumlah laba atau rugi yang diperoleh masing-masing sekutu apabila persekutuan mereka mendapat keuntungan selama tahun berjalan sebesar Rp. 16.000.000 ?

Penyelesaian :

Modal Andy : ¾ x 16.000.000 = Rp.12.000.000

Modal Iwan : ¼ x 16.000.000 = Rp.4.000.000

 

Jurnal penutup dalam pembagian laba persekutuan tersebut adalah :

 

Ikhtisar Laba Rugi        16.000.000

Modal Andy                 12.000.000

Modal Iwan                    4.000.000

 

b.      Pembagian laba rugi berdasarkan setoran modal sekutu

Contoh soal :

Persekutuan Bidadari terdiri dari 3 sekutu yaitu Ani, Aisyah dan Anjali. Komposisi modal mereka pada akhir tahun adalah sebagai berikut  :

Modal  Ani                   Rp.  7.000.000

Modal Aisyah               Rp.  5.000.000

Modal Anjali                Rp.  3.000.000

Total Modal                 Rp.15.000.000

Persekutuan Bidadari memperoleh laba sebesar Rp.24.000.000.

Berapakah jumlah laba yang diperoleh masing-masing sekutu dan bagaimana jurnal penutupnya ?

 

Penyelesaian :

Modal Ani : (7.000.000/15.000.000) x 24.000.000      = Rp.11.200.000

Modal Aisyah : (5.000.000/15.000.000) x 24.000.000 = Rp.  8.000.000

Modal Anjali : (3.000.000/15.000.000) x 24.000.000  = Rp.  4.800.000

Jurnal Penutup :

Ikhtisar laba rugi           24.000.000

Modal Ani                    11.200.000

Modal Aisyah                 8.000.000

Modal Anjali                  4.800.000

 

c.       Pembagian berdasarkan setoran modal dan jasa

Contoh Soal :

Randi dan Soni mendirikan sebuah persekutuan dengan modal yang berasal dari investasi Randi sebesar Rp.9.000.000, sedangkan Soni sebesar Rp.6.000.000. Soni bekerja untuk persekutuan secara penuh (full time) dan memperoleh gaji yang lebih tinggi. Perjanjian pembagian laba yang telah ditentukan oleh kedua sekutu adalah :

§         Rp.10.000.000 pertama dari laba bersih persekutuan akan dibagi sesuai dengan investasi masing-masing sekutu.

§         Rp.12.000.000 berikutnya dibagikan berdasarkan waktu bekerja, dimana Randi hanya menerima Rp.4.800.000 dan Soni yang memiliki waktu kerja yang lebih banyak menerima sebesar Rp.7.200.000.

§         Apabila masih ada jumlah laba yang tersisa maka jumlah tersebut dibagi dua secara merata.

§         Laba bersih persekutuan pada tahun pertama sebesar Rp.25.000.000.

Berapakah laba yang akan diperoleh oleh masing-masing sekutu dan bagaimana pencatatannya ?

 

Penyelesaian :

 

Randi

Soni

Total

Total laba bersih

28.000.000

Pembagian laba Rp.10 juta pertama berdasarkan investasi sekutu

Randi (9.000.000/15.000.000 X Rp.10 juta)

6.000.000

Soni (6.000.000/15.000.000 X Rp.10 juta)

4.000.000

Total

10.000.000

Sisa laba bersih yang harus dibagikan

18.000.000

Pembagian laba Rp.12 juta berikutnya berdasarkan waktu kerja sekutu

Randi

4.800.000

Soni

7.200.000

Total

12.000.000

Sisa laba bersih yang harus dibagikan

  6.000.000

Sisa laba bersih dibagi 2 secara merata

Randi ( 6 juta / 2)

3.000.000

Soni (6 juta / 2)

3.000.000

Total

6.000.000

Sisa Laba bersih

0

Laba bersih masing-masing sekutu

13.800.000

14.200.000

28.000.000

Ayat jurnal penutup :

Ikhtisar Laba Rugi                    28.000.000

Modal Randi                            13.800.000

Modal Soni                              14.200.000

 

Laporan Keuangan untuk persekutuan

Laporan keuangan yang disusun pada persekutuan sama dengan bentuk perusahaan lainnya, yaitu  laporan laba rugi, neraca, laporan arus kas dan laporan perubahan modal. Pada Laporan keuangan perincian pembagian laba harus diungkapkan atau disajikan, biasanya ditambahkan pada laporan laba rugi atau dibuat sebagai lampiran. Laporan perubahan modal pada persekutuan terdiri dari beberapa sekutu yang modalnya dirinci untuk setiap anggota sekutu. Contoh laporan keuangan persekutuan dapat dilihat dan dipelajari pada BMP Pengantar Akuntansi, modul 6 kegiatan belajar 1.

