AKUNTANSI BIAYA
EKMA 4315
MATERI 1
METODE HARGA POKOK PESANAN
Perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan mengolah bahan baku menjadi produk jadi berdasarkan pesanan dari luar atau dari dalam perusahaan. Karakteristik usaha perusahaan tersebut adalah sebagai berikut:
1.Proses pengolahan produk terjadi secara terputus-putus. Jika pesanan yang satu selesai dikerjakan, proses produksi dihentikan dan mulai dengan pesanan berikutnya.
2.Produk dihasilkan sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan oleh pemesan. Dengan demikian antara pemesan yang satu dengan yang lainnya mempunyai variasi yang berbeda-beda.
3.Produksi ditujukan untuk memenuhi pesanan, bukan untuk memenuhi persediaan gudang.
Karakteristik Metode Harga Pokok Pesanan.
Karakteristik usaha perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan tersebut di atas berpengaruh terhadap pengumpulan biaya produksinya. Metode pengumpulan biaya produksi (metode harga pokok pesanan) yang digunakan dalam perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan adalah sebagai berikut:
1.Digunakan jika perusahaan memproduksi berbagai macam produk sesuai dengan spesifikasi pemesan dan setiap jenis produk perlu dihitung harga pokoknya secara individual.
2.Biaya produksi harus dipisahkan menjadi dua golongan pokok : biaya produksi langsung dan biaya produksi tak langsung.
3.Biaya produksi langsung terdiri dsri biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung, sedangkan biaya produksi tak langsung disebut dengan istilah biaya overhead pabrik(BOP)
4.Biaya produksi langsung diperhitungkan sebagai harga pokok pesanan tertentu berdasarkan biaya yang sesungguhnya terjadi, sedangkan biaya overhead pabrik diperhitungkan kedalam harga pokok pesanan berdasarkan tarif yang ditentukan dimuka.
5.Harga pokok per unit produk dihitung pada saat pesanan selesai diproduksi dengan cara membagi jumlah biaya produksi yang dikeluarkan untuk pesanan tersebut dengan jumlah unit produk yang dihasilkan dalam pesanan yang bersangkutan.
Rekening Kontrol Dan Rekening Pembantu.
Akuntansi biaya menggunakan banyak rekening pembantu untuk merinci biaya-biaya produksi. Rekening rekening pembantu (subsidiary accounts) ini dikontrol ketelitiannya dengan menggunakan rekening kontrol (controlling accont) di dalam buku besar. Rekening kontrol menampung catatan yang bersumber dari buku jurnal, sedangkan rekening pembantu digunakan untuk menampung catatan yang bersumber dari dokumen pembukuan. Hubungan antara rekening kontrol dan rekening pembantu dapat lah dilukiskan sebagai berikut.
Gambar 1
Rekening Kontrol dan Rekening Pembantu
Untuk mencatat biaya didalam akuntansi biaya digunakan rekening kontrol dan rekening pembantu berikut:
|
Rekening Kontrol |
Rekening Pembantu |
| Persediaan Bahan Baku
Persediaan Bahan Penolong Barang Dalam Proses Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Biaya Administrasi Dan Umum Biaya Pemasaran
|
Kartu Persediaan
Kartu Persediaan Kartu Harga Pokok Kartu Biaya Kartu Biaya Kartu Biaya
|
Karena transaksi terjadinya biaya yang dicatat dalam buku besar bersumber dari buku jurnal, maka dalam melaksanakan identifikasi transaksi yang terjadi, harus ditunjuk nama rekening yang harus didebit dan dikredit dalam buku besar. Oleh karena itu penggolongan transaksi pada waktu membuat jurnal selalu menyebut nama rekening yang bersangkutan dalam buku besar. Karena akuntansi biaya menggunakan berbagai rekening kontrol seperti tersebut di atas maka setiap melakukan penjurnalan harus ditunjuk rekening kontrol yang bersangkutan dalam buku besar.
Untuk mencatat biaya produksi , di dalam buku besar dibentuk rekening kontrol Barang Dalam Proses. Rekening ini dapat dipecah lebih lanjut menurut elemen harga pokok produk sehingga ada tiga macam rekening Barang Dalam Proses berikut ini:
Barang Dalam Proses-Biaya Bahan Baku
Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Langsung
Barang Dalam Proses- Biaya Overhead Pabrik
Jika produk diolah melalui beberapa departemen produksi, rekening Barang Dalam Proses dapat dirinci lebih lanjut menurut departemen dan unsur harga pokok seperti contoh berikut ini:
Barang Dalam Proses-Biaya Bahan Baku Departemen A
Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Langsung Departemen A
Barang Dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik Departemen A
Barang Dalam Proses-Biaya Bahan Baku Departemen B
Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Langsung Departemen B
Barang Dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik Departemen B
Untuk mencatat biaya produksi, dalam buku besar dibentuk rekening kontrol Biaya Administrasi Umum dan Biaya Pemasaran. Rekening Biaya Pemasaran digunakan untuk menampung biaya-biaya yang terjadi dalam fungsi pemasaran, sedangkan rekening Biaya Administrasi dan Umum digunakan untuk menampung biaya-biaya administrasi dan umum. Misalkan Anda mencatat pemakaian bahan baku untuk pembuatan suatu produk, maka jurnal yang dibuat adalah:
Barang Dalam Proses xx
Persediaan Bahan Baku xx
Jurnal untuk mencatat biaya depresiasi gedung:
Biaya Overhead Pabrik Sesunguhnya xx
Akumulasi Depresiasi Gedung xx
Jurnal untuk mencatat biaya telex:
Biaya Administrasi dan Umum xx
Kas xx
Jurnal untuk mencatat biaya depresiasi kendaraan yang digunakan bagian pemasaran:
Biaya Pemasaran xx
Akumulasi Depresiasi Kendaraan xx
Kartu Harga Pokok
Kartu harga pokok merupakan catatan yang penting di dalam metode harga pokok pesanan. Kartu harga pokok ini berfungsi sebagai rekening pembantu, yang digunakan untuk mengumpulkan biaya produksi tiap pesanan produk. Biaya produksi untuk mengerjakan pesanan tertentu dicatat secara terinci di dalam kartu harga pokok pesanan bersangkutan. Biaya produksi dipisahkan menjadi produksi langsung terhadap pesanan tertentu dengan biaya produksi tak langsung, dalam hubungannya dengan pesanan tersebut. Biaya produksi langsung dicatat dalam kartu harga pokok pesanan yang bersangkutan secara langsung, sedangkan biaya produksi tidak langsung dicatat dalam kartu harga pokok berdasarkan suatu tarif tertentu.
Untuk menggambarkan penggunaan metode harga pokok pesanan mari pelajari contoh berikut:
PT Eliona berusaha dalam bidang percetakan. Semua pesana diproduksi berdasarkan spesifikasi dari pemesan, dan biaya produksi dikumpulkan menurut pesanan yang diterima. Untuk dapat mencatat biaya produksi, tiap pesanan diberi nomor, dan setiap bukti pembukuan diberi identitas nomor pesanan yang bersangkutan. Dalam bulan Nov 2002 PT Eliona mendapat pesanan untuk mencetak undangan sebanyak 1500 lembar dari PT Rimendi. Harga yang dibebankan kepada pemesan tersebut adalah Rp 3000,- per lembar. Dalam bulan yang sama perusahaan juga menerima pesanan untuk mencetak pamflet iklan sebanyak 20.000 lembar dari PT Oki dengan harga yang dibebankan kepada pemesan sebesar Rp 1000,- per lembar . Pesanan dari PT Rimendi diberi nomor 101 dan pesanan dari PT Oki diberi nomor 102. Berikut ini adalah kegiatan produksi dan kegiatan lain untuk memenuhi pesanan tersebut.
1.Pembelian bahan baku dan bahan penolong pada tanggal 3 Nov perusahaan membeli bahan baku dan bahan penolong berikut ini :
Bahan baku:
Kertas jenis x 85 rim a Rp 10.000,- Rp 850.000,-
Kertas jenis y 10 roll a Rp 350.000,- Rp 3.500.000,-
Tinta jenis A 5 kg a Rp 100.000,- Rp 500.000,-
Tinta jenis B 25 kg a Rp 25.000,- Rp 625.000,-
———————
Jumlah bahan baku yang dibeli Rp5.475.000,-
———————
Bahan Penolong:
Bahan Penolong P 17 kg a RP 10.000,- Rp 170.000,-
Bahan Penolong Q 60 liter a Rp 5.000,- Rp 300.000,-
———————
Jumlah bahan penolong yang dibeli Rp 470.000,-
——————–
Jumlah total Rp 5.945.000,-
——————–
Perusahaan menggunakan dua rekening kontrol untuk mencatat persediaan bahan yaitu Persediaan Bahan Baku dan Persediaan Bahan Penolong, sehingga jurnal untuk mencatat pembelian bahan adalah :
Jurnal 1:
Persediaan Bahan Baku Rp 5.475.000,-
Utang Dagang Rp 5.475.000,-
Jurnal 2:
Persediaan Bahan Penolong Rp 470.000,-
Utang Dagang Rp 470.000,-
Untuk memproses pesanan no. 101 dan 102 bahan baku yang digunakan adalah sebagai berikut:
Bahan baku untuk pesanan no 101:
Kertas jenis x 85 rim a Rp 10.000,- Rp 850.000,-
Tinta jenis A 5 kg a Rp 100.000,- Rp 500.000,-
——————-
Jumlah bahan baku untuk pesanan 101 Rp1.350.000,-
——————
Bahan baku untuk pesanan 102:
Kertas jenis y 10 roll a RP 350.000,- Rp 3.500.000,-
Tinta jenis B 25 kg a Rp 25.000,- Rp 625.000,-
——————-
Jumlah bahan baku untuk pesanan no 102 Rp 4.125.000,-
——————
Jumlah bahan baku yang dipakai Rp 5.475.000,-
Sedangkan bahan penolong yang terpakai untuk memproses dua pesanan tersebut adalah sebagai berikut:
Bahan penolong P 10 kg a Rp 10,000,- Rp 100.000,-
Bahan penolong Q 40 ltr a Rp 5.000,- Rp 200.000,-
——————
Jumlah bahan penolong yang dipakai dalam produksi Rp 300.000,-
Jurnal untuk mencatat pemakaian bahan baku adalah sebagai berikut:
Jurnal 3:
Barang Dalam Proses Rp 5.475.000,-
Persediaan Bahan Baku Rp 5.475.000,-
Dan jurnal untuk mencatat pemakaian bahan penolong adalah sebagai berikut:
Jurnal 4:
Biaya Overhead Pbrik Sesungguhnya Rp 300.000,-
Persediaan Bahan Penolong Rp 300.000,-
Dari contoh di atas misalnya biaya tenaga kerja yang dikeluarkan oleh departemen produksi adalah sebagai berikut:
Upah langsung pesanan no 101 225 jam a Rp 4.000,- Rp 900.000,-
Upah langsung pesanan no 102 1.250 jam a Rp 4.000,- Rp 5.000.000,-
Upah tidak langsung Rp 3.000.000,-
——————–
Jumlah upah Rp 8.900.000,-
Gaji karyawan Administrasi dan umum Rp 4.000.000,-
Gaji karyawan bagian pemasaran Rp 7.500.000,-
——————-
Jumlah gaji Rp 11.500.000,-
——————–
Jumlah biaya tenaga kerja Rp 20.400.000,-
Pencatatan biaya tenaga kerja dilakukan melalui 3 tahap berikut ini:
a.Pencatatan biaya tenaga kerja yang terutang oleh perusahaan.
Jurnal 5:
Gaji dan Upah Rp 20.400.000,-
Utang Gaji dan Upah Rp 20.400.000,-
b.Pencatatan distribusi biaya tenaga kerja.
Jurnal 6:
Barang Dalam Proses Rp 5.900.000,-
BOP Sesungguhnya Rp 3.000.000,-
Biaya Administrasi dan Umum Rp 4.000.000,-
Biaya Pemasaran Rp 7.500.000,-
Gaji dan Upah Rp 20.400.000,-
c.Pencatatan pembayaran gaji dan upah.
