TAP EKONOMI PEMBANGUNAN 2011.2

NASKAH UJIAN

TUGAS AKHIR PROGRAM (ESPA4500)

PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN

MASA UJIAN 2011.2

Kode Naskah  37; Tgl Ujian : Sabtu, 19-11-11

 

Bacaan 1

Harga Pangan Melonjak

 

YOGYAKARTA, -RIMANEWS- Dibalik keriuhan menyambut hari libur, ancaman krisis harga pangan dunia kian jelas terlihat. Harga bahan pangan pokok, seperti beras dan gandum, terus merangsek naik.

 

Harga gandum di Chicago Board of Trade (CBOT) untuk pengiriman kuartal I 2011 sudah mencapai 7,9625 sen dollar Amerika Serikat per bushel. Harga ini naik 12,22 persen dibandingkan harga sebelumnya yaitu 7,0950 sen dollar Amerika Serikat per bushel. Lonjakan harga ini dipicu turunnya produksi gandum di Australia, eksportir gandum nomor empat dunia. Menurutnya produksi gandum disebabkan oleh cuaca ekstrim yang terjadi akhir-akhir ini. ”Kenaikan harga gandum akan terus berlanjut pada tahun 2011”, prediksi Vince Peterson, Wakil Presiden Asosiasi Gandum Amerika Serikat, seperti dikutip Bloomberg.

 

Ketua Umum Asosiasi Pedagang Gula dan Terigu Indonesia (Apegti) Natsir Mansyur memastikan, lonjakan harga gandum dunia akan berdampak pada harga terigu di dalam negeri. Apalagi sejak pertengahan tahun 2010 Rusia juga menyetop ekspor gandum untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya. “Harga terigu dalam negeri akan naik 15-20 persen dari harga sekarang”, ujar Natsir. Sebelumnya akibat penghentian ekspor gandum oleh Rusia, harga terigu domestik sudah naik sekitar 2-3 persen.

 

Data Kementrian Perdagangan menunjukkan, akhir November 2010, harga terigu domestik Rp. 7.574,00 per kilogram, lebih mahal dari bulan Juni Rp, 7.482,00 per kilogram. Sama dengan terigu, harga beras juga terus naik. Merujuk data Perum Bulog, contohnya, harga beras IR-64 kualitas III naik menjadi sekitar Rp. 6.100,00 per kilogram.

 

Direktur Pelayanan Publik Perum Bulog, Sutono memperkirakan, harga beras akan terus naik  sampai dengan 2011. Gejolak harga pangan dunia nampaknya belum akan terhenti. Kondisi ini bisa mengancam stabilitas perekonomian Indonesia. Sebab kenaikan ini bisa memicu inflasi.

 

Sekretaris Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN), Syahrial Loetan menjelaskan, selama ini harga pangan domestik selalu mendorong laju inflasi. Bila ditambah kenaikan harga pangan dunia, laju inflasi tidak bisa terkendali. ”Meskipun pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, sedang inflasinya tinggi  maka pertumbuhan itu akan sia-sia.

 

JAKARTA-detikFinance- Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) memandang inflasi yang tidak terkendali menyebabkan kenaikan harga-harga kebutuhan pokok yang sangat memprihatinkan, seperti disampaikan oleh Ketua DPR-RI Marzuki Alie pada rapat paripurna DPR-RI Pembukaan Masa sidang III 2010-2011, ”Kenaikan harga -harga kebutuhan pokok sangat memperhatinkan seperti harga pangan dan komoditas pertanian DPR mendesak pemerintah dan BI untuk intensif mengelola sumber-sumber penyebab inflasi,” ujar Marzuki. Menurutnya tantangan perekonomian Indonesia di 2011 adalah berkaitan dengan pengendalian inflasi dan adanya lonjakan harga kebutuhan bahan pokok. Ia memandang inflasi taun 2010 saja sudah sangat jauh melampaui asumsi target inflasi di APBN 2010.

 

”Inflasi 2010 mencapai angka 6,96% jauh sekali melampaui target inflasi 5,3% yang ditetapkan dalam APBN”, jelasnya. ”Masalah ini jelas yang terkena dampaknya adalah rakyat kecil yang berpenghasilan rendahnya dan pas-pasan,” imbuhnya. Lebih jauh Marzuki mengatakan adanya inflasi yang tinggi nantinya mengakibatkan daya beli akan berkurang dan karena tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok maka kualitas hidup akan menurun.

 

PERTANYAAN :

Bedasarkan kasus pada PT. Merah Delima, maka analisislah :

1.      A. Berdasarkan pengertian inflasi, jelaskan indeks harga yang sering digunakan untuk mengukur inflasi. (Nilai 20)

B. Pada tahun 2010, laju inflasi yang terjadi sebesar 6,96%, menurut sifatnya termasuk kategori apa, Jelaskan ?. (Nilai 04)

 

2.      A. Menurut penyebabnya kondisi produksi dan harga gandum di Australia termasuk dalam jenis inflasi apa ? Jelaskan. (Nilai 06)

B.     Jelaskan dengan menggunakan grafik permintaan dan penawarn gandum, bagaimana kondisi pada no. 2A tersebut terjadi.

3.      A. Berdasarkan bacaan di atas menunjukkan bahwa permasalahan pangan akan dihadapi oleh semua negara, baik negara maju dan negara berkembang. Oleh karena pangan merupakan kebutuhan pokok masyarakat untuk menunjang kualitas hidupnya maka masyarakat harus mampu membelinya. Kenaikan harga pangan dunia akan menyebabkan daya beli masyarakat menurun dan semakin banyak yang masuk dalam kategori miskin. Jelaskan jenis kemiskinan apa yang akan terjadi pada kondisi ini.