 

2.      AKUNTANSI UNTUK PEMBUBARAN PERSEKUTUAN DAN LIKUIDASI PERSEKUTUAN

a.       Penerimaan Sekutu Baru

Salah satu sifat utama dari bentuk organisasi persekutuan adalah usianya yang terbatas. Setiap perubahan anggota persekutuan akan mengakibatkan pembubaran persekutuan. Dengan demikian masuknya anggota sekutu baru, keluarnya anggota sekutu lama dan meninggalnya salah seorang anggota persekutuan, akan membubarkan persekutuan yang ada.

Masuknya sekutu dalam persekutuan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:

1)      Dengan cara membeli hak pemilik sekutu lama

2)      Dengan cara menyetorkan aktiva kepada persekutuan.

 

Perbedaan cara penerimaan sekutu baru akan mengakibatkan perbedaan dalam akuntansi. Pada cara pertama transaksi penerimaan sekutu baru hanya dilakukan dengan memindahkan akun modal sekutu lama ke akun sekutu baru. Dengan demikian tidak terjadi perubahan sruktur aktiva maupun struktur modal. Pada cara kedua persekutuan akan mencatat penambahan aktiva dan penambahan modal. Jumlah aktiva yang dicatat tidak harus sama dengan jumlah modal sekutu baru. Adakalanya setoran modal dicatat lebih rendah atau lebih tinggi sehingga menimbulkan goodwill yang akan diberikan kepada sekutu lama atau sekutu yang baru masuk. Umumnya bila persekutuan akan menerima anggota baru diadakan penyesuaian lebih dahulu terhadap akun-akun yang ada. Sehingga buku besarnya dapat mencerminkan harga aktiva secara lebih layak. Laba atau rugi yang timbul karena adanya penilaian kembali ini kemudian akan dibagikan kepada para sekutu lama.

b.      Pemindahan sekutu baru dengan membeli hak kepemilikan sekutu lama

Contoh soal :

Berikut ini adalah Neraca periode 2002 persekutuan Marina dan Ades :

Kas

Rp. 15.000.000

Total kewajiban

Rp. 10.000.000

Aktiva lain-lain

Rp.  35.000.000

Modal Marina

Rp. 15.000.000

 

Modal Ades

Rp. 25.000.000

Total Aktiva

Rp. 50.000.000

Total Kewajiban & Modal

  Rp. 50.000.000

 

Suci sebagai pihak luar tertarik untuk membeli hak kepemilikan Marina sebesar Rp.15 juta dengan harga beli Rp. 17,5 juta. Marina setuju menjual hak kepemilikannya kepada Suci, dan Ades pun setuju dengan bergabungnya Suci dalam persekutuan tersebut.

Bagaimana pencatatan jurnalnya dan berapakah hak kepemilikan Suci sebagai sekutu baru ?

Penyelesaian :

Persekutuan akan mencatat pemindahan hak kepemilikan dengan jurnal sbb :

Modal Marina ………. ……….……… 15.000.000

Modal Suci ……….……….……….15.000.000

Hak kepemilikan Suci sebesar 15 juta meskipun harga beli nya sebesar 17,5 juta karena transaksi hak kepemilikan ini hanya terjadi antara Marina dan Suci, bukan antara Suci dengan persekutuan. Persekutuan lama telah bubar, sehingga Ades dan Suci membuat perjanjian persekutuan yang baru dengan cara pembagian laba rugi yang baru pula dan melanjutkan kegiatan usahanya.

c.       Likuidasi Persekutuan

Bila persekutuan mau menghentikan kegiatannya, maka biasanya akan menjual seluruh aktivanya. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pembagian kekayaan kepada anggotanya. Proses pembubaran perusahaan ini dikenal dengan proses likuidasi.

Adapun langkah-langkah dalam proses likuidasi adalah:

1)      Menyesuaikan dan menutup buku-buku yang ada.

2)      Menjual seluruh aktiva nonkas (realisasi).

3)      Melunasi seluruh utang perusahaan.

4)      Mengembalikan modal kepada para sekutu.

Oleh karena tanggung jawab anggota persekutuan tidak terbatas maka bila ada salah seorang anggota sekutu yang modalnya negatif mereka tetap harus menutup jumlah modal yang negatif tersebut. Seandainya sekutu tersebut dalam keadaan bangkrut, maka sekutu yang masih mampu harus menanggung defisit sekutu tersebut.