Jurnal 7:
Utang Gaji dan Upah Rp 20.400.000,-
Kas Rp 20.400.000,-
Dari contoh diatas misalnya BOP dibebankan kepada produk atas dasar tarif sebesar 150% dari biaya tenaga kerja langsung. Dengan demikian BOP yang dibebankan kepada tiap pesanan dihitung sebagai berikut:
Pesanan no 101 150% x Rp 900.000,- Rp 1.350.000,-
Pesanan no 102 150% x Rp 5.000.000,- Rp 7.500.000,-
———————
Jumlah BOP yang dibebankan Rp 8.850.000,-
Jurnal untuk mencatat pembebanan biaya overhead pabrik kepada pesanan tersebut adalah sebagai berikut:
Jurnal 8:
Barang Dalam Proses Rp 8.850.000,-
BOP yang dibebankan Rp 8.850.000,-
Misalkan dari contoh diatas BOP sesungguhnya terjadi ( selain biaya bahan penolong Rp 300.000,- dan biaya tenaga kerja tak langsung sebesar Rp 3.000.000,- ) adalah:
Biaya depresiasi mesin Rp 1.500.000,-
Biaya depresiasi gedung pabrik Rp 2.000.000,-
Biaya asuransi gedung pabrik dan mesin Rp 700.000,-
Biaya pemeliharaan mesin Rp 1.000.000,-
Biaya pemeliharaan gedung Rp 500.000,-
——————-
Jumlah Rp 5.700.000,-
Pertanyaan untuk diskusi.
1.Bagaimana jurnal untuk mencatat BOP sesungguhnya?
2.Berapa selisih BOP? Menguntungkan apa tidak?
3.Jika pada akhir pereode pesanan no 101 selesai bagaimana jurnalnya?
4.Ternyata sampai akhir periode pesanan no 102 belum selesai jurnalnya bagaimana?
MATERI 2
BIAYA OVERHEAD PABRIK
Di dalam perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan, biaya overhead pabrik adalah biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya-biaya produksi yang termasuk dalam biaya overhead pabrik dapat dikelompokkan menurut sifatnya, menurut perilaku dalam hubungannya dengan perubahan volume produksi dan menurut hubungannya dengan departemen –departemen yang ada dalam pabrik.
Penggolongan Biaya Overhead Pabrik Menurut Sifatnya.
BOP menurut sifatnya dapat digolongkan sebagai berikut:
1.Biaya bahan penolong.
2.Biaya reparasi dan pemeliharaan.
3.Biaya tenaga kerja tak langsung.
4.Beban biaya yang timbul sebagai akibat penilaian terhadap aktiva tetap.
5.Beban biaya yang timbul sebagai akibat berlalunya waktu.
6.BOP lain yang secara langsung memerlukan pengeluaran uang tunai.
Penggolongan BOP menurut perilaku dalam hubungannya dengan perubahan volume produksi.
Ditinjau dari perilaku unsur-unsur BOP dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan, BOP dapat dibagi menjadi tiga golongan: BOP tetap, BOP variabel dan BOP semivariabel. Untuk keperluan penentuan tarif BOP dan untuk pengendalian biaya, BOP yang bersifat semivariabel dipecah menjadi dua unsur: biaya tetap dan biaya variabel.
Penggolongan BOP menurut hubungannya dengan departemen-departemen yang ada dalam pabrik.
Ditinjau dari hubungannya dengan departemen-departemen yang ada dalam pabrik, BOP dapat digolongkan menjadi dua kelompok: BOP langsung departemen (direct departemental overhead expenses) dan BOP tak langsung (indirect departemental overhead expenses)
Alasan Pembebanan BOP Produk Atas Dsar Tarif Yang Ditentukan Di Muka.
Alasan pembebanan BOP kepada produk atas dasar tarif di muka adalah sebagai berikut:
1.Pembebanan BOP atas dasar biaya yang sesungguhnya terjadi seringkali mengakibatkan berubah-ubahnya harga pokok yang dihasilkan dari bulan yang satu kebulan yang lain.Apabila BOP yang sesungguhnya terjadi dibebankan kepada produk maka harga pokok persatuan mungkin akan berfluktuasi karena:
a.adanya perubahan tingkat kegiatan produksi yang bersifat sementara.
b.adanya perubahan tingkat efisiensi produksi.
c.adanya BOP yang terjadinya secara sporadik, menyebar tidak merata selama setahun.
d.BOP tertentu sering terjadi secara teratur pada waktu-waktu tertentu.
2.Di dalam perusahaan yang menghitung harga pokok produknya dengan menggunakan metode harga pokok pesanan, manajemen memerlukan informasi harga pokok produk persatuan pada saat pesanan selesai dikerjakan. Padahal ada elemen BOP yang baru dapat diketahui pada akhir setiap bulan, atau akhir tahun.
Langkah-langkah Penentuan Tarif BOP.
Penentuan tarif BOP dilaksanakan melalui tiga tahap berikut ini:
1) menyusun anggaran BOP
2) memilih dasar pembebanan BOP kepada produk
3) menghitung tarif BOP.
Menyusun Anggaran BOP
Dalam menyusun anggaran BOP harus diperhatikan tingkat kegiatan ( kapasitas ) yang akan dipergunakan sebagai dasar penaksiran BOP. Ada tiga macam kapasitas yang dapat dipakai sebagai dasar pembuatan anggaran BOP: kapasitas praktis, kapasitas normal dan kapasitas sesungguhnya yang diharapkan. Penentuan kapasitas praktis dan kapasitas normal dapat dilakukan dengan menentukan lebih dulu kapasitas teoritis.
Kapasitas teoritis (theoritical capacity) adalah kapasitas pabrik atau suatu departemen untuk menghasilkan produk pada kecepatan penuh tanpa berhenti selama jangka waktu tertentu. Kapasitas praktis adalah kapasitas teoritis dikurangi dengan kerugian-kerugian waktu yang tidak dapat dihindari karena hambatan-hambatan intern perusahaan. Kapasitas normal (normal capacity) adalah kemampuan perusahaan untuk memproduksi dan menjual produknya dalam jangka panjang. Kapasitas sesungguhnya yang diharapkan (expected actual capacity) adalah kapasitas sesungguhnya yang diperkirakan akan dapat dicapai dalam tahun yang akan datang.
Kelemahan penggunaan kapasitas sesungguhnya.
a.Akan berakibat terjadinya perbedaan yang besar pada tarif BOP dari tahun ke tahun.
b.Sebagai akibat perubahan yang besar pada tarif BOP dari periode ke periode maka biaya-biaya akibat adanya fasilitas menganggur dikapitalisasikan dan diperhitungkan dalam harga pokok produk.
Memilih Dasar Pembebanan BOP.
Ada berbagai macam dasar yang dapat dipakai untuk membebankan BOP kepada produk antara lain adalah:
Satuan produk
Biaya bahan baku
Biaya tenaga kerja langsung
Jam tenaga kerja langsung dan
Jam mesin.
Faktor yang harus dipertimbangkan dalam memilih dasar pembebanan yang dipakai:
1.Jenis BOP yang dominan jumlahnya dalam departemen. Produksi.
2.Sifat-sifat BOP yang dominan tersebutdan eratnya hubungan sifat-sifat tersebut dengan dasar pembebanan yang akan dipakai.
Pembebanan BOP Kepada Produk , Pengumpulan BOP Sesungguhnya Dan Analisis Selisih BOP.
Contoh Soal.
PT Elionasari memiliki kapasitas normal 80.000 jam mesin.Anggaran BOP satu tahun adalah BOP variabel Rp 5.800.000,- dan BOP tetap Rp 5.400.000,- sehingga dapat dihitung tarif BOP variabel adal Rp 5.800.000,- : 80.000 jam mesin = Rp 72,50 per jam mesin. Tarif BOP tetap Rp 5.400.000,- : 80.000 jam mesin = Rp 67,50 per jam mesin.Jadi tarif BOP total adalah Rp 72,50 + Rp 67,50 = Rp 140,00 per jam mesin. PT Elionasari menerima 100 macam pesanan dan menghabiskan waktu pengejaan 75.000 jam mesin.dalam sertahun maka BOP yang dibebankan kepada produk adalah Rp 140,00 x 75.000 jam mesin = Rp 10.500.000,-. Maka jurnalnya adalah:
Barang Dalam Proses-BOP Rp 10.500.000,-
BOP yang dibebankan Rp 10.500.000,-
Misalnya dalam tahun tersebut BOP yang sesungguhnya terjadi adalah Rp 10.700.000,- yang terdiri dari BOP variabel Rp 5.300.000,- dan BOP tetap Rp 5.400.000,- sehingga selisih BOP adalah Rp 200.000,-( Rp10.700.000,- – Rp 10.500.000,-).
BOP kurang dibebankan Rp 200.000,- dapat dipecah ke dalam dua macam selisih sebagai berikut:
1Selisih Anggaran.(Budget variance)
Selisih anggaran (budget atau spending variance) menunjukkan perbedaan antara biaya yang seharusnya dikeluarkan atau terjadi dengan taksiran biaya yang seharusnya dikeluarkan menurut anggaran. Selisih anggaran dihitung sebagai berikut:
BOP sesungguhnya Rp 10.700.000,-
BOP tetap menurut anggaran RP 5.400.000,-
———————–
BOP variabel sesungguhnya Rp 5.300.000,-
BOP yang dibebankan (75.000 x Rp72,50 ) Rp 5.437.500,-
————————
Selisih anggaran Rp 137.500,- ( L)
2. Selisih Kapasitas ( Idle Capacity Variance)
Selisih kapasitas disebabkan karena tidak dipakainya atau dilampauinya kapasitas yang dianggarkan.Jumlah selisih kapasitas merupakan perbedaan antara BOP tetap yang dianggarkan dengan BOP tetap yang dibebankan kepada produk. Selisih kapasitas dapat dihitung sebagai berikut:
BOP tetap yang dianggarkan Rp 5.400.000,-
BOP tetap yang dibebankan kepada
Produk 75000 x Rp 67,50 Rp 5.062.500,-
_______________
Selisih kapasitas Rp 337.500,-
Pertanyaan : hitunglah selisih budget dan selisih kapasitas dengan cara lain.
Materi 3
Langkah –Langkah Penentuan Tarif
Biaya Overhead Pabrik (BOP) Per Departemen.
Langkah-langkah penentuan tariff BOP per departemen adalah sebagai berikut:
1. penyusunan anggaran BOP per departemen
2. alokasi BOP departemen pembantu ke departemen produksi
Ada dua macam metode alokasi BOP departemen pembantu yakni:
a) metode alokasi langsung;
b) metode alokasi bertahap, yang terdiri dari:
metode alokasi kontinyu,
metode aljabar,
metode urutan alokasi yang diatur.
3. perhitungan tariff pembebanan tariff BOP per departemen.
Penyusunan anggaran BOP per departemen dibagi menjadi empat tahap yakni:
- penaksiran BOP langsung departemen atas dasar kapasitas yang direncanakan untuk tahun anggaran.
- penaksiran BOP tak langsung departemen.
- distribusi BOP tak langsung departemen ke departemen-departemen yang menikmati manfaatnya.
- menjumlah BOP per departemen (baik BOP langsung maupun tak langsung departemen) untuk mendapatkan anggaran BOP per departemen (baik departemen produksi maupun departemen pembantu.
Contoh-contoh biaya tak langsung departemen dan dasar distribusi
Biaya tak langsung departemen dasar distribusi
Biaya depresiasi gedung meter persegi luas lantai
Biaya reparasi dan pemeliharaan gedung meter persegi luas lantai
Gaji pengawas departemen jumlah karyawan
Biaya angkut bahan baku biaya bahan baku
Pajak bumi dan bangunan (PBB) perbandingan harga pokok
aktiva tetap dalam tiap
departemen atau perbandingan
meter persegi luas lantai
Metode Alokasi Langsung
Dalam metode alokasi langsung BOP departemen pembantu dialokasikan ke tiap-tiap departemen produksi yang menikmatinya. Metode alokasi langsung digunakan apabila jasa yang dihasilkan oleh departemen pembantu hanya dinikmati oleh departemen produksi saja.