B.     Indonesia termasuk negara Agraris, jelaskan cara penanggulangan kemiskinan dengan Model Pertumbuhan Berbasis Teknologi.

 

BACAAN II

PERMASALAHAN INDUSTRI DI INDONESIA

 

INFOINDONSIA, 30 Maret 2011-Industrialisasi di negara berkembang pada umumnya dilakukan sebagai upaya mengganti barang impor, dengan mencoba membuat sendiri komoditi-komoditi yang semula selalu diimpor. Mengalihkan permintaan impor dengan melakukan pemberdayaan produksi dari dalam negeri.

Strategi pertama yang dilakukan adalah pemberlakukan hambatan tarif terhadap impor produk-produk tertentu. Selanjutnya disusul dengan membangun industrik domistik untuk memproduksi barang-barang yang biasa di impor tersebut. Ini biasanya dilaksanakan melalui kerja sama dengan perusahaan-perusahaan asing yang terdorong untuk membangun industri di kawasan tertentu dan unit-unit usahanya di negara yang bersangkutan, dengan dilindungi oleh dinding proteksi berupa tarif. Selain itu, mereka juga diberi insentif-insentif seperti keringanan pajak , serta berbagai fasilitas dan rangsangan investasi lainnya. Untuk industri kecil yang baru tumbuh berutama di negara yang sedang berkembang. Industri yang baru dibangun belum memiliki kemampuan yang memadai untuk berkompetensi secara frontal dengan industri mapan dari negara-negara yang sudah maju. Industri negara maju sudah berada dijalur bisnisnya dalam waktu yang sudah lama dan sudah mampu melakukan efisiensi dalam proses-proses  produksinya. Mereka mempunyai informai dan pengetahuan yang cukup tentang optimisasi proses produksi, situasi dan karakteristik pasar, serta kondisi pasar tenaga kerja sehingga mereka mampu menjual produk yang berharga murah di pasar internasional tetapi masih tetap bisa menghasilkan keuntungan yang memadai.

 

Dibeberapa negara, para produsen domistik mereka tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik tanpa tarif, akan tetapi juga untuk ekspor ke pasar internasional. Hal ini bisa mereka lakukan karena mereka telah mampu menghasilkan produk tersebut dengan struktur biaya yang murah sehingga harga yang ditawarkan sangat kompetetif dan mampu bersaing di pasar luar negeri, maka banyak pemerintahan negara-negara dunia ketiga yang tertarik dan menerapkan strategi industrialisasi substitusi impor tersebut.

 

Beberapa ahli menilai penyebab utama dari kegagalan Indonesia dalam berindustri adalah karena industri Indonesia sangat tergantung pada impor sumber-sumber teknologi dari negara lain, terutama dari negara-negara yang telah maju dalam berteknologi dan berindustri. Ketergantungan yang tinggi terhadap impor teknologi ini merupakan salah satu faktor tersembunyi yang menjadi penyebab kegagalan dari berbagai sistem industri dan sistem ekonomi di Indonesia. Sistem industri Indonesia tidak memiliki kemempuan pertanggungjawaban dan penyesuaian yang mandiri. Karenanya sangat lemah dalam mengantisipasi perubahan dan tak mampu melakukan tindakan-tindakan pencegahan untuk menghadapi terjadinya perubahan tersebut. Tuntutan perubahan pasar dan persaingan antar industri secara global tidak hanya mencakup perubahan di dalam corak, sifat, kualitas dan harga dari komoditas yang diperdagangkan, tetapi juga tuntuan lain yang muncul karena berkembangnya idealisme masyarakat dunia terhadap hak azasi manusia, pelestarian lingkungan, liberalisasi perdagangan, dan sebagainya.

Gerak ekonmi Indonesia sangat tergantung pada arus modal asing yang masuk atau keluar Indonesia serta besarnya cadangan devisa yang terhimpun melalui perdagangan dan hutang luar negeri.

 

Kebijakan yang telah secara berkelanjutan ditermpuh tersebut, teramati tidak mampu membawa ekonomi Indonesia menjadi makin mandiri, bahkan menjadi tergantung pada :

  1. ketergantungan kepada pendapatan ekspor,
  2. ketergantungan pada pinjaman luar negeri,
  3. ketergantungan kepada adanya investasi asing,
  4. ketergantungan akan impor teknologi dari negara-negara industri.

 

PERTANYAAN :

  1. Berdasarkan bacaan diatas mengenai industri substitusi impor dan permasalahannya di Indonesia.
  2. Berkaitan dengan substitusi impor maka akan berbicara pula mengenai tariff hambatan non tarif.

A.     Jelaskan pengertian tarif dan dua macam tarif yang ada.

B.     Jelaskan efek ekonomi pemberian subsidi untuk mengurangi impor dengan menggunakan grafik.

Penting!

Kerjakanlah soal ujian ini dengan jujur, jika terbukti melakukan kecurangan /contek-mencontek selama ujian, Anda akan dikenai sanksi akademis berupa pengurangan nilai atau tidak diluluskan (diberi nilai E).

Apabila terbukti menggunakan JOKI pada saat ujian, semua mata kuliah yang ditempuh akan diberi nilai E.

Kiriman soal dari Sarah Leonufna

Peserta Ujian TAP 2011.2

Disalin sesuai aslinya oleh J.Triwiyanto, SE

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s