 

Terima kasih, semoga sukses.

File  jTriwiyanto

EKSI4203 TEORI PORTOFOLIO DAN ANALISIS INVESTASI

Roni Indarto
3 sks / modul 1-9: ill.; 21 cm / Edisi 1
ISBN : 9790112092
DDC : 332.6
Copyright (BMP) © Jakarta: Universitas Terbuka, 2007

Mata kuliah ini membahas kerangka konsep dasar manajemen investasi, pengertian pasar, instrumen yang diperdagangkan dan mekanisme perdagangan, teori risiko dan return, pemilihan portofolio, obligasi, saham, sekuritas derivatif, dan teori investasi modern. Prasyarat: EKMA4213 (Manajemen Keuangan).

TINJAUAN MATA KULIAH

Mata kuliah Teori Portofolio dan Analisis Investasi merupakan salah satu mata kuliah lanjutan yang memberikan syarat bagi yang menempuh untuk menempuh lebih dahulu mata kuliah Manajemen Keuangan di Program Studi Akuntansi. BMP Teori Portofolio dan Analisis Investasi bertujuan memberikan pemahaman kepada mahasiswa tentang bagaimana seseorang berinvestasi pada aset finansial dengan menggunakan beberapa metode dan konsep.

Dalam menentukan apakah seseorang atau organisasi menginvestasikan dananya dalam aset finansial, maka ia harus terlebih dahulu mengetahui berapa return yang didapat dari investasi tersebut dan berapakah risiko yang ditimbulkan oleh investasi tersebut. Di samping itu dijelaskan pula bagaimana menghitung nilai dari saham dan obligasi dengan berbagai metode dan konsep.

Perkembangan dunia investasi tidak saja ditunjukkan oleh semakin meningkatnya jumlah yang diinvestasikan ataupun oleh semakin banyaknya jumlah investor yang berinvestasi, tetapi juga ditunjukkan oleh semakin banyaknya alternatif-alternatif instrumen investasi yang bisa dijadikan pilihan investor dalam berinvestasi. Selain berinvestasi dengan cara memiliki secara langsung sekuritas yang diperdagangkan di pasar, investor juga dapat berinvestasi dengan cara membeli derivasi/turunan dari sekuritas tersebut. Sekuritas derivatif adalah sekuritas yang mempunyai hak kepada pemegang sekuritas untuk membeli suatu sekuritas dengan harga tertentu pada waktu tertentu. Beberapa sekuritas yang termasuk dalam sekuritas derivatif dapat memberikan suatu hak (artinya dapat dilakukan, dapat pula tidak) atau dapat pula dalam bentuk keharusan (artinya, harus dilakukan apapun yang terjadi). Sekuritas yang memberikan hak adalah (1) opti (option), (2) bukti (right), (3) waran (warrant) dan (4) obligasi konversi (convertible bonds). Sedangkan yang memberikan keharusan di antaranya adalah futures.

Dalam mata kuliah ini akan dibahas kerangka konsep dasar manajemen investasi, pengertian pasar, instrumen yang diperdagangkan dan mekanisme perdagangan, teori risiko dan return. Setelah mempelajari mata kuliah Teori Portofolio dan Analisis Investasi, Anda diharapkan mampu mengelola dana yang dimiliki perusahaan ke dalam bentuk investasi surat-surat berharga.

Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai serta bobot 3 SKS, mata kuliah Teori Portofolio dan Analisis Investasi terdiri dari 9 modul yang pengorganisasiannya sebagai berikut.

Pengertian dan Instrumen Pasar Modal. Tujuan pokok bahasan ini adalah agar Anda mampu menjelaskan tentang pasar modal dan instrumennya.

Return yang Diharapkan dan Risiko Portofolio. Tujuan pokok bahasan ini adalah agar Anda dapat menjelaskan besarnya return dan risiko yang diharapkan dalam suatu investasi yang rasional.

Model-model Keseimbangan. Tujuan pokok bahasan ini adalah agar Anda mampu menentukan portofolio yang optimal dengan menggunakan model Capital Aset Pricing Model dan model Arbitrage Pricing Theory.

Penilaian Saham. Tujuan pokok bahasan ini adalah agar Anda mampu menghitung nilai saham baik secara fundamental maupun secara teknikal.

Obligasi. Tujuan pokok bahasan ini adalah agar Anda mampu menghitung nilai obligasi.

Penilaian Obligasi. Tujuan pokok bahasan ini adalah agar Anda mampu menentukan harga obligasi dengan berbagai tingkat bunga dengan menggunakan berbagai strategi investasi obligasi.