Contoh
PT Eliona Sari mengolah produknya melalui dua departemen produksi, yakni
Deptermen A dan Departemen B,
ditunjang oleh tiga departemen pembantu,: Departemen X, Departemen Y, dan Departemen Z.
Anggaran BOP per departemen untuk tahun 2003 adalah :
Departemen A Rp 2.175.000
Departemen B Rp 2.620.000
Departemen X Rp 771.000
Departemen Y Rp 1.445.000
Departemen Z Rp 369.000
jumlah Rp 7.380.000
Taksiran jasa departemen pembantu yang dipakai oleh departemen produksi dalam tahun 2003 tampak dalam tabel berikut ini:
Taksiran Pemakaian Jasa Departemen Pembantu
Oleh Departemen Produksi
PT. Eliona Sari
Taksiran Jasa Departemen-departemen Pembantu yang dipakai oleh
Departemen Produksi
Departemen Pembantu Departemen Produksi A Departemen Produksi B
Departemen Pembantu X 60% 40%
Departemen Pembantu Y 45% 55%
Departemen Pembantu Z 75% 25%
Dari data diatas maka dapat dilakukan alokasi BOP dari dept pembantu ke dept produksi sebagai berikut:
PT Eliona Sari
Alokasi BOP Departemen Pembantu ke Dapartemen Produksi
|
Keterangan |
Departemen Produksi |
Departemen Pembantu |
|||
|
A |
B |
X |
Y |
Z |
|
|
(rupiah) |
(rupiah) |
(rupiah) |
(rupiah) |
(rupiah) |
|
| Jumlah BOP |
2.175.000 |
2.620.000 |
771.000 |
1.445.000 |
369.000 |
| Alokasi BOP Dept. Z |
276.750 |
92.250 |
(369.000) |
||
| Alokasi BOP Dept. Y |
650.250 |
794.750 |
(1.445.000) |
||
| Alokasi BOP Dept. X |
462.600 |
308.400 |
(771.000) |
||
| Jumlah Alokasi |
1.389.600 |
1.195.400 |
0 |
0 |
0 |
| Jumlah BOP Dept. Produksi setelah menerima alokasi BOP dari Dept. Pembantu | |||||
|
3.564.600 |
3.815.400 |
||||
Cara menghitung alokasi BOP departemen Z ke departemen A dan B sebagai berikut:
276.750 diperoleh dari 75% X 369.000
92.250 diperoleh dari 25% X 369.000
selanjutnya silahkan anda menghitung sendiri, dan jika masih kurang jelas bisa bertanya melalui forum tanya jawab.
Metode Alokasi Aljabar.
Dalam metode alokasi aljabar, jumlah biaya tiap-tiap departemen pembantu dinyatakan dalam persamaan aljabar.
Contoh
BOP langsung dan tak langsung departemen-departemen pembantu dan produksi selama tahun 2003 anggarannya diperkirakan sebagai berikut:
Departemen Produksi
Departemen A Rp 9.000.000
Departemen B Rp15.000.000
Departemen Pembantu
Departemen X Rp3.000.000
Departemen Y Rp5.000.000
Jasa yang dihasilkan departemen pembantu dibagikan menurut proporsi sebagai berikut:
|
Jasa Departemen |
Dipakai |
|||
|
Departemen Pembantu |
Departemen Produksi |
|||
|
X |
Y |
A |
B |
|
| Jasa Dept. X |
- |
10% |
65% |
25% |
| Jasa Dept. Y |
20 |
- |
45% |
35% |
Dari contoh diatas, misalkan:
X = jumlah biaya dept X setelah menerima alokasi biaya dari dept Y.
Y = jumlah biaya dept Y setelah menerima alokasi biaya dari dept X
Sehingga diperoleh persamaan
X = 3.000.000 + 0,20Y
Y = 5.000.000 + 0,10X
Dua persamaan tersebut dapat diselesaikan lebih lanjut sebagai berikut:
X =3.000.000 + 0,20Y
X = 3.000.000 + 0,20 (5.000.000 + 0,10X)
X = 3.000.000 + 1.000.000 + 0,02X
X – 0,02 X = 3.000.000 + 1.000.000
0,98 X = 4.000.000
X = 4.000.000 / 0,98 = 4.081.633
Y = 5.000.000 + 0,10 X
= 5.000.000 + 408.163
Y = 5.408.163
Sehingga alokasi BOP dept pembantu ke dept produksi dilakukan seperti berikut ini:
Departemen Pembantu Departemen Produksi
_____________________________________________________
Departemen X Departemen Y Departemen A Departemen B
BOP langsung dan
Tak langsung
Dept Rp3.000.000 Rp5.000.000 Rp9.000.000 Rp15.000.000
Alokasi BOP
Dept X (Rp4.081.633) Rp 408.163 Rp2.653.061 Rp1.020.408
Alokasi BOP
Dept Y Rp1.081.632 (Rp5.408.163) Rp2.433.673 Rp1.892.857
______________________________________________________
Jumlah Rp 0 Rp 0 Rp14.086.734 Rp17.913.265
=========== ========= =========== ==========
Perhitungan:
2.653.061 = 65% x 4.081.633
1.020.408 = 25% x 4.081.633
2.433.673 = 45% x 5.408.163
1.892.857 = 35% x 5.408.163
Selebihnya silahkan Anda menghitung sendiri, selamat bekerja.
MATERI 4
BIAYA BAHAN BAKU DAN BIAYA TENAGA KERJA.
Sistem pembelian lokal bahan baku.
Transaksi pembelian bahan baku melibatkan bagian-bagian produksi, gudang, pembelian, penerimaan barang dan akuntansi. Bukti-bukti pembukuan yang dibuat dalam transaksi pembelian lokal bahan baku adalah: surat permintaan pembelian, surat order pembelian, laporan penerimaan barang dan faktur dari penjualan. Sistem pembelian lokal bahan baku terdiri dari:
1.Prosedur permintaan pembelian bahan baku
2.Prosedur order pembelian .
3.Prosedur penerimaan bahan baku.
4.Prosedur pencatatan penerimaan bahan baku di bagian gudang.
5. Prosedur pencatatan utang yang timbul dari pembelian bahan baku.
Biaya yang diperhitungkan dalam harga pokok bahan baku yang dibeli.
Biaya angkutan diperlakukan sebagai tambahan harga pokok bahan baku yang dibeli.
- Perbandingan kuantitas tiap jenis bahan baku yang dibeli.
Contoh :
Perusahaan membeli 3 macam bahan baku denganjumlah harga dalam faktur sebesar Rp500.000,00.Biaya angkutan yang dibayar untuk ketiga macam bahan baku tersebut adalah sebesar Rp300.000,00. Kuantitas masing-masing jenis bahan baku yang tercantum dalam faktur adalh bahan baku A = 400 kg; bahan baku B = 350 kg; bahan baku C = 50 kg; Pembagian biaya angkutan kepada tiap-tiap jenis bahan baku adalah sebagai berikut:
Berat Alokasi
_______________________ biaya angkutan
%
____________ __________________
Jenis kg (1) : 800 (2) x Rp 300.000,00
Bahan Baku ____________ _________________
(1) (2) (3)
_____________ ________ ___________ __________________
A 400 50,00 Rp 150.000,00
B 350 43,75 Rp 131.250,00
C 50 6,25 Rp 18.750,00
________ ___________ _________________
800 100,00 Rp 300.000,00
b.Perbandingan harga faktur tiap jenis bahan baku yang dibeli.
Contoh:
Perusahaan membeli 4 macam bahan baku dengan harga faktur tiap-tiap jenis bahan sebagai berikut: bahan baku A Rp 100.000, bahan baku B Rp 150.000, bahan baku C Rp 225.000, dan bahan baku D Rp 125.000. Biaya angkutan yang dikeluarkan untuk keempat jenis bahan baku tersebut, adalah sebesar Rp 48.000. Jika biaya angkutan tersebut dibagikan atas dasar perbandingan harga faktur tiap-tiap jenis bahan baku tersebut, harga pokok tiap jenis bahan baku akan dibebani dengan tambahan biaya angkutan sebesar Rp 0,08 ( Rp 48.000 : Rp 600.000). Pembagian biaya angkutan sebesar Rp 48.000 tersebut adalah sebagai berikut:
===============================================================
Pembagian Biaya Harga Pokok
Angkutan Bahan Baku
______________ ______________
Harga Faktur ( 1 ) x Rp 0,08
______________
Jenis Bahan Baku ( 1 ) ( 2 ) ( 1 ) + ( 2 )
_______________ ___________ ______________ ______________
A Rp 100.000 Rp 8.000 Rp 108.000
B Rp 150.000 Rp 12.000 Rp 162.000
C Rp 225.000 Rp 18.000 Rp 243.000
D Rp 125.000 Rp 10.000 Rp 135.000
___________ ______________ _______________
Rp 600.000 Rp 48.000 Rp 648.000
===============================================================
c.Biaya angkutan diperhitungkan dalam harga pokok bahan baku yang dibeli berdasarkan tarif yang ditentukan dimuka.
Jurnal untuk mencatata pembebanan biaya angkutan atas dasar tarif dan biaya angkutan yang sesungguhnya terjadi adalah sebagai berikut:
1.Pembebanan biaya angkutan kepada bahan baku yang dibeli atas dasar tarif yang ditentukan dimuka adalah sebagai berikut:
Persediaan bahan baku xx
(Tarif biaya angkutan x dasar pembebanan)
Biaya angkutan xx
2.Pencatatan biaya angkutan yang sesungguhnya dikeluarkan adalah sebagai berikut:
Biaya angkutan xx
Kas xx
3.Jurnal apabila terdapat selisih biaya angkutan yang dibebankan atas dasar tarif dengan biaya angkutan yang sesungguhnya:
Persediaan bahan baku xx
Persediaan bahan dalam proses xx
Persediaan produk jadi xx
Harga pokok penjualan xx
Biaya angkutan xx
Elemen Biaya yang diperhitungkan dalam harga pokok bahan baku yang diimpor.
Dalam perdagangan luar negeri , harga barang yang disetujui bersama antara pembeli dan penjual akan mempengaruhi biaya-biaya yang menjadi tanggungan pembelian bahan baku . Bahan baku dapat diimpor dengan syarat harga free alongside ship (FAS), free on board (FOB), cost and freight (C & F), atau cost insurance and freight ( C. I & F ).Pada harga C & F pembeli menanggung biaya asuransi laut , penjual menanggung biaya angkutan lautnya. Pada harga C. I & F, pembeli hanya menanggung biaya-biaya untuk mengeluarkan bahan baku dari pelabuhan pembeli, dan biaya-biaya lain sampai dengan barang tersebut diterima digudang pembeli. Dalam harga C.I & F biaya angkutan laut beserta asuransi lautnya sudah diperhitungkan oleh penjual dalam harga barang.
Harga pokok bahan baku yang diimpor terdiri dari:
Harga FOB Rp xx
Angkutan laut ( ocean freight ) xx
_____
Harga C & F Rp xx
Biaya asuransi (marine insurance) xx
______
Harga C. I & F Rp xx
Biaya-biaya bank xx
Bea masuk dan biaya pabean lainnya xx
Pajak penjualan impor xx
Biaya gudang xx
Biaya ekspedisi muatan kapal laut xx
Biaya transport local xx
_______
Harga pokok bahan baku Rp xx
Penentuan Harga Pokok Bahan Baku.
MATERI 5
METODE HARGA POKOK PROSES
I. metode harga pokok proses diolah melalui lebih dan satu departemen produksi.
Contoh:
PT. elina sari memiliki dua departemen produksi : departemen A dan departemen B, untuk menghasilkan produksinya, data produksi dan biaya produksi kedua departmen tersebut untuk bulan September 2004 adalah sebagai berikut:
Dep A Dep B
Dimasukan dalam proses 35.000
Produk selesai yg di transfer ke dep.B 300.000
Produk selesai yg di transfer ke gol 24.000
Produk dalam proses akhir bulan 5.000 6.000
Biaya yg dikeluarkan bulan Sept.2004
Biaya bahan baku 70.000 ———
Biaya tenaga kerja 155.000 170.000
Biaya overhead pabrik 248.000 405.000
Tuigkul penyelesaian produk
Dalam proses akhir
Biaya bahan baku 100%
Biaya konversi 20% 30%
- perhitungan harga pokok produk di departemen A. untuk menghitung harga pokok produk selesai dep. A yg di transfer ke dep. B dan harga pokok produk dalam proses di dep. A pada akhir bulan Sept.2004 perlu dilakukan perhitungan biaya persatuan yang dikeluarkan oleh dep.A dlm bulan Ybs.