Sekuritas Derivatif. Tujuan pokok bahasan ini adalah agar Anda mampu menentukan harga opsi..

Sekuritas Derivatif Lanjutan. Tujuan pokok bahasan ini adalah agar Anda mampu menghitung berapa besarnya bukti (right), waran (warrant) dan obligasi konversi (convertible bonds).

Futures. Tujuan pokok bahasan ini adalah agar Anda mampu menjelaskan mengenai indeks futures dan penggunaan indeks tersebut untuk manajer investasi.

Agar lebih memudahkan dalam memahami mata kuliah ini, berikut disampaikan desain instruksional yang menggambarkan tujuan instruksional dari tiap topik bahasan dan kompetensi-kompetensi pendukung yang harus Anda kuasai untuk mencapai kompetensi utama mata kuliah ini.

Dengan mempelajari setiap modul dengan cermat sesuai petunjuk yang ada serta mengerjakan semua latihan dan tes yang diberikan secara sungguh-sungguh, Anda akan berhasil dalam menguasai tujuan yang telah ditetapkan.

 

Rangkuman

MODUL 1 : PENGERTIAN DAN INSTRUMEN PASAR MODAL

Kegiatan Belajar 1: Pasar Modal
Perusahaan dalam memenuhi kebutuhan dananya dapat memperoleh dananya melalui dua cara, yaitu diperoleh dari intern perusahaan dan dari ekstern perusahaan. Kebutuhan dana yang diperoleh dari intern perusahaan berasal dari dana yang dihasilkan oleh usaha perusahaan , misalnya :sebagian laba ditahan dan penyusutan, sedangkan kebutuhan dana yang diperoleh dari ekstern adalah dana yang diperoleh bukan dari usaha perusahaan, misalnya dengan meminjam di bank atau lembaga keuangan lain atau dapat juga menjual saham di pasar modal. Pasar modal dari fungsi dan ruang lingkupnya dapat dibedakan dalam beberapa jenis, yaitu; pasar sekunder, pasar perdana, pasar lelang dan pasar negosiasi.

Pelaku pasar modal terdiri dari lembaga-lembaga yang kegiatannya berhubungan dengan pasar modal. Para pelaku ini dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok, yaitu :

Pertama, badan yang bertugas mengawasi jalannya pasar modal, di Indonesia tanggung jawab ini dipegang oleh Bapepam. Kedua, pihak-pihak yang secara langsung terlibat dalam perdagangan sekuritas: emiten, investor, badan pengelola bursa dan perantara/pedagang sekuritas. Ketiga, pihak yang mendukung kepastian, kelancaran, dan ketertiban pasar modal (Kustodian Sentral Efek Indonesia dan Kliring Penjamin Efek Indonesia), Penanggung (Guarantor) dan Wali Amanat (Trustee).

Kegiatan Belajar 2: Instrumen Pasar Modal
Sekuritas yang diperdagangkan di pasar modal biasanya disebut instrumen pasar modal. Instrumen pasar modal ini terdiri dari: saham biasa, obligasi dan reksadana. Adapun instrumen derivatif di pasar modal ada dua jenis yaitu opsi dan futures, dari kedua instrumen derivatif tersebut masih ada instrumen pecahan dari keduanya

 

 

MODUL 2 : RETURN YANG DIHARAPKAN DAN RISIKO PORTOFOLIO

Kegiatan Belajar 1: Investasi
Dalam dunia usaha, setiap kita melakukan investasi maka investasi tersebut akan selalu mengandung keuntungan atau pengembalian (return) dan risiko. Pengembalian (return) merupakan kompensasi atau imbalan yang diharapkan di masa datang oleh investor atas waktu dan risiko yang terkait dengan investasi yang dilakukan. Pengembalian (return) ini dapat berupa pengembalian yang telah terjadi (actual return) dan pengembalian yang diharapkan (expected return). Sedangkan Risiko merupakan besarnya penyimpangan atas keuntungan yang diharapkan karena adanya investasi terhadap keuntungan faktual. Semakin besar penyimpangannya berarti semakin besar tingkat risikonya. Keputusan apakah investasi akan dilaksanakan atau tidak sangat tergantung dari perbandingan antara return dan risiko.