Untuk menghitung biaya persatuan yg di keluarkan oleh dep.A tersebut, perlu di hitung unit yg equivalensi tiap biaya produksi dep.A dalam bulan Sept.2004 dengan cara sebagai berikut:
- biaya bahan baku.
- unit yang equivalensi : ( 30.000) + ( 5.000×100%) = 35.000
produk yg ditransfer ke Dep.B = 30.000
produk dalam proses 5000×100% = 5.000
_________
35.000
- biaya per unit = 70.000 : 35.000 = 2
- unit equivalent :
- biaya konversi
produk yang ditransfer ke Dpe.B = 30.000
produk dalam proses 5.000 x 20% = 1.000
_____
31.000
biaya TEK per unit = 155.000 : 31.000 = 5
biaya overhead pabrik = 248.000 : 31.000 = 8
setelah biaya per unit dihitung, harga pokok produk selesai yang ditransfer oleh Dep.A ke Dep.B dan harga pokok produk dlm proses di Dep.A pada akhir bulan Sep.2004 dapat di hitung SBB :
HP. Produk selesai yang
Ditransfer ke Dep.B : 30.000x 15 = 450.000
HP. Modul dalam proses akhir
B.BB = 100% x 5.000 x 2 = 10.000
B.TK = 20% x 5.000 x 5 = 5.000
B.OP = 20% x 5.000 x 8 = 8.000
———–
= 23.000
jual biaya produksi Dep.A bulan Spe.2004 473.000
dari perhitungan di atas dapat di buat laporan biaya produksi seperti berikut:
PT. Elina Sari
Laporan biaya produksi Dep.A
Bulan Sep.04
Data produksi
Dimasukan dalam proses 35.000 unit
Produk jadi yang di transfer ke gudang 30.000 unit
Produk dalam proses akhir 5.000 unit
Jual produk yang di hasilkan 35.000 unit
Biaya yg di bebaskan Dep.A
Dalam bulan Sep.04
Total Per Unit
Biaya bahan baku 70.000 2
Biaya tenaga kerja 155.000 5
Biaya overhead pabrik 248.000 8
473.000 15
perhitungan biaya
harga pokok produk jadi yang di transfer
ke Dep.B = 30.000 x 15 = 450.000
HP. Produk dalam proses akhir
Biaya bahan baku = 10.000
Biaya tenaga kerja = 5.000
Biaya overhead pabrik = 8.000
= 23.000
jual biaya produk yg baku Dep.A 473.000
A. jurnal pencatatan biaya produksi departemen A
1. BDP – biaya bahan baku Dep. A rp.70.000
persediaan bahan baku rp. 70.000
( ul mencatat biaya bahan baku )
2. BDP – biaya tenaga kerja Dep.A rp.155.000
gaji dan upah rp. 155.000
( ul mencatat biaya tenaga kerja )
3. BDP – biaya overhead pabrik Dep.A rp. 248.000
berbagai rekening yg di kredit rp. 248.000
( ul mencatat BOP )
4. BDP – biaya bahan baku Dep.B rp. 23
BDP – biaya bahan baku Dep.A
BDP – biaya tenaga kerja Dep.A
BDP – biaya overhead pabrik Dep. A
( ul mencatat HP produk yg ditransfer ke Dep.B )
5. persediaan produk dlm proses – Dep. A rp. 23.000
BDP – biaya bahan baku Dep. A rp. 10.000
BDP – biaya tenaga kerja Dep.A rp. 5.000
BDP – biaya overhead pabrik Dep.A rp. 8.000
( ul mencatat produk dalam proses yg belum selesai oleh Dep.A )
B. perhitungan kerja pokok produk di Dep.B
a. menghitung unit equivalensi
biaya tenaga kerja = 24.000+ ( 50%x 6.000 ) = 27.000
biaya overhead pabrik = 24.000+ ( 50%x 6.000) = 27.000
biaya per unit = BTK = 270.000: 27.000 = 10
BOP = 405.000: 27.000 = 15
b. menghitung HP. Produk yang ditransfer ke gudang dan HP. Produk dalam proses Dep;B yg belum selesai.
HP produk selesai yg di transfer ke gudang :
Harga pokok dari Dep.A = 24.000x 15 = 360.000
Biaya yg di tambahkan Dep.B = 24.000x 25 = 600.000
Jual HP produk jadi yg di transfer
Ke gudang = 24.000 x 40 = 960.000
Harga pokok produk dlm proses akhir
HP: dari Dep.A 6.000x 15 rp.90.000
Biaya yg di tambahkan Dep.B
BTK = 50%x 6.000 x 10 = 30.000
BOP = 50% x 6000x 15 = 45.000
Rp.75.000
Total HP produk dlm proses Dep.B = 165.000
Jual biaya produksi komulatif Dep.B = 1.125.000
II. pengaruh terjadinya produk hilang pada awal proses terhadap perhitungan harga pokok produk persatuan.
Contoh :
PT. Elina Sari memiliki dua departemen produksi untuk menghasilkan. produknya, Dep. A dan Dep.B, data produksi dan biaya produk kedua departemen tersebut untuk bulan januari 2004 adalah SBB:
________________________________________________________________________
Dep.A Dep.B
Produk yg dimasukan dalam proses 1000kg
Produk selesai ditransfer
Dep.B 700kg
Gudang 400kg
Produk dlm penyelesaian akhir dua tingkat
Penyelesaian SBB :
Biaya bahan baku dan penolong
200% , biaya konversi 40% 200kg
biaya bahan penolong 60%
biaya konversi 50% 100kg
produk hilang awal proses 100kg 200kg
data biaya produksi selama bulan januari 2004 adalah SBB:
Dep.A Dep.B
Biaya bahan baku 22.500
Biaya bahan penolong 26.100 16.100
Biaya tenaga kerja 35.100 22.500
Biaya overhead pabrik 46.800 24.750
Jual biaya produksi 130.000 63.350
Perhitungan harga pokok produk di Dep.A
Menghitung unit dan equivalensi
Jenis biaya unit equivalensi biaya produksi biaya per kg
B. bahan baku 700+(100%x200) = 900 Rp22.500 25
B . B penolong 700+(100%x200) = 900 Rp26.100 29
B. TK 700+( 40%x200) = 780 Rp35.100 45
B. OP 700+(40%x200) = 780 Rp46.800 60
Rp130.500 159
B. perhitungan HP produk selesai yg di transfer ke Dep.B dan produk dalam proses akhir Dep.A
Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke
Departemen B : 700 x Rp 159 Rp 111.300
Harga pokok produk dalam proses akhir bulan
( 200 kg )
biaya bahan baku
200kg x 100%x Rp 25 = Rp5.000
biaya bahan penolong
200kg x 100% x Rp29 = Rp5.800
biaya tenaga kerja
200kg x 40% x Rp 45 = Rp 3600
biaya overhead pabrik
200kg x 40% x Rp 60 = Rp 4.800
Rp 19.200
Jumlah biaya produksi departemen A Rp 130.500
Selanjutnya laporan biaya produksi Dep.A dan jurnal- jurnal yang diperlukan silahkan Anda buat sendiri dengan mengacu pada contoh yang ada di depan.
PRODUK HILANG PADA AWAL PROSES DI DEPARTEMEN SETELAH DEPARTEMEN PERTAMA
Produk yang hilang pada awal proses yang terjadi di departemen setelah departemen pertama mempunyai dua akibat terhadap ( 1 ) harga pokok per satuan produk yang berasal dari departemen sebelumnya dan ( 2 ) harga pokok per satuan yang ditambahkan dalam departemen dimana produk yang hilang tersebut terjadi. Penyesuaian perhitungan harga pokok per Kg produk yang berasal dari dept. A dihitung sebagai berikut.
Harga pokok per satuan produk yang berasal
Dari departemen A Rp. 111.300 : 700 Rp. 159,00
Harga pokok per satuan produk yang berasal dari
Departemen A setelah adanya produk
Yang hilang dalam proses di Departemen B
Sebanyak 200 Kg adalah Rp.111.300:
( 700 Kg – 200 Kg) Rp.222,60
penyesuaian harga pokok per satuan produk
yang berasal dari departemen A Rp. 63,60
perhitungan harga pokok produk per satuan yang ditambahkan di departemen B adalah sebagai berikut :
jumlah produk yang jumlah biaya biaya per Kg
dihasilkan oleh Dept. B produksi yang yang ditambah
( unit ekuivalensi ) ditambahkan di kan Dept. B
Dept. B
________________ ______________ ____________
jenis biaya 1 2 2:1
_________ ________________ ______________ ____________
biaya bahan 400Kg+60%x100Kg Rp.16.100 Rp. 35
Penolong = 460 Kg
Biaya tenaga 400 Kg+50%x100Kg Rp.22.500 Rp. 50
Kerja = 450 Kg
Biaya over 400 Kg+50%x100Kg Rp. 24.750 Rp. 55
Head pabrik = 450 Kg
Rp. 63.350 Rp.140
Perhitungan harga pokok produk selesai yang ditransfer ke gudang dan produk yang masih dalam proses pada akhir bulan dalah sebagai berikut
Harga pokok produk selesai yang di transfer
Ke gudang 400 Kg @ Rp. 362,60 Rp. 145.040,00
Harga pokok produk dalam proses akhir bulan ( 100 Kg )
Harga pokok dari Dept. A
100 Kg x Rp. 222,60 Rp. 22.260,00
biaya bahan penolong
100 Kg x 60% x Rp. 35 Rp 2.100,00
biaya tenaga kerja
100 Kg x 50% x Rp. 50 Rp. 2.500,00
biaya overhead pabrik
100 Kg x 50% x Rp 55 Rp 2.750,00
Rp 29.610,00
Rp 174.650,00
MATERI 6
Metode Harga Pokok Proses Tanpa Memperhitungkan
Persediaan Produk dalam Proses Awal
Metode Harga Pokok Proses Produk Diolah Melalui Lebih Dari Satu Departemen Produksi.
Jika produk diolah melalui dua departemen produksi maka yang pertama kita lakukan menghitung harga pokok produksi di departemen pertama yang nanti akan saya jelaskan cara menghitungnya. Setelah kita dapat kan harga pokok produksi di departemen pertama baru kita menghitung harga pokok di departemen ke dua.
Perhitungan biaya produksi di departemen ke dua adalah perhitungan yang bersifat komulatif. Karena produk jadi di departemen dua merupakan produk yang telah menyerap biaya dari departemen satu dan biaya departemen dua., sehingga harga pokok yang dihasilkan oleh departemen dua terdiri dari :
1. Biaya produksi yang dibawa dari departemen satu.
2. Biaya produksi yang ditambahkan dalam departemen dua
Contoh.
PT Eliona Sari memiliki dua departemen produksi : Departemen I dan Departemen II, untuk menghasilkan produknya. Data produksi dan biaya produksi kedua departemen tersebut untuk bulan April 2005 adalah sebagai berikut:
Departemen I Departemen II
Dimasukkan dalam proses 35.000 kg
Produk selasai yang ditransfer ke Dep.II 30.000 kg
Produk selesai yang ditransfer ke gudang 24.000 kg
Produk dalam proses akhir bulan 5.000 kg 6.000 kg
Biaya yang dikeluarkan bulan April 2005:
Biaya bahan baku Rp 70.000 -
Biaya tenaga kerja Rp 155.000 Rp 270.000
Biaya overhead pabrik Rp 248.000 Rp 405.000
Tingkat penyelesaian produk dalam
proses akhir :
Biaya bahan baku 100%
Biaya konversi 20% 50%
Perhitungan Harga Pokok Produk di Departemen I
Untuk menghitung harga pokok langkah yang kita lakukan adalah:
1. Menghitung unit ekuivalensi biaya produksi yaitu unit ekuivalensi bahan baku, unit ekuivalensi biaya tenaga kerja dan unit ekuivalensi biaya overhead pabrik.
2. Setelah unit ekuivalensi kita ketahui selanjutnya menghitung biaya produksi per unit.
3. Jika biaya per unit sudah kita dapatkan maka kita dapat menghitung harga pokok produk jadi yang ditransfer ke Departemen II dan menghitung harga pokok produk dalam proses akhir.
.Menghitung unit ekuivalensi.
a.Unit ekuivalensi bahan baku, terdiri dari produk yang ditransfer ke Dep II adalah 30.000 ditambah produk dalam proses akhir 5000 dengan tingkat penyelesaian bahan baku 100% yaitu 5000 x 100% sehingga bisa dihitung sebagai berikut:
Unit ek bahan baku = 30.000 + ( 5000 x 100% ) = 35.000
b.Unit ekuivalensi biaya tenaga kerja, biaya konversi meliputi biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik sehingga sekali kita menghitung kita dapatkan dua unit ekuivalensi yaitu unit ekuivalensi biaya tenaga kerja dan unit ekuivalensi biaya overhead pabrik. Cara menghitungnya adalah produkjadi 30.000 ditambah produk dalam proses akhir 5000 dengan tingkat penyelesaian 20% yaitu ( 5000 x 20%) = 1000 sehingga dapat dihitung sebagai berikut: 30.000 + ( 5000 x 20% ) = 31.000
Setelah unit ekuivalensi kita hitung selanjutnya kita hitung harga pokok perunit sebagai berikut:
Elemen Unit Biaya
Biaya Produksi Total Biaya Ekuivalensi per kg
( 1 ) ( 2 ) ( 3 ) ( 2 ) : ( 3 )
Bahan Baku Rp 70.000 35.000 RP 2
Tenaga Kerja Rp 155.000 31.000 Rp 5
Overhead Pabrik Rp 248.000 31.000 Rp 8
Total Rp 473.000 Rp 15
========== ======
Setelah biaya per unit dihitung , kita dapat menghitung harga pokok produk jadi yang ditransfer ke Dep II dan harga pokok produk dalam proses akhir sebagai berikut:
Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke Dep II:
30.000 x Rp 15 Rp 450.000
Harga pokok produk dalam proses akhir:
BBB: 5000 x 100% x Rp 2 = Rp 10.000
BTK: 5000 x 20% x Rp 5 = Rp 5.000
BOP: 5000 x 20% x Rp 8 = Rp 8.000
—————–
Rp 23.000
—————–
Jumlah biaya produksi Dep I bulan April 2005 Rp 473.000
Catatan:
BBB= Biaya Bahan Baku
BTK= Biaya Tenaga Kerja
BOP= Biaya Overhead Pabrik
Perhitungan tadi kemudian disajikan dalam laporan biaya produksi seperti berikut:
PT Eliona Sari
Laporan Biaya Produksi Departemen I
Bulan April 2005
Data Produksi
Dimasukkan dalam proses 35.000 kg
————-
Produk jadi yang ditransfer ke Dep II 30.000 kg
Produk dalam proses akhir 5.000 kg
————–
Jumlah produk yang dihasilkan 35.000 kg
========
Biaya yang dibebankan Departemen I bulan April 2005
Total Per kg
—————— ————
Biaya Bahan Baku Rp 70.000 Rp 2
Biaya Tenaga Kerja Rp 155.000 Rp 5
Biaya Overhead Rp 248.000 Rp 8
—————— ————
Rp 473.000 Rp 15
=========== =======
Perhitungan Biaya
Harga pokok produk jadi yang ditransfer ke Dep II
30.000 kg @ Rp 15 Rp 450.000
Harga pokok produk dalam proses akhir:
Biaya Bahan Baku Rp 10.000
Biaya Tenaga Kerja Rp 5.000
Biaya Overhead Pabrik Rp 8.000
—————-
Rp 23.000
—————-
Jumlah biaya produksi yang dubebankan Dep I bln April Rp 473.000
===========
Jurnal Pencatatan Biaya Produksi Departemen I
Untuk mencatata biaya yang terjadi dalam Departemen I dalam bulan April 2005 jurnal yang harus dibuat adalah sebagai berikut:
1 Jurnal untuk mencatat biaya bahan baku:
BDP – Biaya Bahan Baku dep I Rp 70.000
Persediaan Bahan Baku Rp 70.000
2. Jurnal untuk mencatat biaya tenaga kerja
BDP – Biaya Tenaga Kerja Dep I Rp 155.000
Gaji dan Upah Rp 155.000
3.Jurnal untuk mencatat biaya overhead pabrik
BDP – Biaya Overhead Pabrik Dep I Rp 248.000
Berbagai Rekening yang Dikredit Rp 248.000
4.Jurnal untuk mencatat harga pokok produk jadi yang ditransfer dari Dep I ke Dep II
BDP – Biaya Bahan Baku Dep II Rp 450.000
BDP-Biaya Bahan Baku Dep I Rp 60.000
BDP-Biaya Tenaga Kerja Dep I Rp 150.000
BDP-Biaya Overhead Pabrik Dep I Rp 240.000
Catatan
60.000 diperoleh dari 30.000 kg x Rp 2
150.000 diperoleh dari 30.000 kg x Rp 5
240.000 diperoleh dari 30.000 kg x Rp 8
5.Jurnal untuk mencatat harga pokok produk dalam proses akhir bulan April Dep I
Persediaan Produk Dalam Proses Dep I Rp 23.000
BDP-Biaya Bahan Baku Dep I Rp 10.000
BDP-Biaya Tenaga Kerja Dep I Rp 5.000
BDP-Biaya Overhead Pabrik Dep I Rp 8.000
Perhitungan Harga Pokok di Departemen II
Di Departemen II ini tidak ada pengeluaran biaya bahan baku, yang ada biaya tenega kerja (BTK) dan biaya overhead pabrik (BOP). Disini harga pokok yang dibawa dari Dep I merupakan biaya bahan baku Dep II.Unit ekuivalensi yang perlu dihitung hanya unit ekuivalensi biaya biaya konversi yang meliputi BTK dan BOP.
Perhitungan unit ekuivalensi.
Unit yang ditransfer ke gudang 24000 ditambah persediaan produk dal;am proses akhir 6000 dengan tingkat penyelesaian 50% ( 6000 x 50% ) sebagai berikut:
24000 + ( 6000 x 50% ) = 24000 + 3000 = 27000.
Selanjutnya perhitungan biaya per unit adalah sebagai berikut:
Elemen Biaya Prod Total Biaya Unit Ekuivalensi Biaya per Kg
——————————- ————————- ——————– —————-
Tenaga Kerja Rp 270.000 27.000 Rp 10
Overhead Pabrik Rp 405.000 27.000 Rp 15
———————– ————-
Total Rp 675.000 Rp 25
Setelah biaya per unit kita hitung selanjutnya kita hitung harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang dan harga pokok produk dalam proses akhir di Dep II
Harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang:
- Harga pokok dari Dep I : 24000 x Rp 15 = Rp 360.000
- Biaya yg ditambahkan di Dep II : 24000 x Rp 25 = Rp 600.000
—————–
Total harga pokok produk jadi yang ditransfer ke
Gudang : 24000 x Rp 40 Rp 960.000
Harga pokok produk dalam proses akhir
- Harga pokok dari Dep I: 6000 x Rp 15 = Rp 90.000
- Biaya yang ditambahkan Dep II:
BTK : 6000 x 50% x Rp 10 = Rp 30.000
BOP : 6000 x 50% x Rp 15 = Rp 45.000
—————-
= Rp 75.000
Total harga pokok produk dalam proses Dep II Rp 165.000
Jumlah biaya produksi komulatif Dep II Rp 1.125.000
Selanjutnya menyusun laporan harga pokok produksi, silahkan Anda susun sendiri dengan mencontoh laporan harga pokok produksi pada Dep I diatas atau dapat melihat BMP EKMA 4315 hal 6.13. Demikian juga jurnal nya Anda dapat mencontoh jurnal-jurnal pada Dep I diatas atau melihat di BMP EKMA 4315 hal 6.14
Pengaruh Terjadinya Produk Hilang Pada Awal Proses.
Bila ada produk hilang pada awal proses maka jika terjadi pada Dep I maka seluruh perhitungan sama seperti yang tadi kita bahas, hanya saja yang perlu diingat disini adalah bagaimana menghitung unit ekuivalensi. Untuk memudahkan mengingatnya saya sarankan jika produk hilang pada awal proses pada Dep I, dalam menghitung unit ekuivalensi abaikan jumlah unit yang hilang. Bila produk hilang terjadi pada awal proses di Dep II maka cara menghitung unit ekuivalensi disini juga sama abaikan jumlah yang hilang tapi yang perlu diingat adalah ada penyesuaian harga pokok produk jadi yang ditransfer dari Dep I ke Dep II.Untuk jelasnya pelajarilah contoh berikut:
Departemen I Departemen II
—————- ——————
Produk masuk dalam Proses 1000
Produk jadi ditransfer ke Dep II 700
Produk selesai ditransfer ke gudang 400
Produk dalam proses akhir
Biaya bahan baku 100%, biaya konversi 40% 200
Biaya konversi 50% 100
Produk yang hilang pada awal proses 100 200
Data biaya.
Biaya bahan baku Rp 22.500 -
Biaya tenaga kerja Rp 35.100 Rp 22.500
Biaya overhead pabrik Rp 46.800 Rp 24.750
————- ————-
Jumlah biaya produksi Rp 104.400 Rp 47.250
Perhitungan Harga Pokok Dep I
Tadi telah saya katakan bahwa abaikan jumlah yang hilang dalam menghitung unit ekuivalensi, oleh karena itu perhitungan harga pokok per unitnya akan nampak sebagai berikut:
Jenis biaya unit ekuivalensi biaya produksi biaya per unit
————– —————————————— —————— —————-
1 2 2: 1
—————————————— —————— —————-
BBB 700 + ( 200 x 100% )= 900 Rp 22.500 Rp 25
BTK 700 + ( 200 x 40% ) = 780 Rp 35.100 Rp 45
BOP 700 + ( 200 x 40% ) = 780 Rp 46.800 Rp 60
—————— —————
Rp 104.400 Rp 130
========== =========
Selanjutnya Hargapokok produk jadi yang ditransfer ke Dep II dan harga pokok produk dalam proses akhir dapat dihitung seperti berikut:
Harga pokok produk jadi yang ditransfer ke
Dep II : 700 x Rp 130 Rp 91.000
Harga pokok produk dalam proses akhir
BBB : 200 x 100% x Rp 25 = Rp 5.000
BTK : 200 x 40% x Rp 45 = Rp 3.600
BOP : 200 x 40% x Rp 60 = Rp 4.800
————–
Rp 13.400
—————
Jumlah biaya produksi Dep I Rp 104.400
Selanjutnya kita bahas bagaimana pengaruh produk hilang pada awal proses di Dep II, laporan harga pokok produksi dan jurnal jurnal yang diperlukan pada Dep I silahkan kerjakan sendiri sebagai latihan.
Perhitungan Harga Pokok Produk Dep II
Tadi telah saya katakan bahwa dalam menghitung unit ekuivalensi di Dep II abaikan jumlah produk yang hilang, tapi bagaimana pengaruhnya terhadap produk yang masuk dari dep I ke Dep II, ikutilah perhitungan berikut:
Jumlah yang ditransfer ke Dep II 700 unit dengan biaya per unit Rp 130 =
700 x Rp 130 = Rp 91.000
Tetapi di Dep II belum sempat disentuh barang tinggal 500 unit ( hilang 200 unit) sedangkan biaya yang telah dikeluarkan tetap Rp 91.000 sehingga sekarang harga pokok per unit menjadi : Rp 91.000 dibagi 500 = Rp 182. Jadi dari Dep I harga per unit Rp 130 sampai di Dep II harga menjadi Rp 182 per unit. Harga naik sebesar Rp 52 ( Rp 182 – Rp 130 ) hal ini karena ada produk hilang pada awal proses sebesar 200 unit.