Tinggi rendahnya sikap investor terhadap risiko bergantung kepada preferensi investor tersebut terhadap risiko. Berdasarkan tingkat preferensi investor terhadap risiko, maka risiko dibedakan menjadi tiga, yaitu: (1) investor yang menyukai risiko atau pencari risiko (risk seeker); (2) investor yang netral terhadap risiko (risk neutral); (3) investor yang tidak menyukai risiko (risk averter)

Selain mempertimbangkan return dalam mengambil keputusan investasi, investor juga perlu mempertimbangkan risiko, ada beberapa jenis risiko yang perlu dipertimbangkan antara lain: (1) risiko suku bunga; (2) risiko pasar; (3) risiko inflasi; (4) risiko bisnis; (5) risiko finansial; (6) risiko likuiditas dan (7) risiko nilai tukar mata uang.

Kegiatan Belajar 2: Risiko dan Pengembalian (Risk and Return)
Sesuai pengertian risiko, risiko diartikan sebagai penyimpangan dari apa yang diharapkan. Karena yang diharapkan dari investasi adalah return (pengembalian), maka biasanya risiko diukur dari variabilitas dari return-nya.

Dalam kaitan antara return dan risiko maka terdapat hubungan langsung antara harga dan tingkat pengembalian. Harga, P0, untuk setiap aset adalah sama dengan jumlah dari pembayaran kas yang diharapkan akan diterima investor yang didiskontokan pada tingkat pengembalian, r, yang diminta investor.

Investor dapat menginvestasikan dananya kepada investasi riil atau investasi finansial. Investasi finansial biasanya diujudkan dalam pembelian sekuritas. Sekuritas dapat diartikan sebuah dokumen yang mengidentifikasi hak atau klaim atas aset dan setiap aliran kas mendatang yang diperoleh perusahaan. Sedang portofolio merupakan sekumpulan dari sekuritas. Istilah sekuritas mempunyai pengertian yang luas. Tidak saja terbatas pada saham atau obligasi saja, surat pembelian mobil atau sertifikat tanah bisa masuk dalam pengertian sekuritas. Untuk itu dalam perhitungan tingkat pengembalian yang diharapkan dari saham individual dan tingkat pengembalian yang diharapkan dari portofolio akan berbeda hasilnya.

 

MODUL 3 : MODEL-MODEL KESEIMBANGAN

Kegiatan Belajar 1: Capital Asset Pricing Model
Hubungan antara return dan risiko dapat dikembangkan menjadi suatu model keseimbangan risiko-return. Model keseimbangan yang dapat dikembangkan adalah salah satunya dengan model Capital Asset Pricing Model (CAPM). Model CAPM dapat diformulasikan sebagai berikut.

E(Ri) = = RF + bi [E(RM) - RF].

Kegiatan Belajar 2: Pricing Theory Abritage
Arbitrage Pricing Theory (APT) mendasarkan diri atas prinsip hukum satu harga, yang menyatakan bahwa sekuritas yang mempunyai karakteristik yang sama, tidak akan bisa dihargai dengan harga yang berbeda. Tidak seperti Capital Asset Pricing Model (CAPM) yang menggunakan asumsi bahwa portofolio pasar merupakan portofolio yang efisien, APT tidak menggunakan asumsi apapun tentang portofolio pasar. APT hanya mengatakan bahwa tingkat keuntungan suatu saham dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu, yang jumlahnya bisa lebih dari satu.

Sayangnya teori ini tidak menjelaskan faktor-faktor apa yang mempengaruhi pembentukan harga sekuritas. Teknik statistik yang disebut sebagai factor analysis bisa dipergunakan untuk mengidentifikasikan berapa faktor yang terdapat dalam persoalan (dengan menggunakan input matriks koefisien korelasi), tetapi tidak menunjukkan apa faktor-faktor tersebut. Berbagai penelitian tentang aplikasi APT menunjukkan beberapa faktor yang dapat menjelaskan perubahan tingkat keuntungan. Meskipun demikian, beberapa penelitian dan mungkin menemukan faktor yang berbeda.

 

MODUL 4 : PENILAIAN SAHAM

Kegiatan Belajar 1: Penilaian Saham
Di dalam penentuan harga saham perlu mendasarkan atas estimasi arus kas yang akan diterima oleh pemilik saham tersebut. Arus kas tersebut terdiri dari dividen dan penjualan kembali saham tersebut. Apabila kita tidak mampu untuk menaksir arus kas tersebut dengan tepat, maka kemungkinan analisis kita salah, sehingga oleh karena itu kita akan selalu menanggung risiko. Karena sesungguhnya sangat sulit bagi seorang investor untuk dapat dengan tepat menaksir arus kas perusahaan tersebut.

Karena adanya kesulitan untuk menggunakan arus kas yang di-present value-kan dalam menentukan harga saham, maka muncul beberapa model penyederhanaan, adapun model penyederhanaan tersebut adalah sebagai berikut:
model diskonto dividen; model pertumbuhan nol;
model pertumbuhan konstan;
model pertumbuhan tidak konstan atau ganda;
model pendekatan PER.

Kegiatan Belajar 2: Pendekatan Penilaian Saham Lainnya
Di dalam penentuan harga saham perlu mendasarkan atas estimasi arus kas yang akan diterima oleh pemilik saham tersebut. Arus kas tersebut terdiri dari dividen dan penjualan kembali saham tersebut. Apabila kita tidak mampu untuk menaksir arus kas tersebut dengan tepat, maka kemungkinan analisis kita salah, sehingga oleh karena itu kita akan selalu menanggung risiko. Karena sesungguhnya sangat sulit bagi seorang investor untuk dapat dengan tepat menaksir arus kas perusahaan tersebut.

Karena adanya kesulitan untuk menggunakan arus kas yang di- present value-kan dalam menentukan harga saham, maka muncul beberapa model penyederhanaan, adapun model penyederhanaan tersebut adalah sebagai berikut:
model diskonto dividen; model pertumbuhan nol;
model pertumbuhan konstan;
model pertumbuhan tidak konstan atau ganda;
model pendekatan PER; dan
model pendekatan lainnya.

 

MODUL 5 : OBLIGASI

Kegiatan Belajar 1: Karateristik Obligasi
Obligasi dapat diterbitkan dengan beraneka ragam sifat atau karakter. Faktor yang terpenting dalam penentuan harga obligasi adalah tingkat bunga. Besarnya bunga atau interes yang diberikan, selain jangka waktu obligasi, akan mempengaruhi tingkat keuntungan (yield) yang diperoleh para investor. Bila tingkat bunga yang berlaku umum meningkat, maka tingkat harga obligasi akan menurun, bila hal-hal lain ceteris paribus (dianggap tidak terjadi perubahan).

Beberapa lembaga mungkin melakukan rating obligasi. Seperti halnya dilakukan oleh Standard & Poor (S & P) dan Moody’s di Amerika Serikat. Lembaga yang melakukan rating obligasi di Indonesia adalah PT. Pemerintah Efek Indonesia (Pefindo).

 

MODUL 6 : PENILAIAN OBLIGASI

Kegiatan Belajar 1: Penilaian Obligasi
Obligasi adalah surat berharga (biasanya berjangka panjang atau lebih dari satu tahun) yang diterbitkan oleh suatu perusahaan atau pemerintah. Pemilik obligasi akan menerima pembayaran sejumlah uang tertentu yang dibayarkan secara berkala (misalnya setiap tahun atau setiap 6 bulan), hal ini disebut coupon interest payment atau pembayaran bunga kupon.

Untuk obligasi dengan jumlah bunga tetap, jumlah pembayaran bunga adalah tetap dan ditentukan pada saat obligasi diterbitkan. Tingkat bunga kupon pada obligasi adalah jumlah pembayaran bunga kupon dibagi nilai nominal.

Sedangkan untuk obligasi yang bersifat floating atau mengambang, bunga obligasi tidak tetap tetapi berfluktuasi menyesuaikan dengan perubahan suku bunga pasar.

Penilaian obligasi dilakukan dengan pendekatan discounted cash flow mengatakan bahwa nilai obligasi adalah present value dari semua penerimaan akibat membeli obligasi.

Kegiatan Belajar 2: Tingkat Bunga Obligasi
Obligasi memiliki nilai nominal yang sering disebut sebagai par value. Par value ini merupakan nilai yang akan dibayar oleh penerbit obligasi kepada pemegang obligasi pada tanggal yang telah ditentukan di masa yang akan datang.

Seperti telah dijelaskan di modul sebelumnya bahwa obligasi merupakan aset finansial yang mempunyai beban tetap yang berupa biaya bunga bagi perusahaan yang mengeluarkan obligasi. Penerimaan bunga yang dibayarkan setiap tengah tahun akan berbeda apabila bunga dibayarkan setiap tahun.

Harga obligasi juga akan ditentukan oleh nilai intrinsik obligasi tersebut. Seperti telah dijelaskan di sebelumnya bahwa nilai intrinsik obligasi sangat terkait besarnya nilai r, yaitu tingkat keuntungan yang disyaratkan atau yield obligasi.

Hubungan antara yield dan harga obligasi menunjukkan adanya hubungan yang terbalik. Dari keempat keadaan yang menggambarkan hubungan antara yield dan harga obligasi kita dapat menyimpulkan bahwa harga obligasi akan berubah jika ada perubahan pada tingkat bunga pasar dan yield yang disyaratkan oleh investor dengan arah yang berlawanan.