Selanjutnya kita hitung biaya per unit yang ditambahkan di Dep II
Jenis biaya Unit ekuivalensi Jml biaya produksi Biaya per unit
————– ——————————————- ———————- —————-
1 2 2 ; 1
—————————————— ———————- —————
BTK 400 + ( 100 x 50% ) = 450 Rp 22.500 Rp 50
BOP 400 + ( 100 x 50% ) = 450 Rp 24.750 Rp 55
———————- ————–
Rp 47.250 Rp 105
============= ========
Perhitungan harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang dan produk dalam proses akhir seperti berikut:
Harga pokok produk jadi yang ditransfer ke
Gudang : 400 x ( Rp 182 + Rp 105 ) = 400 x Rp 287 = Rp 114.800
Harga pokok produk dalam proses akhir:
Harga pokok dari Dep I : 100 x Rp 182 = Rp 18.200
BTK = 100 x 50% x Rp 50 = Rp 2.500
BOP = 100 x 50% x Rp 55 = Rp 2.750
—————-
Rp 23.450
—————-
Rp 138.250
Selanjutnya laporan harga pokok produksi dan jurnal-jurnalnya Anda kerjakan sendiri dengan melihat contoh pada modul.
Pengaruh Produk Hilang Akhir Proses
Jika produk hilang terjadi pada akhir proses maka produk yang hilang dianggap telah menyerap biaya 100% oleh karena itu dalam menghitung unit ekuivalensi produk yang hilang perlakuannya sama demgan produk jadi.Pengaruh yang terjadi pada Dep I adalah pada produk jadi yang ditransfer ke Dep II, harga pokok produk jadi yang ditransfer ke Dep II meliputi harga pokok produk jadi dan produk yang hilang sedangkan jumlahnya adalah jumlah produk jadi saja sehingga harga pokok produk per unit yang ditransfer ke Dep II menjadi lebih tinggi. Demikian juga untuk Dep II dalam menghitung unit ekuivalensi prinsipnya sama dengan di Dep I dan penyesuaian harga pada produk jadi yang di transfer ke gudang. Untuk jelasnya mari kita pelajari contoh berikut:
Departemen I Departemen II
—————- ——————
Produk masuk dalam Proses 1000
Produk jadi ditransfer ke Dep II 700
Produk selesai ditransfer ke gudang 400
Produk dalam proses akhir
Biaya bahan baku 100%, biaya konversi 40% 200
Biaya konversi 50% 100
Produk yang hilang pada akhir proses 100 200
Data biaya.
Biaya bahan baku ( BBB ) Rp 22.500 -
Biaya tenaga kerja ( BTK ) Rp 35.100 Rp 22.500
Biaya overhead pabrik ( BOP ) Rp 46.800 Rp 24.750
————- ————-
Jumlah biaya produksi Rp 104.400 Rp 47.250
Perhitungan haega pokok produk di Dep I
Perhitungan harga pokok produk per unit di Dep I adalah sebagai berikut:
Jenis biaya Unit ekuivalensi Biaya Prod Dep I Biaya per unit
—————————————— ——————— —————–
1 2 2: 1
—————————————– ——————– —————-
BBB 700 + (200 x 100% ) + 100 = 1.000 Rp 22.500 Rp 22,5
BTK 700 + (200 x 40% ) + 100 = 880 Rp 35.100 Rp 39,89
BOP 700 + (200 x 40%) + 100 = 880 Rp 46.800 Rp 53,18
——————– —————
Rp 104.400 Rp 115,57
============ =========
Perhitungan harga pokok produk jadi yang ditransfer ke Dep II dan produk dalam proses akhir adalah seperti berikut:
Harga pokok produk jadi yang ditransfer ke Dep II:
700 x Rp 115,57 Rp 80.899
Harga pokok produk hilang akhir proses
100 x Rp 115,57 Rp 11.557
————–
Harga pokok produk jadi yang ditransfer ke
Dep II setelah adanya penyesuaian Rp 92.456
( harga per unit: 92.456 dibagi 700 = 132,08)
Harga pokok produk dalam proses akhir:
BBB: 200 x 100% x Rp 22,5 = Rp 4.500
BTK: 200 x 40% x Rp 39,89 = Rp 3.191,2
BOP: 200 x 40% x Rp 53,18 = Rp 4.254,4
——————
Rp 11.945,6
—————–
Jumlah biaya produksi Dep I Rp104.401,6
Catatan: jumlah seharusnya Rp 104.400 ada selisih Rp 1,6 pengaruh dari pembulatan angka.
Perhitungan Harga Pokok Pada Dep II
Perhitungan biaya per unit di Dep II
Jenis biaya Unit ekuivalensi Biaya Prod Dep II Biaya per unit
—————————————- ———————- —————–
1 2 2 : 1
————————————— ———————- —————–
BTK 400 + (100 x 50%) + 200 = 650 Rp 22.500 Rp 34,62
BOP 400 + (100 x 50%) + 200 = 650 Rp 24.750 Rp 38,08
———————- —————-
Rp 47.250 Rp 72,7
============= =========
Selanjutnya kita hitung harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang dan harga pokok produk dalam proses akhir.
Harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang:
Harga pokok dari Dep I: 400 x Rp 132,08 = Rp 52.832
Harga pokok yg ditambahkan Dep II: 400 x Rp 72,7 = Rp 29.080
Harga pokok produk hilang akhir proses
200 x ( Rp 132,08 + Rp 72,7 ) = Rp 40.956
——————-
Harga pokok produk jadi yang ditransfer ke
Gudang: 400 x Rp 307,17 = Rp 122.868
(122.868 dibagi 400 = 307,17 )
Harga pokok produk dal;am proses akhir:
Harga pokok dari Dep I: 100 x Rp 132,08 = Rp 13.208
BTK : 100 x 50% x Rp 34,62 = Rp 1.731
BOP : 100 x 50% x Rp 38,08 = Rp 1.904
—————-
Rp 16.843
————–
Jumlah biaya komulatif dalam Dep II Rp 139711
Catatan: jumlah seharusnya Rp 139.706 selisih Rp 5 karena adanya pembulatan.
MATERI 7
METODE HARGA POKOK PROSES TANPA MEMPERHITUNGKAN PERSEDIAAN PRODUK DALAM PROSES AWAL
Metode Harga Pokok Proses Produk Diolah Melalui Lebih Dari Satu Departemen Produksi.
Jika produk diolah melalui dua departemen produksi maka yang pertama kita lakukan menghitung harga pokok produksi di departemen pertama yang nanti akan saya jelaskan cara menghitungnya. Setelah kita dapat kan harga pokok produksi di departemen pertama baru kita menghitung harga pokok di departemen ke dua.
Perhitungan biaya produksi di departemen ke dua adalah perhitungan yang bersifat komulatif. Karena produk jadi di departemen dua merupakan produk yang telah menyerap biaya dari departemen satu dan biaya departemen dua., sehingga harga pokok yang dihasilkan oleh departemen dua terdiri dari :
3. Biaya produksi yang dibawa dari departemen satu.
4. Biaya produksi yang ditambahkan dalam departemen dua
Contoh.
PT Eliona Sari memiliki dua departemen produksi : Departemen I dan Departemen II, untuk menghasilkan produknya. Data produksi dan biaya produksi kedua departemen tersebut untuk bulan April 2005 adalah sebagai berikut:
Departemen I Departemen II
Dimasukkan dalam proses 35.000 kg
Produk selasai yang ditransfer ke Dep.II 30.000 kg
Produk selesai yang ditransfer ke gudang 24.000 kg
Produk dalam proses akhir bulan 5.000 kg 6.000 kg
Biaya yang dikeluarkan bulan April 2005:
Biaya bahan baku Rp 70.000 -
Biaya tenaga kerja Rp 155.000 Rp 270.000
Biaya overhead pabrik Rp 248.000 Rp 405.000
Tingkat penyelesaian produk dalam
proses akhir :
Biaya bahan baku 100%
Biaya konversi 20% 50%
Perhitungan Harga Pokok Produk di Departemen I
Untuk menghitung harga pokok langkah yang kita lakukan adalah:
4. Menghitung unit ekuivalensi biaya produksi yaitu unit ekuivalensi bahan baku, unit ekuivalensi biaya tenaga kerja dan unit ekuivalensi biaya overhead pabrik.
5. Setelah unit ekuivalensi kita ketahui selanjutnya menghitung biaya produksi per unit.
6. Jika biaya per unit sudah kita dapatkan maka kita dapat menghitung harga pokok produk jadi yang ditransfer ke Departemen II dan menghitung harga pokok produk dalam proses akhir.
.Menghitung unit ekuivalensi.
a.Unit ekuivalensi bahan baku, terdiri dari produk yang ditransfer ke Dep II adalah 30.000 ditambah produk dalam proses akhir 5000 dengan tingkat penyelesaian bahan baku 100% yaitu 5000 x 100% sehingga bisa dihitung sebagai berikut:
Unit ek bahan baku = 30.000 + ( 5000 x 100% ) = 35.000
b.Unit ekuivalensi biaya tenaga kerja, biaya konversi meliputi biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik sehingga sekali kita menghitung kita dapatkan dua unit ekuivalensi yaitu unit ekuivalensi biaya tenaga kerja dan unit ekuivalensi biaya overhead pabrik. Cara menghitungnya adalah produkjadi 30.000 ditambah produk dalam proses akhir 5000 dengan tingkat penyelesaian 20% yaitu ( 5000 x 20%) = 1000 sehingga dapat dihitung sebagai berikut: 30.000 + ( 5000 x 20% ) = 31.000
Setelah unit ekuivalensi kita hitung selanjutnya kita hitung harga pokok perunit sebagai berikut:
Elemen Unit Biaya
Biaya Produksi Total Biaya Ekuivalensi per kg
( 1 ) ( 2 ) ( 3 ) ( 2 ) : ( 3 )
Bahan Baku Rp 70.000 35.000 RP 2
Tenaga Kerja Rp 155.000 31.000 Rp 5
Overhead Pabrik Rp 248.000 31.000 Rp 8
Total Rp 473.000 Rp 15
========== ======
Setelah biaya per unit dihitung , kita dapat menghitung harga pokok produk jadi yang ditransfer ke Dep II dan harga pokok produk dalam proses akhir sebagai berikut:
Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke Dep II:
30.000 x Rp 15 Rp 450.000
Harga pokok produk dalam proses akhir:
BBB: 5000 x 100% x Rp 2 = Rp 10.000
BTK: 5000 x 20% x Rp 5 = Rp 5.000
BOP: 5000 x 20% x Rp 8 = Rp 8.000
—————–
Rp 23.000
—————–
Jumlah biaya produksi Dep I bulan April 2005 Rp 473.000
Catatan:
BBB= Biaya Bahan Baku
BTK= Biaya Tenaga Kerja
BOP= Biaya Overhead Pabrik
Perhitungan tadi kemudian disajikan dalam laporan biaya produksi seperti berikut:
PT Eliona Sari
Laporan Biaya Produksi Departemen I
Bulan April 2005
Data Produksi
Dimasukkan dalam proses 35.000 kg
————-
Produk jadi yang ditransfer ke Dep II 30.000 kg
Produk dalam proses akhir 5.000 kg
————–
Jumlah produk yang dihasilkan 35.000 kg
========
Biaya yang dibebankan Departemen I bulan April 2005
Total Per kg
—————— ————
Biaya Bahan Baku Rp 70.000 Rp 2
Biaya Tenaga Kerja Rp 155.000 Rp 5
Biaya Overhead Rp 248.000 Rp 8
—————— ————
Rp 473.000 Rp 15
=========== =======
Perhitungan Biaya
Harga pokok produk jadi yang ditransfer ke Dep II
30.000 kg @ Rp 15 Rp 450.000
Harga pokok produk dalam proses akhir:
Biaya Bahan Baku Rp 10.000
Biaya Tenaga Kerja Rp 5.000
Biaya Overhead Pabrik Rp 8.000
—————-
Rp 23.000
—————-
Jumlah biaya produksi yang dubebankan Dep I bln April Rp 473.000
===========
Jurnal Pencatatan Biaya Produksi Departemen I
Untuk mencatata biaya yang terjadi dalam Departemen I dalam bulan April 2005 jurnal yang harus dibuat adalah sebagai berikut:
1 Jurnal untuk mencatat biaya bahan baku:
BDP – Biaya Bahan Baku dep I Rp 70.000
Persediaan Bahan Baku Rp 70.000
5. Jurnal untuk mencatat biaya tenaga kerja
BDP – Biaya Tenaga Kerja Dep I Rp 155.000
Gaji dan Upah Rp 155.000
3.Jurnal untuk mencatat biaya overhead pabrik
BDP – Biaya Overhead Pabrik Dep I Rp 248.000
Berbagai Rekening yang Dikredit Rp 248.000
4.Jurnal untuk mencatat harga pokok produk jadi yang ditransfer dari Dep I ke Dep II
BDP – Biaya Bahan Baku Dep II Rp 450.000
BDP-Biaya Bahan Baku Dep I Rp 60.000
BDP-Biaya Tenaga Kerja Dep I Rp 150.000
BDP-Biaya Overhead Pabrik Dep I Rp 240.000
Catatan
60.000 diperoleh dari 30.000 kg x Rp 2
150.000 diperoleh dari 30.000 kg x Rp 5
240.000 diperoleh dari 30.000 kg x Rp 8
5.Jurnal untuk mencatat harga pokok produk dalam proses akhir bulan April Dep I
Persediaan Produk Dalam Proses Dep I Rp 23.000
BDP-Biaya Bahan Baku Dep I Rp 10.000
BDP-Biaya Tenaga Kerja Dep I Rp 5.000
BDP-Biaya Overhead Pabrik Dep I Rp 8.000
Perhitungan Harga Pokok di Departemen II
Di Departemen II ini tidak ada pengeluaran biaya bahan baku, yang ada biaya tenega kerja (BTK) dan biaya overhead pabrik (BOP). Disini harga pokok yang dibawa dari Dep I merupakan biaya bahan baku Dep II.Unit ekuivalensi yang perlu dihitung hanya unit ekuivalensi biaya biaya konversi yang meliputi BTK dan BOP.