Pengaruh perubahan tingkat bunga pasar terhadap harga obligasi, juga akan terkait dengan maturitas dari obligasi tersebut. Bila terjadi kenaikan (penurunan) tingkat bunga maka harga obligasi yang mempunyai maturitas lebih lama akan mengalami penurunan (kenaikan) harga yang lebih besar dibandingkan dengan obligasi yang mempunyai maturitas yang lebih pendek, ceteris paribus

 

MODUL 7 : SEKURITAS DERIVATIF

Kegiatan Belajar 1: Opsi
Opsi, sebagaimana instrumen sekuritas yang lain diatur oleh pemerintah melalui lembaga yang berwenang untuk mengaturnya (dalam hal ini oleh BAPEPAM). Untuk di Indonesia, Bapepam (Badan Pengawas Pasar Modal) mewakili pemerintah dalam mengawasi perkembangan pasar modal termasuk di dalamnya adalah opsi. Aktivitas opsi di pasar modal ada keterkaitan dengan aktivitas lain di pasar modal. Hal ini investor opsi mempengaruhi keputusan investasi investor. Strategi yang berbeda dapat dikembangkan dalam memperbesar keuntungan atau memperkecil risiko. Oleh karena itu biasanya investor (baik institusional maupun individual) memakai beberapa model untuk mencapai alternatif yang optimal. Biasanya investor di dalam strategi akan mempergunakan model yang dikembangkan oleh Blacks dan scholes. Namun demikian investor harus mengetahui keterbatasan dan kelemahan opsi. Dengan demikian investor akan dapat menentukan waktu yang tepat untuk memanfaatkan opsi dan strategi apa yang paling baik dan tepat agar dapat memperoleh keuntungan.

 

 

MODUL 8 : SEKURITAS DERIVATIF LANJUTAN

Kegiatan Belajar 1: Bukti (Right), Waran (Warrant), dan Obligasi Konversi (Convertible Bonds)
Berbagai jenis sekuritas yang diterbitkan di pasar modal dan diperdagangkan di bursa efek dapat dibagi menjadi berbagai kelompok, yaitu (1) saham, (2) sekuritas yang memberikan penghasilan tetap, dan (3) sekuritas yang bersifat derivatif. Pada bab ini dibicarakan konsep valuasi dan analisis sekuritas-sekuritas tersebut, yang meliputi saham, obligasi, sertifikat bukti right, opsi, waran, dan obligasi konversi..

Analisis saham dapat dilakukan dengan menggunakan dividend approach model (berdasarkan pada arus kas) ataupun dengan menggunakan pendekatan kelipatan laba (earnings multiplier). Model mana yang akan digunakan hendaknya dikaitkan dengan karakteristik saham-saham yang dianalisis. Apabila saham yang dianalisis selalu membagikan dividen dengan rasio payout yang sama, pertumbuhan dividennya relatif konstan karena sudah memasuki tahap maturity, penyederhanaan dividend approach model dengan menggunakan constant growth model dapat digunakan. Apabila rasio pembagian dividen diperkirakan akan berubah dari waktu ke waktu, pertumbuhan labanya bervariasi dari tahun ke tahun, model pertumbuhan lain perlu digunakan.

Analisis dapat dilakukan dengan membandingkan nilai intrinsik suatu saham dengan harga pasar saat ini, atau dapat juga dilakukan secara cross sectional. Analisis cross sectional berarti menilai kewajaran harga suatu saham relatif terhadap saham-saham lain yang dipilih dalam analisis. Kedua cara tersebut disebut analisis dengan memperhatikan faktor-faktor fundamental.

Meskipun demikian, terdapat pula analisis dengan mengandalkan pada pengamatan alas perubahan harga di waktu yang lalu. Cara semacam ini disebut analisis teknikal.

Untuk obligasi, faktor yang sangat menentukan adalah tingkat bunga. Kepekaan suatu obligasi terhadap perubahan tingkat bunga ditunjukkan oleh duration obligasi tersebut. Semakin besar duration-nya, semakin peka obligasi tersebut terhadap perubahan suku bunga.

Sertifikat bukti right menunjukkan hak untuk membeli saham dengan harga tertentu. Apabila dana yang diperoleh dari penerbitan right sewaktu dipergunakan hanya memberikan NPV = 0, maka pemodal tidak akan menderita kerugian ataupun memperoleh manfaat dari penerbitan bukti right. Pemodal akan bertambah kemakmurannya kalau dana yang dihimpun dengan right issue dapat digunakan dengan menghasilkan NPV positif.