Perhitungan unit ekuivalensi.
Unit yang ditransfer ke gudang 24000 ditambah persediaan produk dal;am proses akhir 6000 dengan tingkat penyelesaian 50% ( 6000 x 50% ) sebagai berikut:
24000 + ( 6000 x 50% ) = 24000 + 3000 = 27000.
Selanjutnya perhitungan biaya per unit adalah sebagai berikut:
Elemen Biaya Prod Total Biaya Unit Ekuivalensi Biaya per Kg
——————————- ————————- ——————– —————-
Tenaga Kerja Rp 270.000 27.000 Rp 10
Overhead Pabrik Rp 405.000 27.000 Rp 15
———————– ————-
Total Rp 675.000 Rp 25
Setelah biaya per unit kita hitung selanjutnya kita hitung harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang dan harga pokok produk dalam proses akhir di Dep II
Harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang:
- Harga pokok dari Dep I : 24000 x Rp 15 = Rp 360.000
- Biaya yg ditambahkan di Dep II : 24000 x Rp 25 = Rp 600.000
—————–
Total harga pokok produk jadi yang ditransfer ke
Gudang : 24000 x Rp 40 Rp 960.000
Harga pokok produk dalam proses akhir
- Harga pokok dari Dep I: 6000 x Rp 15 = Rp 90.000
- Biaya yang ditambahkan Dep II:
BTK : 6000 x 50% x Rp 10 = Rp 30.000
BOP : 6000 x 50% x Rp 15 = Rp 45.000
—————-
= Rp 75.000
Total harga pokok produk dalam proses Dep II Rp 165.000
Jumlah biaya produksi komulatif Dep II Rp 1.125.000
Selanjutnya menyusun laporan harga pokok produksi, silahkan Anda susun sendiri dengan mencontoh laporan harga pokok produksi pada Dep I diatas atau dapat melihat BMP EKMA 4315 hal 6.13. Demikian juga jurnal nya Anda dapat mencontoh jurnal-jurnal pada Dep I diatas atau melihat di BMP EKMA 4315 hal 6.14
Pengaruh Terjadinya Produk Hilang Pada Awal Proses.
Bila ada produk hilang pada awal proses maka jika terjadi pada Dep I maka seluruh perhitungan sama seperti yang tadi kita bahas, hanya saja yang perlu diingat disini adalah bagaimana menghitung unit ekuivalensi. Untuk memudahkan mengingatnya saya sarankan jika produk hilang pada awal proses pada Dep I, dalam menghitung unit ekuivalensi abaikan jumlah unit yang hilang. Bila produk hilang terjadi pada awal proses di Dep II maka cara menghitung unit ekuivalensi disini juga sama abaikan jumlah yang hilang tapi yang perlu diingat adalah ada penyesuaian harga pokok produk jadi yang ditransfer dari Dep I ke Dep II.Untuk jelasnya pelajarilah contoh berikut:
Departemen I Departemen II
—————- ——————
Produk masuk dalam Proses 1000
Produk jadi ditransfer ke Dep II 700
Produk selesai ditransfer ke gudang 400
Produk dalam proses akhir
Biaya bahan baku 100%, biaya konversi 40% 200
Biaya konversi 50% 100
Produk yang hilang pada awal proses 100 200
Data biaya.
Biaya bahan baku Rp 22.500 -
Biaya tenaga kerja Rp 35.100 Rp 22.500
Biaya overhead pabrik Rp 46.800 Rp 24.750
————- ————-
Jumlah biaya produksi Rp 104.400 Rp 47.250
Perhitungan Harga Pokok Dep I
Tadi telah saya katakan bahwa abaikan jumlah yang hilang dalam menghitung unit ekuivalensi, oleh karena itu perhitungan harga pokok per unitnya akan nampak sebagai berikut:
Jenis biaya unit ekuivalensi biaya produksi biaya per unit
————– —————————————— —————— —————-
1 2 2: 1
—————————————— —————— —————-
BBB 700 + ( 200 x 100% )= 900 Rp 22.500 Rp 25
BTK 700 + ( 200 x 40% ) = 780 Rp 35.100 Rp 45
BOP 700 + ( 200 x 40% ) = 780 Rp 46.800 Rp 60
—————— —————
Rp 104.400 Rp 130
========== =========
Selanjutnya Hargapokok produk jadi yang ditransfer ke Dep II dan harga pokok produk dalam proses akhir dapat dihitung seperti berikut:
Harga pokok produk jadi yang ditransfer ke
Dep II : 700 x Rp 130 Rp 91.000
Harga pokok produk dalam proses akhir
BBB : 200 x 100% x Rp 25 = Rp 5.000
BTK : 200 x 40% x Rp 45 = Rp 3.600
BOP : 200 x 40% x Rp 60 = Rp 4.800
————–
Rp 13.400
—————
Jumlah biaya produksi Dep I Rp 104.400
Selanjutnya kita bahas bagaimana pengaruh produk hilang pada awal proses di Dep II, laporan harga pokok produksi dan jurnal jurnal yang diperlukan pada Dep I silahkan kerjakan sendiri sebagai latihan.
Perhitungan Harga Pokok Produk Dep II
Tadi telah saya katakan bahwa dalam menghitung unit ekuivalensi di Dep II abaikan jumlah produk yang hilang, tapi bagaimana pengaruhnya terhadap produk yang masuk dari dep I ke Dep II, ikutilah perhitungan berikut:
Jumlah yang ditransfer ke Dep II 700 unit dengan biaya per unit Rp 130 =
700 x Rp 130 = Rp 91.000
Tetapi di Dep II belum sempat disentuh barang tinggal 500 unit ( hilang 200 unit) sedangkan biaya yang telah dikeluarkan tetap Rp 91.000 sehingga sekarang harga pokok per unit menjadi : Rp 91.000 dibagi 500 = Rp 182. Jadi dari Dep I harga per unit Rp 130 sampai di Dep II harga menjadi Rp 182 per unit. Harga naik sebesar Rp 52 ( Rp 182 – Rp 130 ) hal ini karena ada produk hilang pada awal proses sebesar 200 unit.
Selanjutnya kita hitung biaya per unit yang ditambahkan di Dep II
Jenis biaya Unit ekuivalensi Jml biaya produksi Biaya per unit
————– ——————————————- ———————- —————-
1 2 2 ; 1
—————————————— ———————- —————
BTK 400 + ( 100 x 50% ) = 450 Rp 22.500 Rp 50
BOP 400 + ( 100 x 50% ) = 450 Rp 24.750 Rp 55
———————- ————–
Rp 47.250 Rp 105
============= ========
Perhitungan harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang dan produk dalam proses akhir seperti berikut:
Harga pokok produk jadi yang ditransfer ke
Gudang : 400 x ( Rp 182 + Rp 105 ) = 400 x Rp 287 = Rp 114.800
Harga pokok produk dalam proses akhir:
Harga pokok dari Dep I : 100 x Rp 182 = Rp 18.200
BTK = 100 x 50% x Rp 50 = Rp 2.500
BOP = 100 x 50% x Rp 55 = Rp 2.750
—————-
Rp 23.450
—————-
Rp 138.250
Selanjutnya laporan harga pokok produksi dan jurnal-jurnalnya Anda kerjakan sendiri dengan melihat contoh pada modul.
Pengaruh Produk Hilang Akhir Proses
Jika produk hilang terjadi pada akhir proses maka produk yang hilang dianggap telah menyerap biaya 100% oleh karena itu dalam menghitung unit ekuivalensi produk yang hilang perlakuannya sama demgan produk jadi.Pengaruh yang terjadi pada Dep I adalah pada produk jadi yang ditransfer ke Dep II, harga pokok produk jadi yang ditransfer ke Dep II meliputi harga pokok produk jadi dan produk yang hilang sedangkan jumlahnya adalah jumlah produk jadi saja sehingga harga pokok produk per unit yang ditransfer ke Dep II menjadi lebih tinggi. Demikian juga untuk Dep II dalam menghitung unit ekuivalensi prinsipnya sama dengan di Dep I dan penyesuaian harga pada produk jadi yang di transfer ke gudang. Untuk jelasnya mari kita pelajari contoh berikut:
Departemen I Departemen II
—————- ——————
Produk masuk dalam Proses 1000
Produk jadi ditransfer ke Dep II 700
Produk selesai ditransfer ke gudang 400
Produk dalam proses akhir
Biaya bahan baku 100%, biaya konversi 40% 200
Biaya konversi 50% 100
Produk yang hilang pada akhir proses 100 200
Data biaya.
Biaya bahan baku ( BBB ) Rp 22.500 -
Biaya tenaga kerja ( BTK ) Rp 35.100 Rp 22.500
Biaya overhead pabrik ( BOP ) Rp 46.800 Rp 24.750
————- ————-
Jumlah biaya produksi Rp 104.400 Rp 47.250
Perhitungan haega pokok produk di Dep I
Perhitungan harga pokok produk per unit di Dep I adalah sebagai berikut:
Jenis biaya Unit ekuivalensi Biaya Prod Dep I Biaya per unit
—————————————— ——————— —————–
1 2 2: 1
—————————————– ——————– —————-
BBB 700 + (200 x 100% ) + 100 = 1.000 Rp 22.500 Rp 22,5
BTK 700 + (200 x 40% ) + 100 = 880 Rp 35.100 Rp 39,89
BOP 700 + (200 x 40%) + 100 = 880 Rp 46.800 Rp 53,18
——————– —————
Rp 104.400 Rp 115,57
============ =========
Perhitungan harga pokok produk jadi yang ditransfer ke Dep II dan produk dalam proses akhir adalah seperti berikut:
Harga pokok produk jadi yang ditransfer ke Dep II:
700 x Rp 115,57 Rp 80.899
Harga pokok produk hilang akhir proses
100 x Rp 115,57 Rp 11.557
————–
Harga pokok produk jadi yang ditransfer ke
Dep II setelah adanya penyesuaian Rp 92.456
( harga per unit: 92.456 dibagi 700 = 132,08)
Harga pokok produk dalam proses akhir:
BBB: 200 x 100% x Rp 22,5 = Rp 4.500
BTK: 200 x 40% x Rp 39,89 = Rp 3.191,2
BOP: 200 x 40% x Rp 53,18 = Rp 4.254,4
——————
Rp 11.945,6
—————–
Jumlah biaya produksi Dep I Rp104.401,6
Catatan: jumlah seharusnya Rp 104.400 ada selisih Rp 1,6 pengaruh dari pembulatan angka.
Perhitungan Harga Pokok Pada Dep II
Perhitungan biaya per unit di Dep II
Jenis biaya Unit ekuivalensi Biaya Prod Dep II Biaya per unit
—————————————- ———————- —————–
1 2 2 : 1
————————————— ———————- —————–
BTK 400 + (100 x 50%) + 200 = 650 Rp 22.500 Rp 34,62
BOP 400 + (100 x 50%) + 200 = 650 Rp 24.750 Rp 38,08
———————- —————-
Rp 47.250 Rp 72,7
============= =========
Selanjutnya kita hitung harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang dan harga pokok produk dalam proses akhir.
Harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang:
Harga pokok dari Dep I: 400 x Rp 132,08 = Rp 52.832
Harga pokok yg ditambahkan Dep II: 400 x Rp 72,7 = Rp 29.080
Harga pokok produk hilang akhir proses
200 x ( Rp 132,08 + Rp 72,7 ) = Rp 40.956
——————-
Harga pokok produk jadi yang ditransfer ke
Gudang: 400 x Rp 307,17 = Rp 122.868
(122.868 dibagi 400 = 307,17 )
Harga pokok produk dal;am proses akhir:
Harga pokok dari Dep I: 100 x Rp 132,08 = Rp 13.208
BTK : 100 x 50% x Rp 34,62 = Rp 1.731
BOP : 100 x 50% x Rp 38,08 = Rp 1.904
—————-
Rp 16.843
————–
Jumlah biaya komulatif dalam Dep II Rp 139711
Catatan: jumlah seharusnya Rp 139.706 selisih Rp 5 karena adanya pembulatan.
Inisiasi 8
PENENTUAN BIAYA STANDAR
Biaya produksi dapat dikelompokkan ke dalam biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik. Oleh karena itu penentuan biaya produksi standar meliputi penentuan: (1) biaya bahan baku standar, (2) biaya tenaga kerja langsung Standar, (3) biaya overhead pabrik standar.
1.Biaya Bahan Baku Standar.
Penentuan biaya bahan baku standar meliputi: (a) harga bahan baku standar, (b) kuantitas bahan baku standar. Kedua macam standar ini digunakan untuk menganalisis selisih biaya bahan baku yang timbul yaitu:
a) Selisih Harga Bahan Baku
Dihitung dengan rumus :
SHB = ( HS – HSt ) KS
SHB = selisih harga bahan baku
HS = harga beli sesungguhnya setiap unit bahan baku
KS = kuantitas sesungguhnya yang dibeli
HSt = harga beli standar setiap unit bahan baku
Jika HS > HSt maka SHB tidak menguntungkan
HS < HSt maka SHB menguntungkan.
b) Selisih Kuantitas Bahan Baku
Dihitung dengan rumus:
SKB = ( KS – KSt ) HSt
SKB = selisih kuantitas bahan baku
KS = kuantitas sesungguhnya yang dipakai
HSt = harga beli standar setiap unit bahan baku
KSt = kuantitas standar bahan baku.
2. Biaya Tenaga Kerja Langsung Standar
Penentuan biaya tenaga kerja langsung standar meliputi: (a) tarif upah langsung standar, (b) jam kerja langsung standar. Kedua macam standar ini digunakan untuk menganalisis selisih biaya tenaga kerja langsung yang timbul yaitu:
a) Selisih Tarif Upah Langsung dapat dihitung dengan rumus:
STU = ( TS – TSt ) JS
STU = selisih tarif upah langsung
TS = tarif upah langsung sesungguhnya setiap jam
JS = jam sesungguhnya untuk mengolah produk
TSt = tarif standar setiap jam upah langsung
Jika: TS > TSt maka STU tidak menguntungkan
TS < TSt maka STU menguntungkan
b) Selisih Efisiensi Upah Langsung (SEUL) dapat dihitung dengan rumus:
SEUL = ( JS – JSt ) TSt
Dimana:
SEUL = selisih efisiensi upah langsung
JS = jam sesungguhnya untuk mengolah produk
JSt = jam standar untuk mengolah produk
TSt = tarif standar setiap jam upah langsung
Jika JS > JSt maka SEUL tidak menguntungkan
JS < JSt maka SEUL menguntungkan
3. Biaya Overhead Pabrik
Biaya overhead pabrik digolongkan menjadi dua yaitu biaya overhead pabrik tetap dan biaya overhead variabel. Penentuan biaya overhead pabrik standar meliputi : (a) penentuan tarif biaya overhead pabrik standar untuk setiap satuan kapasitas, (b) penentuan satuan kapasitas yang diperlukan untuk mengolah satu unit produk.
Perbedaan antara biaya overhead pabrik sesungguhnya dengan biaya overhead pabrik standar dapat dianalisis dalam 3 macam metode analisis sebagai berikut:
a. Metode dua selisih
b. Metode tiga selisih
c. Metode empat selisih
a.Metode dua selisih
1) Selisih Terkendalikan dihitung dengan rumus:
ST = BOPS – { BTA + ( KSt x TV ) }
Atau
ST = BOPS – { ( KN x TT ) + ( KSt x TV ) }
Atau
ST = BOPS – AFKSt
Keterangan:
ST = selisih terkendalikan
BOPS = biaya overhead pabrik sesungguhnya
KN = kapasitas normal
KSt = kapasitas standar
TT = tarif tetap per unit
AFKSt = anggaran flessibel biaya overhead pabrik pada kapasitas standar
Jika : BOPS > AFKSt maka ST tidak menguntungkan
BOPS < AFKSt maka ST menguntungkan
2) Selisih volume dapat dihitung dengan rumus:
SV = AFKSt – ( KSt x T )
Atau
SV = ( KN – KSt ) TT
Ket:
SV = selisih volume
T = tarif total biaya overhead pabrik
Jika : KN > KSt maka SV tidak menguntungkan
KN < KSt maka SV menguntungkan
b. Metode tiga selisih
1) Selisih Anggaran bisa dihitung dengan rumus:
SA = BOPS – AFKS
Atau
SA = BOPS – { ( KN x TT ) + ( KS x TV )
Ket:
SA = selisih anggaran
KN = kapasitas normal
KS = kapasitas sesungguhnya
Jika BOPS > AFKS maka SA tidak menguntungkan
BOPS < AFKS maka SA menguntungkan
2) Selisih Kapasitas dapat dihitung dengan rumus:
SK = AFKS – ( KS x T )
Atau
SK = ( KN – KS ) TT
Ket:
SK = selisih kapasitas
AFKS = anggaran fleksibel BOP pada kapasitas sesungguhnya
Jika : KN > KS maka SK tidak menguntungkan
KN < KS maka SK menguntungkan
3) Selisih Efisiensi BOP
SEBOP = ( KS – KSt ) T
Ket:
SEBOP = selisih efisiensi BOP
KSt = kapasitas standar
Jika : KS > KSt maka SEBOP tidak menguntungkan
KS < KSt maka SEBOP menguntungkan
c.Metode Empat Selisih
Dalam metode empat selisih BOP digolongkan menjadi empat macam selisih yaitu: (1) selisih anggaran, (2) selisih kapasitas, (3) selisih efisiensi BOP variabel, (4) selisih efisiensi BOP tetap.Selisih anggaran dan selisih kapasitas sudah dibahas dan selanjutnya akan dibahas selisih efisiensi BOP variabel dan selisih efisiensi BOP tetap.
1) Selisih Efisiensi BOP variabel
SEBOPV = ( KS – KSt ) TV
Keterangan:
SEBOPV = selisih efisiensi BOP variabel.
Jika : KS > KSt maka SEBOPV tidak menguntungkan
KS < KSt maka SEBOPV menguntungkan
2) Selisih Efisiensi BOP Tetap
SEBOPT = ( KS – KSt ) TT
Keterangan:
SEBOPT = Selisih efisiensi BOP tetap
Jika : KS > KSt maka SEBOPT tidak menguntungkan
KS < KSt maka SEBOPT menguntungkan.
Kasus: Soal tes formatif 1 modul 9.
PT. AJUAVIVA. Kapasitas normal yang dimiliki 10.000 jam kerja langsung (JKL) atau sebanyak 2.500 unit produk.Biaya standar untuk mengolah satu unit produk adalah:Rp 150 yang terdiri dari:
Biaya bahan baku (BB) = 2 kg @ Rp 20 = Rp 40, Biaya tenaga kerja langsung (BTKL) = 4jam @ 12,5 = Rp 50 . Biaya overhead pabrik (BOP) = Rp 60 ( variabel = 4jam @ Rp 10 = Rp 40, tetap = 4jam @ Rp 5 = Rp 20 )
Data lain adalah:
- Produk yang diselesaikan selama bln itu 2.400 unit
- BB dibeli dengan kredit = 4.900 kg @ Rp19 = Rp 93.100
- BTKL bulan itu 9.550 jam @ Rp 12 = Rp 114.600
- BOP sesungguhnya Rp 145.000
- Penjualan produk selesai= 2.000 unit @ Rp 250 = Rp 500.000
- Biaya pemasaran Rp 50.000 dan biaya administrasi Rp 30.000
Buatlah analisis selisih BB, BTKL, dan BOP.
Penyelesaian:
- selisih bahan baku
SHB = (HS – HSt) KS = ( Rp 19 – Rp 20 ) 4900 = Rp 4.900 ( L )
SKB = (KS – KSt ) HSt = ( 4.900 – 4.800 ) Rp 20 = Rp 2.000 ( R )
- selisih BTKL
Selisih tarif upah (STU)
STU = (TS-TSt)JS = (Rp12 – Rp12,5) 9550 = Rp4775 ( L )
Selisih efisiensi upah langsung ( SEUL )
SEUL = ( JS – JSt ) TSt = ( 9550 – 9600 ) Rp12,5 =Rp 625 ( L )
- Selisih biaya overhead pabrik ( BOP )
1.Metode dua selisih
- Selisih terkendalikan ( ST )
ST = BOPS – AFKSt
= BOPS – { ( KN x TT ) + ( KSt x TV ) }
= Rp 145.000 – { ( 10.000 x Rp5 ) + ( 9600 x Rp 10 ) }
= Rp 145.000 – ( Rp 50.000 + Rp 96.000 ) = Rp 1.000 ( L )
- Selisih volume ( SV )
SV = ( KN – KSt ) TT = ( 10.000 – 9600 ) Rp 5 = Rp 2.000 ( R )
2. Metode tiga selisih.
- Selisih anggaran ( SA )
SA = BOPS – AFKS
= BOPS – { ( KN x TT ) + ( KS x TV ) }
= Rp 145.000 – { ( 10.000 x Rp 5 ) + ( 9550 x Rp 10 ) }
= Rp 145.000 – ( Rp 50.000 + Rp 95.500 ) = Rp 500 ( L )
- Selisih kapasitas ( SK )
SK = ( KN – KS ) TT
= ( 10.000 – 9550 ) Rp 5 = Rp 2.250 ( R )
- Selisih efisiensi BOP ( SEBOP )
SEBOP = ( KS – KSt ) T = ( 9550 – 9600 ) Rp 15 = Rp 750 ( L )
3. Metode empat selisih
- Sel;isih anggaran = Rp 500 ( L )
- Selisih kapasitas = Rp 2.250 ( R )
- Selisih efisiensi variabel ( SEBOPV )
SEBOPV = ( KS – KSt ) TV = ( 9550 – 9600 ) Rp 10 = Rp 500 ( L )
- Selisih efisiensi BOP tetap ( SEBOPT )
SEBOPT = ( KS – KSt ) TT = ( 9550 – 9600 ) Rp 5 = Rp 250 ( L )
Sumber : http://www.ut.ac.id – file jTriwiyanto