Teori penentuan harga opsi menjelaskan bagaimana melakukan valuasi opsi. Teori ini juga berguna untuk membahas dan menaksir nilai warrant dan convertible bond. Warrant adalah opsi untuk membeli sejumlah saham biasa dengan harga tertentu. Biasanya warrant dijual bersama-sama obligasi, meskipun mungkin saja kedua instrumen keuangan diperjualbelikan secara terpisah. Convertible bonds merupakan obligasi yang bisa ditukar menjadi saham biasa. pemodal akan mengonversikan CB menjadi saham biasa kalau pada saat jatuh tempo harga saham lebih tinggi dan nilai normal CB.

Dengan memahami teori pembentukan harga opsi, jelaslah bahwa penawaran sekuritas-sekuritas yang berkarakteristik opsi bukanlah dilakukan dengan maksud merugikan pemodal. Memang benar bahwa pembeli opsi akan menanggung risiko yang lebih besar dari pembeli saham biasa. Meskipun demikian, risiko yang tinggi ini berarti bahwa kemungkinan menderita rugi atau memperoleh laba juga besar.

MODUL 9 : FUTURES

Kegiatan Belajar 1: Kontrak Futures
Futures menunjukkan kewajiban untuk melakukan sesuatu, dan bukan hak seperti dalam opsi. Meskipun futures mempunyai risiko yang sangat tinggi, sebenarnya sekuritas tersebut dapat dipergunakan untuk melakukan hedging, yang berarti justru memperkecil risiko. Hanya saja, selain untuk hedging, pemodal juga dapat berspekulasi dengan futures. Karena risiko sangat tinggi, maka spekulasi dengan futures akan mengakibatkan pemodal menanggung risiko yang sangat tinggi.

Penetapan harga kontrak futures dipengaruhi oleh beberapa faktor, untuk itu untuk menghitung harga futures perlu menggunakan asumsi, yaitu dijual pada pasar tunai, tingkat pengembalian pasti, jangka pengantaran pasti dan suku bunga pasti diketahui.

Dalam penentuan harga kontrak futures bisa saja harga futures tersebut dengan strategi apapun tidak mendatangkan laba arbitrase, Oleh karena itu, harga tersebut merupakan harga keseimbangan, karena harga futures di atas maupun di bawah nilai tersebut memungkinkan timbulnya laba arbitrase.

Harga teoritis futures dapat lebih tinggi daripada harga pasar tunai (pada premi) atau lebih rendah dari harga pasar tunai (pada diskonto), tergantung dari (r – y). Suku r – y, yang merupakan selisih antara biaya pendanaan dan hasil atas aktiva, disebut biaya pendanaan bersih. Biaya pendanaan bersih ini umumnya disebut juga biaya penyimpanan (cost of carry). Biaya penyimpanan positif berarti hasil yang diperoleh lebih besar dari biaya pendanaan; sedangkan biaya penyimpanan negatif menunjukkan adanya biaya pendanaan yang lebih besar daripada hasil yang diperoleh.

DAFTAR PUSTAKA

  • Brigham, Eugene F. and Joel F. Houston. (1999). Fundamentals of Financial Management. Harcourt, Forth Worth.
  • Elton and Gruber. (1995). Modern Portfolio: Theory and Investment Analysis. New York: Wiley.
  • Hanafi, Mamduh M. (2004). Manajemen Keuangan. Yogyakarta: BPFE.
  • Husnan, Suad. (2000). Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Yogyakarta: UPP AMP YKPN.
  • Tandelilin, Eduardus. (2001). Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio. Edisi
  • Halim, Abdul. (2005). Analisis Investasi. Jakarta: Salemba Emban Patria.
  • Frensidy, Budi. (2005). Matematika Keuangan. Jakarta: Salemba Emban Patria.
  • Atmaja, Lukas Setia. (2001). Manajemen Keuangan. Edisi Revisi, Yogyakarta: Andi.
  • Sunariyah. (2003). Pengantar Pengetahuan Pasar Modal. Edisi Ketiga, Yogyakarta: UPP AMP YKPN.
  • Frank J. Fabozzi. (1995). Manajemen Investasi. Buku Dua, Salemba Empat, Simon & Schustur (Asia) PT. Ltd. Prentice Hall.
  • Tandelilin, Eduardus. (2001). Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio, Edisi Pertama. Yogyakarta: BPFE.

 

Sumber : www.ut.ac.idfile jTriwiyanto